
Berbeda dengan Syara, Bara justru tersenyum sumringah mengetahui hasil kehamilan istrinya. Ya, Syara dinyatakan hamil setelah mengeceknya dengan 3 alat tes kehamilan dengan merk yang berbeda. Bara lalu masuk ke kamar sang Mama dan mengabarkan berita bahagia ini. Namun, entah apa yang dikatakan mama Bara, wajahnya seketika berubah murung ketika keluar dari kamar mamanya.
Bara kembali memasuki kamarnya. Dilihatnya istrinya yang juga sedang murung. Syara pun tampak tak tertarik bertanya pada Bara apakah ia senang atau sedih dengan kehamilannya.
“Bara, seharusnya aku bisa berbahagia dengan kehamilanku, seperti pasangan lainnya pada umumnya. Namun, melihatmu yang ternyata tak juga berubah, jujur aku tidak begitu mengharapkan janin ini ada, karena aku tahu, saat dia lahir nanti, aku hanya membawanya ke dalam keluarga yang buruk,” ucap Syara tak bersemangat.
Bara melihat ke arah Syara dengan mata yang memerah. “Aku juga tak sudi menghamilimu. Aku khilaf!”
Bara keluar kamar dan membanting pintu. Di balik pintu ia menangis. “Aku juga seharusnya berbahagia atas kehamilanmu. Aku juga ingin menjadi seorang ayah.”
Syara yang seakan sudah terbiasa dengan sikap Bara, hanya mampu menangis melihat cerita kehidupannya sendiri. Kini, ia tak bisa seenaknya sendiri meminta cerai. Ia harus memikirkan nasib anaknya jika terlahir dari keluarga yang tak utuh. Ia hanya mampu meratapi nasibnya yang terus dilanda kesedihan bertubi-tubi.
Ia mengambil foto mendiang orang tuanya. “Ayah dan ibu akan mejadi kakek dan nenek. Doakan Syara kuat menjalani hidup Syara, ya Yah, Bu.”
Tiba-tiba, Syara tersadar akan sikapnya yang tak bersyukur. “Aku tidak boleh seperti ini. Ya Tuhan, sebagai seorang ibu, aku telah jahat. Seharusnya, aku berbahagia karena terpilih untuk menjaga dia, malaikat kecilku, maafkan mama, Nak. Mama akan menjaga kamu apa pun yang terjadi. Kita pasti kuat ya, Nak.”
###
Syara berusaha kembali tersenyum. Saat akan menyiapkan minuman untuk Bara yang akan segera pulang kantor, tiba-tiba ponselnya berdering pertanda ada pesan masuk. Tak disangka, ia pun bagai tersambar petir saat membaca pesan tersebut dari Raya.
“Bara ada di rumahku, ia tak pulang malam ini. Jangan tunggu dia.”
Syara menghela nafas panjangnya dan mengelus perutnya.
Syara membalas pesan Raya. “Sampaikan pada Bara, anaknya merindukannya.”
__ADS_1
Raya yang tak paham akan maksud Syara, menanyakan hal ini pada Bara. Bara menjelaskan bahwa Syara tengah mengandung anaknya karena beberapa hari ini mereka sering bercinta. Raya mengamuk mendengar penjelasan Bara. Bara hanya pasrah mendengar amukan Raya.
“Kamu bilang kamu tidak menyukainya, rencana kita adalah membuat dia menggugat cerai kamu, Bara. Tapi kenapa kamu malah menghamilinya!” bentak Raya tak terima.
Bara terus menenangkan Raya. “Hubungan kita akan tetap terus berjalan, Ray.”
Bara dan Raya masih beradu kata-kata di dalam mobil Bara yang berhenti di depan rumah Raya. setelah sekian menit lamanya, Raya sudah tak ingin mendengar kalimat penenang dari Bara dan memutuskan untuk turun dari mobil kemudian berlari masuk ke dalam rumahnya. Bara menginjak gas mobilnya berlalu dari rumah Raya.
###
Malam semakin larut, Syara tak kunjung mampu memejamkan matanya. “Apa benar Bara jadi menginap di rumah Raya? Mengapa ia setega itu padaku?”
Syara yang tengah melamun memikirkan rumah tangganya, dikejutkan dengan kedatangan Bara. Bara pulang dalam keadaan mabuk. Dalam keadaan setengah tak sadarkan diri, ia menghampiri dan memeluk Syara.
“Bara, kamu mabuk ya?” tanya Syara mengusap-usap wajah suaminya itu.
“Aku begitu mencintaimu, Bara. Bahkan ketika kita bertemu, aku yang tak memiliki perasaan apapun padamu, begitu kuat melawan diriku untuk meyakinkan hatiku menerima pernikahan kita. Hingga aku sangat menyayangimu, tak peduli terhadap apa yang telah kamu lakukan padaku. Tapi kenapa, kamu tak melakukan hal yang sama? Kenapa kamu tak mau mencoba mencintaiku, Bara?” Syara semakin menangis sesenggukan.
