
Beberapa kali, mama Bara memang sengaja meminta Raya ke rumah. Seperti hari ini ini, Raya sengaja diundang mama Bara ke rumah. Syara yang membukakan pintu dan menemuinya terlebih dahulu ingin berbicara padanya. Syara menatap tajam mata Raya.
“Ray, apa kamu tidak malu begini terus?”
Belum sempat Raya menjawab, mama Bara muncul dari belakang Syara dan mempersilakan Raya masuk ke dalam. Mama Bara terus memuji-muji Raya seperti biasanya. Teganya, mama Bara juga masih terus mengungkapkan harapannya kalau Raya menikah dengan Bara, anaknya akan secantik dia dan setampan Bara.
Bara yang menuruni tangga, mendengar pembicaraan mamanya dengan Raya. Raut wajahnya kembali kesal, bukan hanya karena perkataan mamanya, tapi juga karena kehadiran Raya. Bara menghampiri Syara yang masih di depan pintu dan mengajaknya masuk ke dalam.
“Bar, sini Mama mau bicara,” pinta mama Bara.
“Bar, kamu ‘kan tidak punya adik, juga tidak punya kakak, dan saat ini, kamu juga belum memiliki anak yang entah kapan bayi itu akan lahir ke dunia. Mama memikirkan generasi penerus perusahaan papa kamu nanti. Karena Mama dan Papa dulu bercita-cita kamu bisa memiliki banyak anak agar kelak ketika kamu sudah tua, mereka lah yang akan menggantikan kamu. Keinginan Mama sudah bulat seperti yang pernah Mama katakan sebelumnya, untuk kamu menikahi Raya. Soal Syara, tidak apa kalau kamu tetap bersamanya, siapa tahu nanti dia juga bisa punya anak, tapi kalau dia tidak mau ya ceraikan saja, karena Raya tidak masalah menjadi istri kedua kamu. Lagi pula, selain lama, kalau pun Syara akhirnya bisa hamil dan melahirkan, pasti akan sulit untuk hami lagi. Kamu tidak hanya butuh 1 anak untuk menjadi generasi penerus perusahaan keluarga kita,” ungkap sang mama tanpa perasaan.
Syara hanya mampu menghela nafas panjang mendengar ucapan yang menyayat hati itu keluar lagi dari mulut mertuanya. Tetapi kali ini mama benar-benar mempertegasnya. Bara yang tak mampu menahan amarahnya, sontak menolak permintaan sang mama.
“Dulu Mama memaksa Bara menikah dengan Syara, sekarang memaksa menikahi Raya, dan tak mempedulikan Syara. Mama pikir Bara ini apa, Ma? Semudah itu Mama mengatur hidup Bara. Jangan Mama pikir Bara akan selalu patuh sama Mama dan Mama bisa sesuka hati!” Bara meluapkan amarahnya.
“Bara, liat! Yesa saja sudah hamil saat ini! Masak kalah sama orang cacat!” ucap Mama membuat Bara semakin murka.
Deg.
__ADS_1
Hati Syara begitu sakit mendengar mama Bara membandingkannya dengan Yesa dan menyebutkan kekurangan fisik anak Om Gustav itu.
Tanpa banyak bicara, Bara mengusir Raya dan memakinya. “Dasar wanita murahan! Tak tau diri, harusnya kamu malu dijadikan pengganti hanya karena kesuburan! Tak sudi aku menikahimu!”
Dengan tenangnya, Raya malah mengusap bibir Bara. "Kamu tidak melupakan ciuman kita di kantor kemarin 'kan?"
Syara terkejut mendengar ucapan Raya. Hatinya bertanya-tanya apa maksud Raya. Namun, Bara tak peduli, ia tetap mengusir Raya.
Setelah Raya pergi, Bara memperingatkan sang mama, jika masih berani menyakiti Syara dan memaksa Bara menikahi Raya, maka mereka akan pergi meninggalkan rumah. Setelah itu, Bara mengajak istrinya kembali ke kamar. Bara meyakinkan Syara agar tak khawatir dan memikirkan ucapan mamanya.
"Tapi apa maksud Raya tadi, Bar?" Syara mulai penasaran apa maksud ucapan Raya tadi.
Bara terus berusaha menjelaskan pada Syara bahwa dirinya tak memiliki hubungan apa pun dengan Raya. Sedangkan Syara terus mendiamkan Bara. Ia tak terima Raya dan suaminya berciuman.
