
Setelah mendapat izin dari Haris, dini hari itu juga Bara dan Syara pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Mereka akan tinggal di apartemen Haris untuk sementara waktu. Bara tak peduli dengan amukan mamanya. Bara juga meninggalkan sepucuk surat untuk sang mama.
“Bara benar-benar kecewa pada Mama. Kalau Mama belum berubah juga, Bara tak akan pulang.”
Dengan tinggal berdua bersama Syara, Bara juga akan lebih fokus berdiskusi dengan Haris. Kabar terakhir yang didapatnya adalah Haris berhasil menemui asisten rumah tangga Om Gustav, yang merupakan tetangga Om Gustav sendiri. Walaupun berbelit-belit, tetapi Haris telah berhasil memaksanya mengatakan tentang kepindahan Om Gustav, dibantu oleh kuasa hukum Haris, yang merupakan temannya sendiri.
Pagi hari, Haris menyempatkan berdiskusi dengan Bara sebelum mereka berangkat ke kantor. “Sepertinya, ART Om Gustav memang tidak tahu di mana mereka pindah. Tapi, dia mengatakan kalau kepindahan Om Gustav terkesan terburu-buru. Om Gustav tiba-tiba memberikan pesangon dan memintanya untuk berhenti bekerja."
“Tapi ART itu sempat mendengar bahwa Om Gustav akan tinggal di luar kota karena di sana ada rumah sakit terbaik untuk terapi anaknya. Aku tidak tahu apakah ini hanya alasan Om Gustav saja atau memang benar demi kesehatan anaknya,” lanjut Haris.
“Kita perlu mencari tahu rumah sakit untuk menangani cacatnya Yesi,” sahut Bara.
"Yesi? Hanya Yesi? Bukannya kamu bilang Yesa dan Yesi yang cacat?" tanya Haris ingin tahu tentang keadaan anak kembar Om Gustav.
"Iya, mereka memang cacat, tapi Yesi lebih membutuhkan terapi khusus sampai harus berada di kursi roda. Dibanding kakaknya, Yesa yang tak begitu tampak memiliki kelainan, hanya jari kakinya yang tak normal dan bicaranya sedikit lambat," jawab Bara menjelaskan kondisi saudara sepupunya itu.
"Yang kamu lihatin terus kemarin itu si Yesa. Cantik ya?" goda Bara pada temannya.
"Ah, apaan kamu, Bar?" Haris tersipu malu.
"Anak kembarnya Om Gustav itu memang cantik-cantik, hanya saja Tuhan memberikan kekurangan. Kalau tak ada kekurangan nanti kamu makin terkesima, begitu aja bikin kamu tak berkedip kemarin," lanjut Bara menggoda Haris.
“Nanti kita lanjutkan lagi, aku akan mampir ke sini sepulang kantor. Yang penting kamu dan Syara aman di sini,” pamit Haris mengalihkan perhatian.
Sementara itu, Bara yang memutuskan untuk datang ke kantor lebih siang, memberi tahu sang istri bahwa penghuni baru rumah orang tuanya hanya akan mau pindah ketika mereka telah menemukan rumah baru di daerah sekitar.
“Tapi kamu tenang aja, anak buah aku juga sudah mulai mencarikan mereka rumah yang lain. Mereka akan melepas rumah kamu seharga rumah baru yang akan mereka beli,” ucap Bara meyakinkan Syara semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
###
Syara yang tengah memasak, dikejutkan dengan suara bel unit apartemen Haris. Ia melihat dari lubang kecil, seorang perempuan berdiri di balik pintu.
“Raya. Dari mana dia tahu apartemen Haris?”
Syara yang sengaja tak membukakan pintu, bergegas menelepon Haris. Sesuai saran Haris, Syara tetap berada di dalam tanpa boleh membuka pintu. Haris meminta keamanan apartemen untu menolak setiap tamu yang ingin datang ke unitnya. Haris juga mengirimkan foto Raya dan mama Bara agar mereka tak bisa masuk ke dalam apartemen.
Syara merasa tak tenang. Tempat yang dirasa aman pun, nayatanya masih bisa dijangkau oleh orang-orang yang sengaja dihindarinya. “Sebelum penyebab kematian papa Bara terungkap, aku akan mendapat ancaman terus.”
Sementara itu, tak dilihatnya lagi Raya berdiri di sana.
