Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Tipu Daya Mama


__ADS_3

Selesai dari rumah sakit, amarah Bara semakin memuncak. Ia tak menyangka justru mamanya sendiri yang mencegah tim medis menyelidiki kasus kematian papa Bara. Bara pun berpikir, apa jangan-jangan mamanya lah yang sengaja membuat papanya banyak meminum obat sehingga over dosis, karena sakit hati telah diselingkuhi.


Namun, Haris tak sependapat dengan Bara. “Sepertinya tidak mungkin kalau mama kamu yang sengaja melakukan itu, Bar. Semarah apa pun beliau terhadap papa kamu, tidak mungkin tega membunuh suaminya sendiri. Aku rasa juga sepertinya tak mungkin papa kamu sengaja meminum obat yang terlalu banyak, apa lagi kondisinya masih sadar saat itu, bukannya beliau sempat mendamaikan mama kamu dan ibu Syara?”


Haris juga mengemukakan bahwa kemungkinan ada yang sengaja menukar obat papa Bara dengan obat yang berdosis tinggi, sehingga ia tidak tahu dan mengira obatnya sama saja.


“Kalau seandainya yang menukar obat itu adalah ibu Syara, tak mungkin mama kamu menutup kasusnya, sedangkan saat itu dia sangat marah bahkan membalas dendam pada ibu Syara,” lanjut Haris yang tengah berpikir keras akan kejanggalan persoalan ini.


“Mama juga tak mungkin yang melakukannya karena mama sedendam ini pada ibu Syara hingga ingin meneruskannya pada Syara. Kalau bukan karena sakit hati akan kematian papa, mama tak akan sebengis ini ingin membalaskan dendamnya,” ucap Bara yang juga memberikan pendapatnya.


Tiba-tiba Haris teringat Om Gustav yang pernah mengatakan penyebab kematian kakaknya adalah karena keracunan obat, over dosis karena meminum banyak obat serta meminum obat yang tak boleh diminum secara bersamaan. Ini jelas berbeda dengan keterangan dari petugas rumah sakit. Haris meminta Bara untuk menanyakan pada mamanya tentang siapa yang mengurus surat kematian dari rumah sakit.


Bara segera menghubungi mamanya untuk menanyakan apa yang disampaikan Haris.


“Bar, bukan kah Om Gustav bekerja di perusahaan farmasi ya?” tanya Haris memastikan dugaaan tahap awalnya benar.


Bara mengangguk. “Kamu menuduh Om Gustav yang menukar obat papaku?”


Haris menjelaskan bahwa kemungkinan itu bisa saja terjadi, mengingat Om Gustav pernah mendapat penolakan dari papa Bara untuk bergabung di perusahaan kakaknya itu.


“Motif sakit hati mungkin? Lagi pula juga kamu pernah mencurigai keberadaan Om Gustav di rumah kamu yang seharusnya ia tak ada,” imbuh Haris mencoba mengaitkan fakta-fakta yang ada.


Bara tampak berpikir keras. “Ah, pusing kepalaku, Har memikirkannya.


Haris mengajak Bara kembali ke apartemennya. Haris juga melarang Bara untuk membicarakan tentang hal ini pada mamanya. Mereka harus mencari tahu kebenarannya dahulu agar tak salah langkah.

__ADS_1


###


Mama Bara kembali menghubungi Bara agar mau pulang ke rumah. Setelah berdiskusi dengan Syara, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Bara juga meminta Haris untuk tetap mendampinginya memecahkan kasus yang sedang mereka selidiki.


Keesokan paginya, Bara yang telah tiba di rumahnya, mendapat sambutan hangat oleh sang mama.


“Akhirnya anak Mama pulang juga, kita sarapan bareng yuk,” ajak mama Bara.


Dengan mimik muka datar, Syara menuju ke meja makan bersama Bara.


Mama Bara juga mengucapkan permintaan maaf kepada menantunya itu dan mengatakan sudah tak memiliki dendam padanya.


“Waktu itu Mama juga mengatakan kalau dendamnya Mama sudah selesai, namun ternyata belum,” ucap Syara tak ingin mempercayai mertuanya lagi.


