
Bara segera menuju ke rumahnya untuk menemui sang mama setelah ART Haris datang untuk menemani Syara di apartemen.
“Akhirnya anak Mama pulang,” sambut mama Bara sembari memeluknya.
“Bara ke sini mau membicarakan sesuatu.” Bara mengajak mamanya ke ruang tengah.
“Ada apa, Nak, kok serius sekali. Tentang istri kamu yang jahat itu?” tebak sang mama.
“Mama yang jahat, bukan Syara!” tegur Bara dengan tegas.
Bara mulai menjelaskan tentang informasi yang di dapatnya dari pihak rumah sakit. Bara juga menanyakan pada mamanya tentang detail keberadaannya saat itu ketika papa Bara dibawa ke rumah sakit. Mimik wajah mama Bara berubah saat melihat tanda tangannya ada di surat kesepakatan untuk tidak melanjutkan tindakan medis. “Mama tidak pernah menandatangani surat ini.”
Setelah mendengar penjelasan dari mamanya, bahwa beliau tak ikut mengurus kematian papa Bara di rumah sakit, Bara mulai memutar rekaman pengakuan Om Gustav.
Amarah Mama Bara seakan memuncak mendengar pengakuan Om Gustav. “Jadi selama ini, dia membohongi Mama soal penyebab kematian Mas Brama. Dulu dia mengirimkan foto surat keterangan dari rumah sakit bahwa papa kamu meninggal karena keracunan yang ternyata surat itu palsu.”
“Pantas saja tiba-tiba semenjak dia tahu Mama menikahkan kamu dengan Syara untuk membalas dendam, dia ketakutan dan mengatakan alasan yang berbeda. Tiba-tiba Gustav bilang Mas Brama meninggal karena keracunan obat padahal jelas-jelas dulu dia hanya bilang Mas Brama keracunan,” lanjut mama Bara dengan perasaan tak menentu.
__ADS_1
“Lalu kenapa Mama tak mencari tahu sendiri saat itu?” Bara terus mengejar jawaban mamanya agar semua jelas.
“Mama sedang kalut saat itu, hati Mama penuh dendam, amarah, dan kebencian terhadap Mirna. Saat mendengar papamu keracunan, pikiran Mama sudah tertuju pada Mirna. Papa kamu sekarat setelah meminum teh dari dia. Saat itu juga, Mama terus menyalahkan Mirna dan menerornya hingga ia depresi dan penyakitan lalu meninggal,” jawab mama Bara yang mencoba mengingat masa lalunya.
Bara memeluk sang mama. “Semua sudah berlalu, Ma, ikhlaskan kepergian papa ya, lupakan semuanya, papa sudah tenang di sana. Papa akan sedih kalau Mama terus memiliki dendam, maafkan kesalahan papa ya, Ma, juga kesalahan ibu Syara yang mungkin pernah membuat Mama sakit hati. Kita mulai hidup yang baru ya, Ma.”
Mama Bara membalas pelukan anaknya.
Ketika mereka sedang berpelukan, Om Gustav datang bersama Haris dan juga Syara. Om Gustav bersujud di kaki mama Bara dan meminta maaf atas semua yang terjadi. Om Gustav menjelaskan alasan mengapa ia tega menukar obat yang sebenarnya tak diniatkan untuk menghilangkan nyawa kakak kandungnya.
Bara membangunkan Om Gustav dan meminta mamanya memaafkan Om Gustav. “Bagaimana pun, papa juga ada salah sama Om Gustav. Kita saling memaafkan ya, Ma.”
“Atas nama ibu, Syara juga meminta maaf kalau ibu membuat Mama sakit hati karena hubungannya dengan papa Bara. Tapi, Syara sudah membayarnya ‘kan, Ma, melaui pernikahan Syara dan Bara. Apa masih ada hutang ibu yang harus Syara bayar?” tanya Syara menahan tangisnya.
Mama Bara menggeleng. Dia menghampiri Syara dan memeluk menantunya itu. “Maafkan Mama, Mama yang berhutang pada kamu, atas semua keburukan yang Mama lakukan kepada kamu. Mama yang harus membayar semuanya.”
“Tidak, Ma. Syara sudah memaafkan Mama. Syara tidak ingin masa lalu membayangi kehidupan Syara karena semua sudah berlalu. Jadi Syara mohon, Mama menghilangkan semua dendam di hati Mama. Kita sudah sama-sama membayarnya,” jawab Syara bijaksana.
__ADS_1
Mama Bara tersenyum mendengar jawaban Syara dan kembali mengalihkan pandangannya pada Om Gustav. “Atas nama Mas Brama, aku memohon maaf atas ucapan juga sikapnya yang membuatmu sakit hati.”
Bara tak lupa menyampaikan ucapan terima kasihnya pada Haris yang telah membantunya selama ini. Ia juga meminta maaf karena pernah berseteru hingga berkelahi dengan teman setianya itu. Bara menghampiri dan memeluk Haris. “Har.”
“Kita semua saksinya ya, bahwa tidak akan ada lagi dendam di masa lalu yang dibawa dalam kehidupan kita yang sekarang. Semua sudah jelas dan selesai sampai di sini!” tegas Bara memastikan semuanya benar-benar telah usai.
Mereka saling berpelukan.
“Eh, satu lagi. Har, karena kamu sudah banyak membantuku, aku juga akan membantumu. Aku ingin kita menjadi keluarga besar,” ujar Bara pada Haris.
Semua orang seakan tak paham akan maksud Bara.
“Ehm, Om Gustav punya anak-anak gadis yang cantik bukan? Apa boleh 1 untuk teman saya yang baik ini, Om? Bara berani jamin Haris adalah lelaki terbaik sejagad raya ini, bahkan lebih baik dari Bara,” goda Bara membuat Haris salah tingkah.
Semua orang tertawa setelah memahami maksud Bara.
Selesai berdiskusi, Bara mengajak semua yang ada di rumahnya untuk ziarah ke makam papanya, kecuali Haris karena ia harus kembali bekerja.
__ADS_1
“Ma, menjadi mama beberapa tahun lalu memang tidak mudah. Untuk itu, Bara tak mau memperpanjang semuanya. Disakiti oleh pasangan sendiri adalah hal yang sangat berat. Bara bisa memaklumi dendam Mama yang teramat besar. Bara juga tak mau mengungkit apa yang Mama lakukan pada Syara karena sakit hati Mama yang begitu dalam. Dan menjadi Om Gustav juga tidak mudah. Tak dianggap oleh kakak kandungnya sendiri, sedangkan keluarga yang dimiliki hanya lah papa. Papa mungkin adalah orang yang paling pantas disalahkan, tapi papa sudah bahagia di sana, kami ikhlas akan semua yang sudah papa lakukan. Kini, semua sudah berlalu, saling memaafkan adalah hal terbaik yang harus kami lakukan,” ucap Bara dalam hatinya.
...****************...