
Hubungan Haris dan Bara yang membaik, membuat Haris sedikit leluasa untuk menemui Syara, walaupun tetap harus berhati-hati karena Bara bisa saja salah paham. Haris yang sudah membuat janji dengan Syara akan bertemu di taman komplek perumahan Bara siang ini, tiba lebih awal seperti biasanya. Tak berselang lama, Syara datang dan duduk di bangku yang sama dengan Haris.
Haris menceritakan kejanggalan yang dipikirkannya. Sengaja ia ingin mengatakan ini pada Syara agar Syara mau membantu menyelidikinya. Hal ini juga tak lain karena kepedulian Haris yang sudah terlanjur membantu Syara dari awal. Ia merasa bertanggung jawab untuk menyeleseikan apa yang telah dimulainya.
“Aku juga merasa perlu mencari tahu soal kematian papa Bara, Har. Apakah masih ada kaitannya dengan ibuku atau tidak.” Syara memiliki pemikiran yang sama dengan Haris.
Syara juga menceritakan kebenaran hipotesa Haris tentang hubungan khusus antara papa Bara dan ibunya yang menyebabkan mama Bara ingin membalas kesakitannya pada Syara.
“Yang harus kita cari tahu juga, Ra. apakah Tante Desi sudah benar-benar menganggap dendamnya sudah terbalaskan atau belum. Aku takut, dia belum selesai dengan sakit hatinya, atau bisa juga ada dendam lain yang masih ingin dibalaskan,” ungkap Haris menyatakan pendapatnya.
“Sulit rasanya mempercayai mertuaku lagi, kebaikannya yang aku pikir adalah bentuk kasih sayangnya padaku, tapi justru dia lah musuh dalam selimut yang ingin menghancurkan hidupku. Jadi aku harus bagaimana, Har?” tanya Syara meminta saran Haris yang dirasa sangat kritis memecahkan masalahnya.
Haris menatap tenang pada Syara. “Ra,selama 9 tahun aku berkarir menjadi konsultan keuangan dan bisnis, beberapa kali aku menemui kasus rumit. Dua diantaranya berhasil aku ungkap. Aku janji juga akan mengungkap sejarah masa lalu keluargamu dan keluarga Bara. Aku cuma takut Tante Desi mencelakai kamu lebih dari sebelumnya.”
“Yang harus kamu lakukan, tetap lah menjadi menantu Tante Desi seperti dulu, anggap tak pernah terjadi apa-apa, agar kita lebih mudah membuka satu per satu,” lanjut Haris.
Syara mengangguk paham maksud Haris. Haris juga meminta Syara untuk menjaga komunikasi dengannya bila Syara menemukan fakta baru. Apapun itu, bisa menjadi sumber informasi bagi Haris.
###
Setelah pulang dari taman, Syara pulang ke rumah Bara membawa 1 kantong plastik buah apel, kesukaan mertuanya.
“Tadi ada yang jual keliling, Ma, jadi Syara bawakan buat Mama,” tawar Syara pada mama Bara.
__ADS_1
“Makasih sayang, kebetulan Mama lagi pengen makan buah apel. Kita makan sama-sama yuk sambil ngobrol nonton tv,” ajak mama Bara.
Syara mengambil 2 pisau dan 1 piring dari dapur lalu membawanya pada mama Bara. Sembari mengupas apel, mereka mengobrol. Tak lupa Syara berbincang membahas ibunya agar Syara sedikit mendapatkan informasi baru.
“Ma, sekali lagi Syara minta maaf atas kesalahan ibu Syara ya,” ucap Syara lembut memegang tangan mertuanya itu.
Mama Bara mengusap rambut menantunya. “Mama sudah maafkan semuanya, kita sudah impas.”
Syara mendengarkan cerita yang sebagian sudah diketahuinya. Termasuk bantuan yang diberikan papa Bara sebagai bentuk balas budi kepada Syara dan ibunya, sepeninggal ayahnya. Bantuan itu lah yang akhirnya menimbulkan perasaan terlarang antara papa Bara dan ibunya. Bantuan itu juga yang selalu dijadikan alasan untuk papa Bara bisa bertemu dengan ibu Syara.
“Yang Mama kecewa, ibu kamu seolah menyambut perasaan Mas Brama. Mereka sering bertemu dan pergi bersama tanpa sepengetahuan Mama. Kalau kamu mau tahu apa saja yang sudah mereka perbuat, kamu bisa mengingat kembali apa yang telah dilakukan Bara padamu. Karena itu lah Mama sampai tega membalaskannya pada Syara. Mama minta maaf,” ungkap mama Bara menangis mengingat tentang kepahitan masa lalunya.
