Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Kehidupan Baru


__ADS_3

Kama seakan menjadi penyemangat bagi Syara yang masih belum melupakan kepergian Kalila. Malaikat kecil itu memang hanya diizinkan bertemu dengannya selama 14 hari, namun hampir 9 bulan Syara mengandungnya, meskipun ia melahirkannya dengan operasi. Namun, tidak sedikitpun ada yang berbeda setelah menjadi ibu.


14 hari yang terasa seperti 14 tahun ia mengasuh putri kecilnya. Kehilangan yang dirasakannya begitu mendalam. Bahkan mungkin rasa kehilangan ini akan terus membekas menjadi rindu yang tak tersampaikan. Setiap ia melihat Kama, ia akan langsung teringat pada Kalila.


Syara merawat Kama penuh kehati-hatian, seolah tak mau jika ada yang salah dan membuat Kama meninggalkan dirinya. Ia tak akan sanggup, membayangkannya pun tak mampu. Air matanya kembali mengalir. “Kama, anak laki-laki Mama, tumbuhlah dengan baik ya, Nak.”


Bara sengaja menambah waktu cutinya. Ia ingin mendampingi Syara sampai kondisi istrinya stabil. Setiap sore hari, Bara masih melihat Syara melamun di balkon kamar. Seperti sore ini, ketika selesai menidurkan Kama, Syara berdiri di balkon kamarnya dan mulai memandang langit.


“Biasanya, sore begini aku masih di rumah sakit untuk menyusui Kalila. Sedang apa kamu di sana, Nak? Mama rindu,” gumamnya menangis.


Bara terus memeluk istrinya. Bara terus menghibur Syara agar tak mengingat Kalila terlalu dalam. “Kasian dia, Sayang. Aku takut Kalila tak bahagia bersama teman-temannya di Surga karena mamanya masih terus mencarinya.”


“Sudah ya, kita akan bertemu dia lagi nanti,” imbuh Bara mengusap lembut kepala istrinya.


Bara kembali memeluk dan mencium istrinya. “Nanti kita buat lagi yang secantik Kalila ya.”


Syara tersenyum mendengar ucapan suaminya.


###


Semenjak kepergian Kalila, mama Bara memang berubah total padanya. Ia jauh lebih sayang pada Syara. Entah kebahagiaan apa yang ditinggalkan oleh malaikat kecil itu, hingga membuat omanya kembali baik pada mamanya.


Mama Bara tak tampak mengatur soal merawat Kama, ia juga tak pernah menyalahkan Syara atas kepergian Kalila, padahal dulu, mama Bara sempat mengancam jika terjadi sesuatu pada cucunya. Mertua Syara itu juga tidak pernah lagi mengomentari berat badannya.


“Mungkin, andai Kalila masih ada, dia akan membuat kebahagiaan di rumah ini semakin sempurna,” batinnya dalam hati.


Sore ini, Bara sengaja mengundang Om Gustav, Haris dan Yesa yang sudah mulai bisa keluar rumah membawa bayinya. Bara ingin suasana rumah selalu ramai agar Syara tidak terus menerus mengingat Kalila. Mama Bara juga telah menyiapkan banyak makanan untuk dihidangkan pada mereka.

__ADS_1


Bel rumah Bara berbunyi, Bara yang mengira itu adalah Haris juga mertuanya, ternyata bukan. Raya dan suaminya, serta Selena yang ternyata berkunjung ke rumah. Mereka ingin melihat Kama dan berbela sungkawa atas kepergian Kalila. Bara dengan ramah menyambut mereka dan mempersilakan masuk.


Selena memeluk Bara juga Syara untuk menguatkan mereka berdua. “Aku turut berduka cita ya, maaf baru ke rumah sekarang, aku takut kalian masih sibuk kemarin, yang kuat ya.”


Selena juga membawakan Syara kue untuk sedikit mengurangi kesedihannya, juga membawakan kado untuk Kama. Selena juga terus memberi afirmasi positif untuk temannya itu. Bara dan Syara mengucapkan terima kasih atas perhatian Selena.


Sama halnya dengan Raya, ia juga langsung memeluk Syara untuk meminta maaf atas kesalahannya selama ini. “Syara, aku minta maaf atas semua kesalahan aku sama kamu. Selamat untuk kelahiran Kama ya, dan aku turut berduka cita untuk Kalila. Bar, maaf ya untuk semuanya. Aku juga ada kado untuk Kama.”


Syara hanya tersenyum mengangguk pada Raya, begitu pun dengan Bara.


Tak lama, Haris dan Om Gustav serta Yesa dan bayinya datang ke rumah. Suasana rumah semakin ramai kala mama Bara juga bergabung dengan mereka. Selena dan Raya pun bergantian ingin menggendong bayi Haris. Mereka juga ingin sekali menggendong bayi Bara. Hanya saja, Kama sedang tidur dan belum diperbolehkan mendapat sentuhan dari banyak orang, sehingga Syara dan Bara enggan untuk membawanya turun.