Di luar apartemen, Raya menghubungi mama Bara untuk melaporkan hal ini. Amarah mama Bara semakin memuncak. Ia tak terima Syara mengajak Bara pergi dari rumah.
Tak lama, mama Bara menghubungi Syara.
“Ma, kenapa Mama sebenci ini sama Syara? Kenapa baiknya Mama hanya sebatas berpura-pura padahal Syara begitu menyayangi Mama seperti Syara menyayangi ibu Syara. Ibu yang sudah Mama buat pergi selamanya. Kenapa masih belum puas Mama membalaskan dendam Mama pada ibu hingga Syara juga harus menjadi korban dendam Mama,” jawab Syara tak kuat menahan tangisnya.
“Mama lebih sakit dari kamu saat ini! Andai kamu tahu betapa kejamnya perbuatan ibu kamu yang telah merampas kebahagiaan Mama bersama papa Bara!” mama Bara pun menangis mengingat masa lalunya.
“Lalu sekarang Mama mau apa? Mau Syara mati juga di tangan Mama? Lakukan, Ma, lakukan! Syara ada di apartemen Haris, Mama bisa ke sini dan lakukan apa yang Mama mau!” pinta Syara yang sudah lelah akan kisah masa lalu yang tak kunjung usai.
Syara terus menangisi nasib hidupnya. Kesendiriannya, pernikahannnya, semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Bara yang tiba-tiba datang ke apartemen, berlari memeluk Syara yang tengah tak kuasa menahan perasaannya.
“Kamu akan baik-baik saja, tenang ya, ada aku di sini. Apa yang dilakukan Raya dan Mama? Apa mereka ke sini?” Bara khawatir akan keadaan Syara yang masih belum begitu sembuh dari depresinya.
“Kalau memang yang ingin Mama kamu lakukan adalah kita bercerai dan aku mati saat ini juga, biarkan, Bar. Kalau itu membuatnya puas dan sakit hatinya terbalaskan. Aku ingin menyusul ayah ibuku!” Syara semakin tak terkendali.
__ADS_1
Bara terus menenangkan Syara dan memeluknya semakin erat. “Ssst, jangan pernah berbicara seperti itu. Kita bisa membuktikan pada Mama, ibu kamu tak bersalah. Percaya padaku. Kita bisa melewati semua ini sama-sama.”
Bara mengepalkan tangannya menahan amarah pada Om Gustav. “Om memang tak pantas disebut keluarga. Bara memang seharusnya terus membenci Om Gustav!”
###
Sepulang kantor, Haris mampir ke apartemennya. Ia menanyakan apakah keadaan Bara juga Syara baik-baik saja. Bara menjelaskan apa yang terjadi pada Syara hari ini.
“Kita harus bergerak cepat, Bar. Mental Syara bisa terganggu jika masalah ini tak kunjung usai,” pinta Haris tegas.
Haris membagi tugas yang harus dilakukan mereka. Haris akan mencari keberadaan Om Gustav, sementara Bara menemui mamanya untuk menunjukkan berkas yang sempat difoto Bara saat di rumah sakit, dan menjelaskan informasi yang mereka dapat dari petugas rumah sakit. Haris juga meminta Bara untuk menanyakan pada mamanya dengan detail keberadaan mama Bara saat kematian papa Bara.
“Besok aku akan menemui Mama, tapi aku takut meninggalkan Syara sendiri,” ucap Bara khawatir akan kondisi Syara jika sendirian.
“Aku sudah meminta bagian keamanan untuk tak menerima tamu yang ingin ke unitku, aku juga akan meminta art rumahku untuk menemani Syara besok selama kamu pergi,” jawab Haris memberi solusi.
Saat sedang berdiskusi dengan Bara, ponsel Haris berdering.
“Halo,” sapa Haris.
Haris tampak mendengarkan dengan seksama pembicaraan lawan bicaranya dalam panggilan telepon. Tak lama, ia menutup telepon dan izin berpamitan pada Bara untuk segera pergi. “Aku tau di mana Om Gustav, aku akan menyusulnya.”
Bara memanggil Haris dan memeluknya. “Hati-hati, Har. Hubungi aku bila ada sesuatu yang terjadi padamu. Terima kasih sudah banyak membantuku.”
Haris tersenyum dan menepuk pundak Bara, kemudian pergi meninggalkannya.
Bara melihat Haris dari balkon unitnya, ia tampak tergesa-gesa menuju ke parkiran dan melajukan mobilnya.
__ADS_1
...****************...