Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Hubungan Yang Membaik


__ADS_3

Setelah memberikan aroma terapi, tak lama Syara sadar. Bara yang panik sedari tadi, seketika mendekap tubuh Syara dan mencium keningnya. Syara masih berusaha meyadarkan pikirannya sepenuhnya dengan mimik muka datar.


“Syara, kamu nggak apa-apa, ‘kan? Aku minta maaf sudah mengurung kamu saat kamu sedang sakit,” sesal Bara dengan tetap mendekap tubuh istri malangnya itu.


Syara menyadari begitu lembut perlakuan suaminya yang tak pernah ia rasakan sejak mereka menikah. Ia hanya tersenyum karena belum sanggup mengeluarkan banyak bicara. “Bara”. Matanya tampak menatap mata sang suami.


Kini, Syara sudah benar-benar tersadarkan dari pingsannya. “Bara, apa aku boleh tidur di kasur ini?”


Bara mengangguk dan meminta Syara untuk tetap istirahat mengingat badannya masih demam dan menggigil. Bara pun tak sungkan menawarkan untuk memanggil dokter, namun Syara menolak. Menyadari Syara yang belum makan sejak sarapan tadi, Bara mengambilkan makanan dan menyuapkannya pada Syara.


Syara yang tengah sakit, begitu memperhatikan wajah suaminya yang babak belur akibat bertikai dengan Haris. Syara mengusap wajah Bara lembut dan meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Bara tampak menikmati belaian tangan Syara yang hangat.


Hingga keesokan harinya, kondisi Syara yang masih belum sepenuhnya membaik, namun sudah lebih segar dari kemarin. Masih dengan kelembutannya, Bara merawat Syara, padahal, wajahnya pun juga membutuhkan perawatan agar lebamnya memudar dan sakitnya menghilang. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Syara untuk bisa bermesraan bersama suaminya. Perlahan, ia hadirkan kembali usaha untuk meluluhkan hati suaminya.


“Boleh tidak, jika aku meminta hubungan kita seperti ini seterusnya?” ucap Syara lirih.


Bara tak merespon. Ia hanya mencium telapak tangan Syara yang mengusap pipi lebamnya. Belum sempat Bara menjawab pertanyaan Syara, Mama Bara memasuki kamar mereka. Sontak, Bara menjauhkan tubuhnya dari tubuh Syara.


“Syara, apa kamu masih sakit?” tanya Mama Bara penuh perhatian.


“Syara sudah lebih sehat, Ma,” jawab Syara pelan.


“Bara, tadi sekretaris kamu telepon Mama, katanya hari ini ada rapat penting dan kamu tidak bisa absen lagi seperti kemarin.” Mama Bara memberi kabar Bara untuk segera berangkat kantor.


“Berangkat, gih. Hati-hati, ya,” pinta Syara tersenyum.


Bara tersenyum kecil pada Syara dan bersiap berangkat menuju kantor.

__ADS_1


###


Sesampainya di kantor, ia mendapat panggilan telepon dari Raya yang tengah protes karena tak menjemputnya dan juga tak memberi kabar dari kemarin. Bara pun menjelaskan bahwa telah terjadi pertikaian antara dirinya dan Haris, juga tentang Syara yang sakit. Bara izin menutup teleponnya karena ia harus segera menghadiri rapat.


Mendengar percakapan Bara, sekretaris Bara mendekatinya. “Maaf, Pak, di catatan saya, tidak ada rapat apapun hari ini. Yang Bapak maksud rapat apa, Pak?”


Bara terdiam seketika memahami maksud sang Mama untuk tak berduaan dengan Syara.


“Saya lupa, saya pikir hari ini akan ada rapat,” jawab Bara sembari meninggalkan sekretarisnya dan menuju ruang kerjanya.


Bara seakan tak fokus bekerja karena memikirkan keadaan Syara. Ia mulai terbayang-bayang wajah istrinya yang kalem itu. Bara juga mengingat kata-kata Haris saat selesai akad dulu. “Laki-laki dan perempuan yang sering berada dalam 1 ruangan, suka tak suka pasti akan tetap ada nafsunya.”


Bara tersenyum-senyum sendiri, hingga ia tak sadar sekretarisnya telah mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangannya utk menyerahkan berkas. Bara seperti kelimpungan tak jelas. Ia pun segera memaksa otaknya untuk fokus bekerja.


###


“Apa kamu sudah sembuh?” Bara tampak mengirim pesan pada Syara.


Syara kembali bersemangat menjalankan rencananya untuk meluluhkan hati Bara. Ia sengaja membuatkan secangkir teh lemon hangat kesukaan Bara. Kali ini, Bara menyambut dengan senyuman.


“Terima kasih, ya,” ucap Bara lembut.


