Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Tanda Tanya


__ADS_3

“Ma, Syara boleh pinjam sisir Mama, nggak? Sisir Syara patah, belum beli lagi,” ucap Syara bernada merengek pada sang mertua.


“Boleh, sayang. Syara ambil aja di atas laci kamar mama ya,” jawab Mama Desi.


Syara bergegas menuju kamar Mama Desi yang tak tertutup rapat. Syara menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah mencari letak sisir tersebut. “Oh, ini.”


Saat Syara akan mengambil sisir berwarna hitam tersebut, ia tak sengaja melihat laci yang sedikit terbuka. Saat akan menutup laci itu, ia melihat sebuah kertas berukuran A6 yang tampak terlihat bagian pucuknya di dalam laci. Syara menarik kertas itu yang ternyata adalah sebuah foto seseorang yang sengaja dirobek.


“Ibu.”


Mama Desi yang sedang asyik menonton televisi di ruang tengah, tepat di depan kamarnya, menyadari Syara tak segera keluar kamar. Ia pun bergegas menghampiri Syara. Mama Desi terlihat lega saat melihat Syara yang tengah menyisir rambutnya.


“Maaf ya, Ma, Syara sisir rambut sekalian di sini, biar sisirnya langsung bisa Syara kembalikan,” ucap Syara sembari meletakkan sisirnya ke tempat semula.


Mama Desi tersenyum. “Cantiknya menantu Mama.”


Syara membalas senyuman mertuanya itu dan berpamitan untuk kembali ke kamar.


“Untung aja tadi aku cepat-cepat kembalikan foto itu di sana,” gumam Syara dalam hati.


Sampai di kamar, Syara terus memikirkan foto itu. “Kenapa foto Ibu dirobek? Iya, itu sangat jelas sengaja dirobek.”


Tak sadar, Syara meneteskan air mata mengingat kedua orang tuanya yang telah tiada. Kini, ia dibuat bingung dengan keadaan yang ada. Seolah ia sedang berada dalam kehidupan yang tak berarah. Biarpun ia memiliki mertua yang sangat baik, namun hidupnya terasa hampa. Entah apa yang salah, atau apa yang kurang. Tak ada tempat untuk Syara bercerita, selain Haris.


Tiba-tiba, Syara teringat akan Om Gustav, banyak pertanyaan dalam benaknya, selain tentang foto yang tadi dilihatnya. Mengapa Om Gustav tiba-tiba menghubunginya. Dan mengapa beliau seperti terkejut setelah mengetahui Syara adalah anak Mirna.  Syara mengambil ponselnya dan menelepon Haris.

__ADS_1


“Ya, Ra, ada apa?” jawab Haris ramah.


“Har, kamu ada waktu nggak besok? Aku mau bertemu kamu. Ada yang ingin aku tanyakan,” ujar Syara langsung pada intinya.


“Boleh, Ra. Besok pagi jam 9 kebetulan aku lagi nggak ada jadwal bertemu klien. Mau janjian dimana? Aku jemput kamu atau gimana?” tanya Haris memastikan kemauan Syara.


“Gak usah, Har, tempatnya dekat kok, kita langsung bertemu di sana aja. Di taman komplek rumah gimana? Biar besok aku ada alasan sama Mama untuk keluar rumah. Aku nggak enak kalau izin mau bertemu kamu,” ungkap Syara.


“Oh, oke, Ra. sampai jumpa besok,” tutup Haris.


###


Syara berjalan menuju taman komplek perumahan setelah mendapatkan izin dari sang mertua bahwa ia akan berlari-lari di sekitar perumahan mencari udara segar. Ternyata, Haris sudah duduk di salah satu bangku taman. Syara pun menghampiri Haris.


“Gak apa-apa, Ra. Santai aja, aku nggak terburu-buru kok. Ada apa, Ra?” tanya Haris penuh keingintahuan.


“Har, kamu kenal dekat ya sama Om Gustav? Kalau boleh tau, bagaimana hubungan beliau sama Bara dan juga mamanya? Atau kamu pernah dengar cerita tentang beliau?” tanya Syara yang tak pakai basa-basi.


