Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Belum Selesai


__ADS_3

Syara tetap tak mau memandang wajah Bara yang masih menyesali kesalahan-kesalahannya.


“Pergi, Bara. Sejak dulu kamu tak pernah menganggap aku ada. Biarkan aku hidup seorang diri di sini,” usir Syara terus menerus.


Bara masih terus menangis memohon maaf pada Syara.


“Bara, sudah. Ini bukan kesalahanmu. Ini sudah takdir!” Mama Bara tiba-tiba memaksa masuk ruangan menemui Bara dan Syara.


“Ma, sudah cukup, Ma,” ucap Bara terisak-isak.


Om Gustav menarik tangan mama Bara dan mengajaknya keluar ruangan. “Keterlaluan kamu Desi! Aku sudah peringatkan kamu. Sekarang, kamu sudah membunuh ibu juga anak dari seorang wanita yang tak bersalah!”


“Diam, Gustav! Kamu tak tahu apa-apa!” bentak mama Bara.


“Biarkan Syara berada di rumahku bersama Yesa dan Yesi. Dia akan lebih berbahagia hidup tidak satu atap dengan nenek lampir sepertimu!” pinta Om Gustav dengan tegas.


Om Gustav meminta Bara dan mamanya untuk pulang dan mengajak Syara tinggal di rumahnya. Namun, Bara menolak karena dia ingin Syara tetap tinggal bersamanya. Om Gustav menuruti permintaan Bara dengan syarat jika Syara masih mendapat perlakuan semena-mena dari Bara juga mamanya, ia tak segan-segan akan membawa Syara pergi dari rumah Bara.


“Jangan macam-macam sama aku. Urus saja kedua gadis kembarmu itu, jangan ikut campur urusan orang lain,” ucap mama Bara sembari pergi meninggalkan adik iparnya itu.


###


Dengan lemas, Syara kembali ke rumah Bara. Kali ini, Bara tampak begitu menyayangi istrinya. Ia benar-benar memperlakukan Syara selayaknya seorang istri.

__ADS_1


“Suruh istrimu itu istirahat,” pinta sang Mama.


“Bara mau bicara sama Mama nanti,” jawab Bara sembari menggendong Syara menuju ke kamarnya.


Bara membaringkan Syara di atas kasur dan mencium keningnya. “Aku janji akan lebih baik padamu.”


Syara tak bergeming. Ia tetap memalingkan pandangannya pada suami munafiknya itu. Syara memiringkan tubuhnya ke kiri agar menjauh dari arah Bara. Mengingat bayinya yang meninggal sebelum sempat ia lahirkan, dadanya terasa sesak. Air matanya menetes seakan tak mau berhenti.


Melihat Syara yang masih depresi, Bara tak ingin mengajaknya bicara dahulu. Ia turun ke bawah untuk menemui sang mama, membicarakan sesuatu yang serius. Mimik wajahnya terlihat penuh kemuraman.


“Mau sampai kapan, Ma?” tanya Bara pada mamanya yang sedang duduk di sofa ruang tengah.


“Apanya?” jawab mama Bara santai.


“Bara sudah membunuh anak Bara sendiri!” Bara melanjutkan penyesalannya.


Mama Bara berkali-kali menenangkan anaknya untuk tak terus menerus menyalahkan dirinya sendiri atas keguguran yang dialami Syara. Bagi Bu Desi, ini adalah takdir yang tak dapat dielakkan. Sayangnya, dengan musibah ini, mama Bara tak juga ingin mengakhiri penderitaan Syara. Justru ia masih ingin semua ini dilanjutkan. Hal ini membuat Bara kecewa.


“Mama memang tak punya hati! Bara menyesal menuruti perintah Mama!” keluh Bara tak mampu mengontrol emosinya.


“Apa kamu pikir ini sudah cukup membalaskan dendam mama pada ibu Syara? Tidak! Asal kamu tahu, karena dia, Mama juga mengalami keguguran adik kamu! Bayi perempuan yang Mama idam-idamkan. Apa yang kamu lakukan pada Syara itu semua adalah yang Mama rasakan dulu. Kamu tahu betapa sakitnya Mama saat itu!” Mama Bara tak kuat menahan tangisnya.