Syara mengusap punggung Bara dan lagi-lagi Bara menampiknya. Namun kali ini, Bara menampik tangan Syara dengan lembut dan memegangnya erat. Bara memindahkan tangannya memegang pinggang Syara dan mulai mencium bibirnya. Dalam pelukannya, Bara mendorong perlahan tubuh Syara hingga jatuh ke kasur.


Syara seolah tak ingin melawan perlakuan Bara dan ia pun hanya ingin memasrahkan tubuhnya pada lelaki yang dicintainya itu. Syara hanya menutup mata merasakan kenikmatan yang seharusnya ia dapatkan sejak awal pernikahan. “Beginilah seharusnya hubungan kasih sayang seorang suami dan istri.”


Sejak malam itu, hampir setiap hari Bara meminta untuk melakukannya. Syara hanya mampu menuruti untuk melayani suaminya itu sebagai bentuk kewajibannya. Namun, terkadang Bara memaksa seolah tak mempedulikan keadaan Syara saat itu. Akan tetapi, Syara tetap bersyukur keadaan rumah tangganya telah membaik.

__ADS_1


Syara yang mengira suaminya telah berubah, sepertinya tak bisa berbangga hati dahulu. Bara masih tetap menjalin hubungan dengan Raya. Bara seolah kembali menjadi suami yang kejam. Setiap pagi ia tak lupa menjemput Raya dan mengantarkannya pulang kantor pada malam hari. Seperti biasa pula, setiap Syara protes, Bara membentaknya.


“Lalu apa gunanya yang kemarin kita lakukan, Bar, kalau kamu masih saja selingkuh? Aku pikir kamu sudah berubah!” protes Syara yang tak ingin lagi diam.


“Bukankah memang seharusnya suami istri melakukannya? Kamu ‘kan yang memintaku untuk menganggapmu sebagai istri?” jawab Bara tak merasa bersalah.


“Aku tidak hanya berhak soal nafkah batinmu, tapi aku juga berhak mendapat kasih sayang dan kesetiaanmu. Aku pikir kamu sudah berubah, tapi ternyata kamu tetap saja menjadi Bara yang jahat. Kamu benar-benar CEO munafik!” lanjut Syara yang tak terima dengan sikap Bara.


“Yang penting kamu sudah mendapatkan nafkah lahir dan batin dariku. Diberi hati minta jantung! Jangan banyak protes dan jangan membuat aku marah!” perintah Bara sembari meninggalkan istrinya.


Syara benar-benar kecewa pada sikap Bara. Ia pikir dengan perubahan Bara kala itu, rumah tangganya akan lebih baik namun ternyata sama saja bahkan lebih parah. Syara yang masih menahan amarahnya pada Bara, tiba-tiba merasa pusing dan mual. Beberapa kali ia ke kamar mandi untuk memuntahkan mualnya. Namun ternyata, ia hanya mual.


“Apa aku masuk angin ya seperti waktu itu,” ucapnya tak bergeming.


###


Beberapa hari ini, Syara terus merasa mual dan pusing, padahal ia sudah meminum obat masuk angin. Nafsu makannya pun berkurang. Ia bahkan pusing ketika mencium bau makanan. Mama Bara merasa ada yang aneh ketika mendengar menantunya tersebut sering mual ingin muntah. Tiba-tiba, Mama Bara berfikir bahwa Syara hamil, ia pun menelepon Bara yang sudah berada di kantor.


Bara terkejut mendengar pertanyaan sang Mama. “Sepertinya benar, Ma. Syara hamil anak Bara.”


Mama Bara pun ikut terkejut mendengar pengakuan anaknya. Ia sempat protes pada Bara yang tak bisa menahan nafsunya, padahal jelas Bara tak menyukai Syara. Namun, Mama Bara seolah menemukan siasat baru karena adanya kejadian yang tak terduga ini.


“Ya sudah, tidak apa-apa,” ucap Mama Bara tenang.


Bara lega mendengar jawaban sang Mama yang tak marah padanya. Ia ingin segera pulang untuk membelikan alat tes kehamilan pada Syara. Bara pun juga ingin tahu apakah istrinya benar hamil atau tidak.


Sesampainya di rumah, Bara memberikan alat tes kehamilan yang telah dibelinya, kepada Syara. Syara yang ragu pada kehamilannya, memutuskan untuk berani mengeceknya. Entah mengapa, Syara seakan merasa biasa saja jika pun benar ia hamil, tak berbahagia, tak juga bersedih. Itu semua karena sikap Bara yang belum berubah. Bara yang tak sabar melihat hasilnya, meminta Syara untuk segera  ke kamar mandi.

__ADS_1


Keluar dari kamar mandi, raut muka Syara seketika pucat.


...****************...


__ADS_2