Haris menatap Syara dalam-dalam. “Nggak dekat banget sih, Ra, cuma memang kenal aja. Aku pernah dengar kalau Om Gustav tidak begitu disenangi oleh keluarga Bara, karena dulu kata Bara, Om Gustav pernah mau ambil perusahaan orangtua Bara. Aku juga nggak tau kenapa orang sebaik dia bisa sampai seperti itu, ‘kan Om Gustav itu adik satu-satunya Om Brama, papanya Bara. Semenjak Papa Bara meninggal, Om Gustav kerja di salah satu perusahaan swasta. Oh iya, kemarin Om Gustav minta nomor telepon kamu ke aku.”


“Kamu tau nggak Papanya Bara meninggal karena apa?” tanya Syara semakin ingin mengorek keluarga Bara.


“Kata Bara sih karena keracunan, apalagi saat itu Om Brama lagi sakit parah, tapi aku nggak tau sakit apa. Makanya, sekarang Bara yang melanjutkan bisnis papanya. Ada apa sih, Ra? apa ada hubungannya sama yang diobrolin Om Gustav waktu itu?” Haris kembali bertanya pada Syara.


Syara semakin dibuat bingung dengan keluarga Bara. Sepertinya, ia harus menerka-nerka. Syara menceritakan tentang apa yang diperbincangkan Om Gustav saat bertemu dengannya tentang pernikahannya dengan Bara, termasuk maksud Om Gustav yang tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan akan membutuhkannya suatu saat nanti. Ia juga menceritakan tentang foto ibunya yg disobek, yang ia temukan di laci kamar mertunya.

__ADS_1


“Har, kamu bisa bantu aku nggak? Temani aku menemui Om Gustav, aku pengen bertanya langsung sama beliau, karena sepertinya Om Gustav mengenal ibuku,” pinta Syara sedikit merengek.


Haris pun menyetujui permintaan Syara. Haris yang tak pernah ada pikiran apa pun tentang keluarga Bara juga pernikahan tiba-tibanya dengan Syara, menjadi memiliki banyak pertanyaan dalam benaknya. Haris juga mengatakan pada Syara tentang tas yang dibelikan Mama Desi pada Raya.


“Jadi, maksud kamu mama bohong? Tapi apa alasannya? Rasanya mama nggak mungkin begitu, Har,” jawab Syara yang tak percaya akan pernyataan Haris.


“Tapi, Raya juga gak mungkin bohong, Ra. Aku tau dia. Aku hafal betul kalau Raya sedang berbohong atau tidak itu seperti apa. Ya aku juga nggak tahu apa maksud Tante Desi, tapi tidak menutup kemungkinan ada alasan tertentu.” Haris terus meyakinkan Syara.


Syara melamun mendengar jawaban Haris.


"Tapi, kalau memang benar Mama yang membelikan Raya tas, apa maksudnya? Padahal aku menantunya. Kenapa jawaban mereka berbeda? Apa ada yang ditutupi?" gumam Syara dalam hati yang masih tak paham tentang semua ini.


###


Terdengar dering ponsel Syara pertanda ada telepon masuk.


“Ra, sori nih, aku udah hubungi Om Gustav, tapi beliau belum ada waktu untuk bertemu kita. Gimana?”


“Gak apa, Har. Kita coba lain waktu ya. Terima kasih ya sudah membantu aku,” jawab Syara di telepon.


“Tapi, Ra. Aku rasa Om Gustav sengaja menghindar, aku nggak tau apakah dugaan aku itu benar, tapi percaya nggak percaya, aku bisa membaca pikiran seseorang dari intonasi kalimatnya. Ya, aku dulu pernah belajar sedikit tentang ilmu psikologi,” ucap Haris dengan nada serius.


Syara terdiam semakin pusing dibuatnya. “Ada apa sebenarnya? Kenapa Om Gustav seperti itu? Bukankah ia sendiri yang memintaku untuk berhati-hati, memang ada apa? Apa yang ia ketahui tentang keluargaku juga keluarga Bara?”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2