“Jadi kapan nih, Ray?” goda Haris.


“Jangan berisik, doakan aja, semoga setelah ini,” jawab Raya sembari memandang suaminya.


Semua orang tertawa mendengar ancaman Selena.


“Kalau saling baik seperti ini ‘kan enak, saling rukun, tidak ada pertikaian, tidak ada permusuhan apalagi dendam, kita semua bisa tenang.” Om Gustav ikut menimbrung pembicaraan.


Semua orang seakan setuju dengan pendapat Om Gustav.


Syara pun mulai tersenyum dengan kehadiran banyak orang. Bara juga meminta agar siapa pun boleh mampir ke rumahnya, agar rumahnya selalu ramai. Dengan begitu, Syara tidak merasa kesepian.


“Nanti setiap minggu aku sama Yesa akan sering mampir ya, kalian juga boleh kalau mau mampir ke apartemen kita, biar Kama ada teman bermainnya,” ujar Haris.


“Bau-baunya akan ada perjodohan bayi nih,” sahut Selena membuat para tamu tertawa.

__ADS_1


###


Sudah 1 bulan berlalu, Kama semakin sehat dan tumbuh kembangnya juga pesat. Penglihatannya pun sudah sempurna hingga ia sudah bisa diajak bercanda. Syara juga sudah tak sesedih saat itu, walaupun setiap melihat Kama, ia juga pasti teringat Kalila. Setiap Syara ingin menangisi Kalila, ia selalu melampiaskannya dengan bermain bersama Kama.


Mama Bara yang telah berubah juga membuat hidup Syara semakin bahagia karena merasa memiliki seorang ibu. Hampir setiap hari mertuanya itu menyiapkan makanan untuknya, agar ASInya lancar dan banyak. Tak ada celotehan dan cemoohan yang keluar dari mulutnya, hanya perhatian dan kasih sayang yang tulus.


“Bayi laki-laki itu minumnya banyak, jadi ASI kamu juga harus cukup, ayo makan yang banyak Mama sudah masak,” pinta mama Bara yang memasak begitu banyak makanan lengkap.


“Terima kasih banyak ya, Ma untuk semua perhatian Mama,” ucap Syara penuh syukur.


Mama Bara juga meminta Bara mengajak Syara berlibur agar melupakan kesedihannya. Setidaknya, ketika Kama sudah bisa ditinggal bersama perawat saja atau ketika Kama sudah bisa dibawa bepergian. Syara benar-benar merasakan kehidupan yang sebenarnya. Dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Belum lagi, Haris dan Yesa yang seakan semakin melengkapi kehidupannya yang baru, saat ia telah banyak mengalami kehilangan.


Beberapa bulan kemudian...


Bara, Syara, Haris dan juga Yesa yang sudah merencanakan untuk berlibur bersama ke Bali, membawa bayi mereka yang sudah berusia 4 bulan. Kama begitu bahagia melihat keindahan dunia. Tawanya renyah, seakan begitu menikmati kenikmatan ciptaanNya. Tangan mungilnya mencoba menggenggam pasir di tepi pantai.


Tingkah menggemaskan para bayi yang sedang berlibur itu pun menambah kebahagiaan para papa dan mamanya. Senyum dan tawa yang menghiasi hari-hari mereka selama berlibur, seakan tak memberi ruang pada sang duka untuk turut membersamai mereka. Segala kesedihan telah diletakkan pada tempat dan waktunya sendiri.


Syara menatap langit yang begitu indah. "Kalila sayang, kamu pasti juga sedang tersenyum bahagia di atas sana. Sampaikan salam kami untuk kedua opa kamu, oma, dan juga kakakmu di sana ya."


Pandangannya kembali lurus ke arah air laut yang menyegarkan. Ia mengehela nafas begitu panjang dan dihembuskannya segala duka lara yang masih tersisa. Segala beban dan ego telah ia lepaskan perlahan, mengiringinya dengan keikhlasan.


"Di dunia ini ada hitam dan ada putih, sama halnya dengan kehidupan kita yang akan menemui hal-hal yang menyedihkan juga yang menyenangkan. Keduanya akan selalu berdampingan, tanpa bisa diminta hanya salah satunya. Karena sejatinya, setiap kesedihan akan membawa kebahagiaan. Jangan sampai kita terlalu larut dalam kesedihan, karena kebahagiaan berikutnya tidak akan datang tanpa adanya kesedihan. Jangan sampai juga kita terlalu larut dalam kebahagiaan, karena hal itu pun juga tak akan abadi. Nikmati sewajarnya, karena tugas manusia hanya lah memerankan skenario dari Yang Maha Kuasa.


"Kama, mungkin kamu belum sempat melihat betapa cantiknya adikmu, tapi percayalah, ia akan selalu ada di dalam hidupmu."


“Kalila, terima kasih atas kehadiranmu yang singkat. Mama, Papa, juga Kama akan selalu merindukanmu. Kami akan selalu mencintaimu. Tunggu kami ya, Nak.”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2