###
Jangankan saat tak ada Bara, saat ada Bara pun mama Bara berani menyakiti hati Syara. Mungkin memang sikap mama Bara tak sepenuhnya salah, wajar saja jika seorang perempuan yang telah menikahkan anaknya, juga ingin segera menimang cucu. Namun, untuk mendapatkan buah hati dengan cepat bukan lah hal yang bisa dikehendaki manusia.
Seperti sore ini, saat Bara masih di kantor, mama Bara seolah semakin bebas mengekang menantunya tidak boleh ini dan itu untuk melampiaskan ketidaksabarannya menanti hadirnya sang cucu. Syara bagai hidup dalam penjara, makannya dibatasi, aktifitasnya pun diatur. Ia tak boleh banyak tidur, harus rajin berolahraga, dan tidak boleh bermalas-malasan. Sedangkan Syara sendiri juga tengah kelelahan mengurusi bisnis kecilnya. Apabila dalam 1 hari Syara kelelahan dan tak mampu berolahraga, sudah pasti alarm mertuanya nya akan berbunyi.
__ADS_1
Selama 1 tahun lebih Syara harus menerima nasib kehidupannya yang seperti ini. Untuk itu, Bara sering mengajak Syara berlibur agar hatinya bahagia, karena saat di rumah selalu mendapat tekanan dari mamanya. Lebih lagi, mama Bara sepertinya sudah memiliki ide gila. Hanya karena tak sabar menanti cucu, ia seolah rela jika anak lelakinya menyakiti istrinya dengan menikahi wanita lain. Entah karena ia tak memiliki anak perempuan atau memang hatinya terbuat dari besi, sehingga tak dapat membayangkan rasanya menjadi Syara.
Hingga suatu ketika, Syara yang sudah tak kuat dengan perbuatan Mama Bara, ia menghentikan kesabarannya untuk menggertak mertuanya itu. “Ini bukan hal yang Syara mau, Ma! Kalau boleh memilih, Syara juga ingin setelah menikah langsung punya anak. Dulu Syara juga sudah pernah mengalaminya, tapi apa? Mama yang sengaja menggugurkan kandungan Syara dengan masalah yang Mama hadirkan. Sekarang, saat Syara sulit hamil, Mama dengan mudahnya menyakiti Syara kembali. Bagaimana jika mertua Mama memperlakukan hal yang sama pada Mama?”
“Mama mungkin bisa saja menikahkan Bara dengan Raya. Tapi apakah Mama pernah berpikir kalau Raya bisa saja juga diuji dengan hal yang sama dengan yang Syara alami saat ini. Apa kalau Raya juga sulit hamil, Mama akan menikahkan lagi Bara dengan wanita lainnya? Bara itu manusia, Ma, bukan kucing!” Syara sudah kehilangan kesabarannya.
Plak!
Mama Bara menampar Syara dengan begitu kencang. Untungnya, Bara yang baru memarkir mobilnya, segera masuk ke dalam rumah dan memisahkan mereka. Bara dengan cekatan memeluk Syara dan menjauhkan dari jangkauan sang mama.
“Mama benar-benar sudah keterlaluan! Mama tidak punya hati! Mama sudah melewatkan kesempatan yang Bara berikan!” ucap Bara sembari membawa Syara ke kamar.
“Kamu tidak apa-apa, ‘kan? Kita pindah saja ya ke apartemen,” ajak Bara yang tak sanggup melihat istrinya menderita di rumahnya.
“Kalau begini terus, aku takut kamu bisa stres, Sayang,” bujuk Bara.
Kali ini kesabaran Syara sudah di ambang batas, ia yang awalnya menolak setiap Bara mengajaknya pindah, hanya karena tak ingin mertuanya sendirian di rumahnya. Namun, untuk saat ini Syara benar-benar sudah tak ingin memikirkan mertuanya yang jahat itu. Dari pada ia semakin tertekan dan depresi yang akhirnya membuat kesuburannya semakin bermasalah, ia memutuskan untuk menerima ajakan suaminya untuk pindah ke apartemen yang sudah dibeli Bara, di sebelah unit Haris.
Mereka merencanakan kepindahan dini hari nanti, saat mamanya tengah tertidur pulas. Sudah seharusnya mereka memikirkan nasib mereka sendiri, tak perlu memikirkan keadaan sang mama yang juga tak pernah memikirkan perasaan menantunya. Lagi pula, ada ART yang bisa menjaganya, dan bisa menghubungi Bara jika sesuatu terjadi pada mamanya.
__ADS_1
...****************...