Bara mengusap air mata di pipi Syara. “Maafkan aku, aku juga mencintaimu.”
Syara semakin menangis mendengar perkataan Bara. Tangisannya membuat ia tak sadar ikut tertidur di samping Bara hingga pagi. Suara gedoran pintu mama Bara membangunkan mereka.
Bara yang lebih dahulu bangun, sekilas memandangi wajah manis istrinya, mengusap perut sang istri, kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk segera bersiap berangkat kantor.
Keluar dari kamar mandi, Bara mendapati Syara telah menyiapkan roti dan susu untuk sarapan Bara. “Kamu harus sarapan dulu ya, Bar.”
__ADS_1
“Aku langsung berangkat saja, sudah hampir telat,” ucap Bara sembari melengkapi memakai baju kantornya.
“Bar, kamu lupa semalam kamu bilang apa? Kok kamu sering berubah-ubah sih?” tanya Syara seraya memeluk mesra sang suami dari belakang.
Dengan sigap Bara melepaskan pelukan Syara. “Aku mabuk semalam, jadi ngelantur. Jangan dengarkan kata-kataku semalam.”
Bara pergi meninggalkan Syara di kamar.
###
Haris berfikir keras menghubungkan semua informasi yang telah ia kumpulkan. “Om Brama sering membantu Syara dan ibunya sepeninggal ayahnya. Sering membelikan makanan dan baju, juga membiayai sekolah Syara. Apa itu ada hubungannya dengan semua ini?”
Haris juga memberanikan diri mengirimkan pesan pada Syara setelah beberapa hari ini mereka tak berkomunikasi. Haris bermaksud agar Syara mengingat kembali memori masa lalunya saat papa Bara sering membantu keluarganya, dan meminta Syara segera menghubunginya kembali setelah ia mengingatnya. Apakah ada kejanggalan atau hubungan yang lebih antara papa Bara dan ibu Syara. Entah mengapa perhatian Haris justru tertuju pada keterangan Syara tersebut yang mengatakan Om Brama sangat baik pada ia dan ibunya.
Satu hal yang digaris bawahi oleh Haris adalah tentang percakapan antara Om Gustav dengan mama Bara. Tak mungkin rasanya jika Om Gustav tak mengetahui apapun. Kalau memang benar begitu, mengapa dia bisa mengatakan seolah mama Bara memiliki tujuan?
Karena tak ingin pusing sendiri, Haris meminta waktu pada Om Gustav untuk bertemu. Awalnya Om Gustav menolak, namun akhirnya ia mengiyakan permintaan Haris. Tentunya, dengan kecerdikan Haris yang mengatakan bahwa jika Om Gustav menolak bertemu dengannya, maka ada kemungkinan Om Gustav sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tak ingin Haris menuduhnya yang tidak-tidak, Om Gustav terpaksa mau menemui Haris.
“Apalagi, Haris yang ingin kamu tanyakan? Sebenarnya apa hal yang menurutmu janggal hingga kamu begitu ingin mencari tahu persoalan masa lalu?” tanya Om Gustav tanpa basa basi setelah bertemu dengan Haris.
“Haris cuma ingin tahu bagaimana hubungan antara Om Brama dengan ibu Syara?” Pertanyaan Haris mengejutkan Om Gustav.
“Tentang itu, om tidak tahu. Yang om tahu, Mas Brama sering membantu Syara dan ibunya setelah ayahnya meninggal, dengan tujuan ingin membalas budi kebaikan orang tua Syara yang dulunya sering membantu orang tua Bara,” jelas Om Gustav yang masih menggantung.
“Lalu, soal kematian Om Brama yang tiba-tiba, apa ada hubungannya juga dengan hubungan Om Brama dengan ibu Syara? Karena dulu, Bara pernah cerita sama Haris kalau papanya sengaja diracun oleh seseorang, yang sampai saat ini Bara juga tak mengetahuinya.” Haris terus mengintrogasi Om Gustav.
__ADS_1
Mendengar kalimat Haris yang baru saja ia lontarkan, Om Gustav tiba-tiba menerima telepon dan izin pada Haris untuk mengakhiri pertemuan mereka. “Maaf, Haris, om ada audit siang ini, harus segera ke kantor. Kapan-kapan kita sambung lagi ya. Dan untuk soal kematian Mas Brama, om sama sekali tidak sependapat jika ia diracun oleh seseorang, karena yang om dengar dari tim dokter saat itu, keracunan itu bukan disengaja melainkan karena obat yang tidak seharusnya diminum bersamaan. Penyakit Mas Brama yang komplikasi, membuatnya harus meminum banyak obat.”
...****************...