“Tapi apakah harus dengan menyakiti Syara? Dia tak bersalah, Ma. Mama dendam dengan ibunya yang Mama pikir telah merebut Papa, tapi Mama membalaskan semua sakit hati Mama pada anaknya. Mama sungguh tak adil!” ucap Bara kembali meninggalkan mamanya sendiri.

__ADS_1


Mama Bara hanya mampu menangis mengingat sakit hatinya saat itu. “Ini hanya permulaan, Bara. Kematian papa kamu tak akan pernah Mama lupakan begitu saja. Mirna tetap harus mempertanggunjawabkan semuanya melalui Syara!”


###


Perlahan, Syara sudah mau memaafkan Bara setelah usaha Bara untuk merawatnya semenjak ia pulang dari rumah sakit. Bara begitu perhatian padanya. Tak sekali pun terlihat Bara marah atau membentaknya. Syara yang memiliki kelembutan hati, tak ingin rasanya terus menerus menyalahkan suaminya. Ia ingin memberi kesempatan pada Bara untuk memperbaiki semuanya.


Bara juga berani berkata jujur pada Syara tentang dendam sang Mama, sekaligus juga ingin meminta maaf atas perlakuannya selama ini. Tentang ia yang begitu kejam dan kasar memperlakukan Syara. Bara mengakui dirinya sedikit mulai sedikit memiliki perasaan pada Syara. Ia pun juga dengan sadar mengatakan bahwa tak akan menebang perasaannya yang mulai tumbuh.


Tentu, dengan sifat baik Syara, ia mau memaafkan Bara dan mamanya. Justru, Syara juga meminta maaf pada mertuanya jika dulu, ibunya pernah menyakiti hati mama Bara. Meski Syara tak yakin akan ibunya yang setega itu menyakiti hati temannya sendiri, namun tak ada gunanya ia mengelak dan mencari kebenaran yang tak akan bisa ditemukannya.


“Syara, maafkan Mama ya, Mama janji tak akan mengungkit masa lalu. Semua sudah selesai ditebus. Kamu sudah merasakan kepahitan yang dulu Mama rasakan. Kita mulai semuanya dari 0 lagi ya,” pinta mama Bara memeluk menantunya itu.


Semenjak saat itu, rumah tangga Bara dan Syara semakin membaik. Tak ada bentakan, amarah, juga kekerasan dalam bentuk apa pun. Bara juga sudah memutuskan hubungannya dengan Raya, meski Raya tak terima dengan keputusan Bara. Hubungan Bara dengan Haris juga membaik. Syara bersyukur dengan musibah ini, telah membawa kebaikan untuk keluarga barunya.


###


Haris yang masih merasa janggal dengan semua ini, ingin tetap menyeleseikan penyelidikan yang telah dimulainya. Tentunya, dengan bantuan Om Gustav yang entah apakah masih mau atau tidak memberikan informasi kepadanya. Baginya, kematian papa Bara belum terungkap dan masih menjadi misteri.


Kejanggalan yang dirasakan Haris bermula saat sehari setelah Bara meminta maaf padanya, ia sempat melihat adanya pertemuan antara mama Bara dengan Raya. Pertemuan yang awalnya ia kira hanyalah permintaan maaf Tante Desi karena Bara telah menyakiti Raya. Namun, dari gelagat yang dilihatnya, sepertinya tujuan Tante Desi menemui Raya tak sesederhana itu.


Kejanggalan kedua yang ia rasakan adalah, Om Gustav yang masih tampak menyembunyikan sesuatu darinya. Hal ini ia hubungkan dengan pernyataan Syara tentang kematian ibunya yang tiba-tiba depresi dan sakit-sakitan tak lama setelah kematian papa Bara. Perbedaan keterangan tentang sebab kematian papa Bara antara Om Gustav dengan Bara juga menjadi fokus Haris. Haris juga merasa jika dendam Tante Desi tak hanya soal hubungan terlarang antara ibu Syara dengan suaminya. Pasti ada sebab yang lebih dari sekadar cemburu, hingga membuatnya nekat ingin membalaskan sakit hatinya melalui pernikahan Bara dengan Syara.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2