Ingin rasanya ia mengungkit soal penyebab kematian ibunya yang terjadi karena ulah mertuanya, namun seakan sudah tak ada gunanya.


“Sekali lagi Bara melihat Mama menyakiti Syara, kami akan benar-benar pergi dari sini,” tegas Bara memperingatkan sang mama.


Selesai sarapan, Bara berpamitan pada istri dan mamanya untuk berangkat ke kantor. Ia pun meminta Syara untuk beristirahat di kamar. Tak lupa, Bara juga mengingatkan agar sang mama tak nekat melakukan hal buruk apa pun kepada Syara.


Saat Syara akan menaiki tangga, mama Bara memanggilnya. “Setelah ibu kamu merebut papa Bara, sekarang kamu mau mengambil Bara dari Mama? Hebat kamu ya! Ibu sama anak sama saja! Sama-sama perebut!”


Syara menghampiri mama mertuanya dengan tatapan heran. “Syara tak habis pikir dengan Mama. Apa yang Mama lakukan pada ibu Syara seakan masih belum membuat Mama puas. Apa dendam Mama masih belum terbalaskan dengan membunuh ibu dan menghancurkan rumah tangga Syara? Rencana apa lagi yang akan Mama lakukan? Mau membunuh Syara sama seperti Mama membunuh ibu Syara?”


“Sakit hati karena kematian papa Bara masih membekas di sanubari Mama dan tak akan terobati dengan apa pun!” ucap Mama Bara penuh amarah.

__ADS_1


“Ma, apa buktinya kalau ibu Syara yang sudah membunuh papa Bara? Apa karena teh yang dibuat oleh ibu? Apa Mama bisa membuktikan kalau teh ibu beracun?” tantang Syara.


"Yang syara tahu, papa Bara meninggal karena over dosis, bukan keracunan minuman seperti yang Mama sangkakan!" lanjut Syara membela ibunya.


Syara juga mengatakan apa yang diceritakan Om Gustav tentang kematian papa Bara. Syara terus mengelak dan membela sang ibu. “Kalau Mama bisa membuktikan teh yang ibu buat beracun, baru Syara percaya Mama!”


Syara menuju kamarnya dan membanting pintu kamar.


“Ibu, apa benar ibu yang meracuni papa Bara?” gumamnya lirih meneteskan air mata.


###


Di kantor, Haris seakan tak fokus pada pekerjaannya. Ia berambisi untuk segera menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Haris mencoba mengaitkan fakta yang telah ia dapat


Ia teringat pada jawaban mama Bara yang disampaikan Bara bahwa mamanya tak ikut mengantar ke rumah sakit kala itu. Mama Bara sempat pingsan saat mengetahui papa Bara tergeletak dengan mulut berbusa, sehingga tak diizinkan untuk ikut. Mama Bara juga yang menghubungi Bara untuk segera pulang ke Indonesia, beliau yang mengurus pemakaman papa Bara juga melaporkan kematian pada RT setempat.


“Rasanya, tidak mungkin Tante Desi sempat menandatangani surat itu karena dia sedang sibuk mengurus kematian Om Brama di rumahnya. Apa benar Om Gustav yang melakukan semua ini?” gumamnya lirih.


Haris juga mencoba mengamati kepedulian Om Gustav pada Syara yang tak tega melihat Syara mendapat perlakuan kejam dari Bara dan mamanya. “Karena Om Gustav yang melakukannya, ia tak ingin melihat orang lain yang mendapat getahnya.”


Haris mulai melacak tentang riwayat hidup Om Gustav dan tempat kerjanya. Haris juga meminta saran salah seorang temannya yang berprofesi sebagai kuasa hukum yang terbiasa untuk memecahkan kasus pembunuhan. Haris menceritakan sedikit persoalan ini.


“Har, biasanya, orang-orang farmasi yang memiliki jabatan itu, mereka punya relasi atau kenalan petugas rumah sakit. Jadi, bukan masalah yang sulit jika ia meminta proses kepulangan jenazah dilaksanakan secepat itu tanpa ada tindak lanjut dari rumah sakit, pasti ada yang membantunya.”


Mendengar jawaban temannya, kecurigaan Haris semakin tertuju pada Om Gustav.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2