
Dokter terus memantau kondisi perkembangan bayi kembar Syara dan Bara yang diberi nama Kama dan Kalila itu. Namun, pemeriksaan menunjukkan hasil yang berbeda antara Kama dan Kalila. Sejauh ini, perkembangan Kama cukup baik dan tidak ditemukan adanya masalah apa pun, berbeda dengan hasil pemeriksaan Kalila yang menunjukkan bahwa ada masalah pada organ pernafasannya yang disebabkan karena paru-parunya yang belum begitu sempurna. Rumah sakit segera mengambil tindakan untuk memberikan mesin sebagai penyuplai oksigen Kalila. Dokter meminta agar Bara dan Syara tak khawatir berlebihan karena hal ini memang biasa terjadi pada bayi prematur.
Syara yang berdiri terkulai lemas mendengar berita yang disampaikan oleh dokter. Bahagianya seakan runtuh melihat kondisi salah satu malaikat kecilnya. Bara mengusap-usap lengan Syara untuk menenangkannya dan terus memberikan afirmasi positif pada istrinya bahwa Kalila akan baik-baik saja.
Hingga 1 minggu berlalu, perkembangan Kama semakin membaik. Dokter pun mengatakan jika kondisi ini terus stabil, maka besok mereka bisa membawa Kama pulang. Namun, jika Bara dan Syara berkenan, pihak rumah sakit akan menawarkan 1 perawat khusus untuk merawat Kama saat di rumah, mulai dari memandikan, menggantikan popok, dan perawatan lainnya seperti yang dilakukan saat di rumah sakit. Tujuannya, agar perkembangan Kama tetap terpantau. Mereka pun menyetujuinya demi kesehatan Kama.
Di luar ruangan NICU, Bara menunggu Syara yang masih berada di dalam untuk berganti menyusui Kama dan Kalila. Tiba-tiba, Bara teringat akan Raya yang sudah beberapa bulan ini menikah. Otaknya dipenuhi pertanyaan apakah saat ini Raya sudah hamil atau belum. Ia pun menghubungi Haris untuk mencari tahu hal ini. Bukan apa-apa, ia hanya ingin tahu apakah wanita yang dibanggakan sang mama itu lebih mudah cepat hamil dari pada istrinya.
Haris merespon pesan Bara begitu cepat.
“Kemarin saat aku telpon, dia bilang belum.”
Bara tersenyum pahit. “Namanya anak itu rejeki Tuhan, tidak bisa dipaksakan untuk dipercepat maupun diperlambat. Kalau pun aku menikah dengan Raya, bisa saja dia juga lama hamilnya.”
Syara yang sudah selesai menyusui bayi kembarnya, ke luar ruangan menghampiri Bara. Syara mempersilakan suaminya jika ingin berangkat bekerja, karena dirinya masih ingin melihat anak-anaknya. Bara pun menolak, dan tetap ingin menemani sang istri, apalagi, kondisi Syara kurang baik karena harus bolak balik ke rumah sakit untuk menyusui bayi kembar mereka.
“Aku sudah mengambil cuti 2 minggu, Sayang,” ucap Bara lembut.
“Apa Kalila juga tidak bisa dibawa pulang ke rumah besok bersama Kama?” tanya Syara memelas penuh harap.
__ADS_1
“Jangan sedih, setidaknya, Kama sudah bisa menempati kamarnya sendiri mulai besok,” hibur Bara menyeka air mata Syara yang mulai menetes.
Syara kembali menyandarkan tubuhnya di kaca sembari melihat bayi kembarnya. “Seharusnya kalian bisa pulang bersama-sama.”
Bara membujuk Syara agar tetap sabar menunggu, karena bagaimana pun, mereka tidak boleh egois. Semua demi kesehatan anak-anaknya. Kemudian, Bara mengajak Syara ke kantin rumah sakit untuk makan agar ASI Syara semakin banyak dan lancar, agar Syara juga tak terus larut dalam kekhawatirannya.
###
Sedikit lega rasanya karena anak laki-laki mereka kini sudah tiba di rumahnya. Meskipun, Syara tetap harus bolak balik ke rumah sakit untuk menyusui bayi perempuannya. Walaupun begitu, setidaknya ada 1 perawat yang bisa menjaga Kama saat orang tuanya harus ke rumah sakit.
Syara meminta perawat menjaga Kama di kamar yang sudah disediakan.
Bara menegur mamanya yang mulai berulah. “Sudah bukan waktunya sekarang untuk Mama berbicara seperti itu, semuanya adalah kehendak Tuhan, Ma. Tidak ada yang tahu semuanya akan seperti ini.”
“Bara sudah mengingatkan Mama untuk menjaga lisan Mama, jadi tolong jangan merusak kebahagiaan kami. Syara juga tidak boleh stres agar ASI nya tetap lancar menyusui 2 bayi sekaligus. Apa Mama tega melihat cucu Mama tidak bisa mendapat ASI? Bara harap Mama mengingat konsekuensinya kalau Mama masih seperti ini,” lanjut Bara.
Mama Bara kemudian pergi meninggalkannya.
Syara hanya berdiri mematung melihat mertuanya. Entah sampai kapan ia akan terus salah di matanya. Bahkan mungkin, sampai anak-anaknya kuliah pun, mertuanya bisa saja tetap seperti ini.
__ADS_1
“Jangan dengarkan Mama ya, Sayang. Kalau kamu merasa tidak nyaman di sini, kita bisa langsung pindah ke apartemen,” ujar Bara mencairkan suasana hati Syara.
Syara mengangguk tersenyum.
###
Sore hari, Syara kembali ingin ke rumah sakit menengok Kalila. Kali ini, ia hanya ingin berangkat sendiri agar Bara bisa ikut menjaga Kama. Syara takut mertuanya akan sok tau dalam merawat Kama. Bagaimana pun, Kama terlahir berbeda dengan bayi pada umumnya, karena ia masih harus mendapatkan perawatan khusus.
Jarak rumah sakit yang tidak jauh, membuat Syara tak kerepotan untuk selalu menengok bayi perempuannya, hanya saja ia mulai kelelahan. Semenjak operasi, ia belum banyak beristirahat. Selesai menyusui, Syara selalu membisikkan sesuatu di telinga bayinya. Agar ia mendengar betapa ibunya sangat ingin terus bersamanya.
“Kama sudah menunggu Kalila di rumah, Sayang.”
Tak lupa, Syara juga memberikan stok ASI pada perawat untuk disimpan jika sewaktu-waktu Kalila haus. Syara juga selalu menanyakan perkembangan kondisi bayinya. Perawat menyampaikan pesan dokter, bahwa Kalila belum bisa dipastikan kapan akan pulang. Mereka hanya perlu bersabar sedikit lagi untuk menanti kesembuhan Kalila.
Selesai puas memandangi wajah bayi cantiknya, Syara memutuskan untuk pulang, karena ia juga rindu dengan bayi tampannya di rumah.
Selama berhari-hari, itu lah yang dilakukan Syara, menyusui bayi-bayinya di dua tempat yang berbeda. Tak pernah bosan sekali pun, bahkan setiap kali ke rumah sakit, ia selalu bersemangat. Baginya, ini lah perjuangan seorang ibu yang sedang diuji. Tangis haru bahagia dan sedih seolah menyatu saat ia menyentuh bayinya. Seakan ia melupakan kondisinya yang sebenarnya juga masih perlu banyak istirahat paska melahirkan dengan operasi.
...****************...
__ADS_1