“Semuanya?” Syara mulai mengingat hal-hal apa saja yang telah dilakukan Bara untuk menyakitinya. Syara sedikit tak sependapat dengan mertuanya bila ibunya menyambut perasaan papa Bara. Baginya, ibunya bukan wanita seperti itu.
“Itu kan di depan kamu, kamu tidak tahu bagaimana jika tak ada kamu. Mama sering memergoki mereka pergi berdua,” sanggah mama Bara.
“Mulai dari Mas Brama yang tak menganggap Mama ada, merendahkan Mama, dia bilang Mama jelek, gendut, padahal baru satu kali melahirkan saat itu. Itu semua karena dia melihat Mirna lebih cantik dan badannya lebih bagus dari Mama. Mereka juga pernah menginap bersama, sakit hati Mama kalau ingat itu semua. Bahkan, pernah suatu ketika ibumu sakit, Mas Brama juga dengan sigap membawa dia ke rumah sakit, padahal, Mama juga sedang sakit akibat mengandung adiknya Bara. Sampai akhirnya, Mama keguguran adik Bara karena kandungan Mama sudah tak kuat,” lanjut Mama menjelaskan detail perlakuan suaminya dahulu kala.
Mendengar penjelasan mertuanya itu, ia bagai mengaca pada kisahnya sendiri. Tetapi, entah mengapa ia tetap pada pendiriannya. Ia lebih paham bagaimana wanita yang ia sebut ibu itu mendidiknya sejak kecil.
“Pasti ada yang Mama tambahin ‘kan? Yang tak sebenarnya terjadi, tapi Mama menginginkan untuk terjadi pada Syara,” ucapnya dalam hati.
###
__ADS_1
Sembari menunggu Bara, Syara menghubungi Haris untuk menceritakan semua isi percakapan antara ia dengan mertuanya. Namun hingga malam, Bara tak kunjung datang. Seharusnya, ia sudah sampai rumah dari tadi. Syara mulai mencemaskan suaminya. Ia menelepon berkali-kali namun tak ada jawaban.
Syara berusaha tetap tenang dengan meneguk minuman hangat. Tak lama, ia dikejutkan dengan dering ponselnya yang ternyata dari Raya. Syara memang sempat meminta nomor Raya dari Haris dan menyimpannya. Hati Syara berdegup kencang tak menentu. Ia takut ada kabar buruk yang diterimanya tentang Bara.
“Halo,” sapa Syara dalam panggilan teleponnya.
“Syara, ini Raya. Bara sedang mabuk dan tidak bisa menyetir, dia ada di rumahku sekarang,” jawab Raya yang kemudian memutus panggilannya.
Benar dugaannya, Raya selalu membawa kabar buruk. Ia kecewa pada Bara yang ternyata masih sama saja. Tangannya mengeram penuh amarah. “Apa papa Bara juga melakukan ini dulu dengan ibu? Rasanya tidak. Mama pasti sengaja mengada-ada yang tak pernah ada. Kalian jahat!”
Syara kembali menghubungi Haris untuk mengadukan hal ini. Dengan sigap, Haris pun ingin menjemput Bara di rumah Raya, Syara meminta untuk pergi bersamanya, ia ingin meluapkan amarahnya saat ini juga. Syara yakin jika Raya dan Bara akan menganggap Syara hanya diam. Haris yang tak ingin Syara berbuat demikian, tak sanggup mencegahnya. Haris menjemput Syara dan mereka pergi menuju rumah Raya.
Syara tak berhenti menangis selama berada di mobil Haris.
“Ra, aku mengkhawatirkan kesehatanmu. Kamu baru mengalami keguguran apa tidak apa-apa kalau kamu begini sekarang?” Haris semakin khawatir akan keadaan Syara.
“Aku benar-benar sudah ingin menyerah, Har, mereka sudah keterlaluan. Anakku juga sudah tiada, tak ada yang perlu aku tunda lagi untuk menggugat cerai. Ini kan yang dulu diinginkan Bara juga Raya?” Syara mengatakan keinginannya untuk berpisah dari suaminya.
Setelah 20 menit kemudian, mereka tiba di rumah Raya.
Terlihat mobil Bara terparkir di depan rumah Raya. Haris yang tengah emosi, justru memilih menenangkan Syara yang lebih emosi darinya. Syara menggedor pintu rumah Raya, dan menerobos masuk ke dalam rumahnya setelah Raya membukakan pintu.
“Bara.”
__ADS_1
...****************...