
Syara melihat Bara yang tengah mabuk berat, berbaring di sofa rumah Raya.
“Kamu seharusnya istirahat di rumah, Bara,” isak tangis Syara melihat sang suami setengah tak sadarkan diri.
“Kenapa bisa sampai mabuk, Ray? Kamu yang ajak Bara mabuk?” Haris murka pada Raya.
“Bara mabuk karena stres menjalani pernikahannya sendiri, bukan karena aku. Justru Bara akan bahagia dengan aku! Bara menelepon aku untuk menjemputnya di bar karena dia sudah mabuk berat.” Raya membela diri tak mau disalahkan atas kondisi Bara.
Haris marah pada Raya yang tak membawanya pulang ke rumah. “Lalu kenapa tak kamu antar pulang ke rumahnya, kenapa malah ke rumah kamu? Mau buat masalah apalagi kamu ha? Tante Desi yang menyuruhmu mendekati Bara?”
“Har, lebih kamu diam! Kalau aku membawa ke rumahnya dan dia melihat Syara, yang ada dia semakin stres,” jawab Raya yang menginginkan Bara tetap berada di rumahnya.
“Omong kosong!” Haris mengambil air dalam ember dan menyiramkannya pada wajah Bara.
Setelah Bara tersadar, Haris merangkul Bara menuju mobilnya untuk diantar ke rumah. Raya mencegahnya, namun Syara yang tak pernah mau ada pertikaian, terpaksa melawan Raya. Kali ini Syara benar-benar tak mau tampak lemah di hadapan Raya.
Syara menampar Raya. “Cukup jangan mencampuri urusan rumah tanggaku. Bara tidak bahagia bukan karena aku tapi karena tuntutan mamanya. Dan kehadiran kamu semakin memperburuk keadaan! Bara sendiri yang bilang dia mencintai aku!”
Syara dan Haris pergi dari rumah Raya membawa Bara. Haris juga meminta sopir Bara untuk mengambil mobil Bara di rumah Raya. Selama di mobil, hati Syara berkecamuk tak tenang. Perasaannya begitu kuat pada Bara, namun ia sudah tak tahan melihat suaminya bersama Raya.
“Bukan kah kata mama kamu dendamnya sudah selesai? Tapi kenapa kamu masih menyiksaku dengan tetap bersama Raya?” Syara tak kuat menahan tangisnya.
“Sa..yang..aku minta maaf,” ucap Bara lemah tak berenergi.
Haris pun tak henti menceramahi temannya itu. Haris yang sudah percaya pada Bara, kembali kecewa dibuatnya. Ia pun mengingatkan apa yang pernah Om Gustav katakan jika Bara terus menyakiti Syara maka ia tak akan bertemu lagi dengannya.
Haris memberhentikan mobilnya di pom bensin dan membelikan minuman untuk Bara agar sepenuhnya tersadar. Haris ingin berbicara pada Bara yang tak mungkin dilakukannya di rumah Bara. Mama Bara akan menghalangi Haris menyidak anak tunggalnya itu.
“Bar, dengar! Apa maksudmu mabuk? Jawab, Bar!” bentak Haris.
__ADS_1
Syara sebisa mungkin menenangkan Haris agar tak keras pada suaminya.
“Syara, kamu yang seharusnya tenang. Aku tidak akan melukai suamimu. Aku hanya meminta kejelasannya tentang apa yang dilakukannya,” tegas Haris.
Haris kembali bertanya pada Bara apakah mamanya yang memintanya untuk tetap bersama Raya dan apa tujuannya. Bukan kah mamanya sudah merasa impas, lalu ada masalah apa lagi?
Bara mulai tersadar sepenuhnya. “Har, jangan ikut campur sama rumah tanggaku. Jangan membuat hubungan kita menjadi kembali tak baik.”
“Jelas aku harus ikut campur karena ini menyangkut perbuatan tercelamu pada istrimu sendiri. Kamu seharusnya bisa memiliki prinsip untuk tak selalu menuruti mamamu, sebelum semuanya terlambat dan kamu akan menyesal, Bar!" Haris memperingatkan Bara.
###
Haris berhasil mengajak Om Gustav untuk bertemu. Banyak pertanyaan yang ingin Haris tanyakan. Mereka bertemu saat jam makan siang di tempat yang sudah disepakati bersama.
“Terima kasih, Om Gustav sudah mau menemui saya,” ucap Haris mengawali pembicaraannya.
“Apa yang masih ingin kamu tahu, Har? Bukan kah semuanya sudah jelas apa yang menyebabkan Desi berlaku demikian terhadap Syara?" Om Gustav merasa tak begitu tertarik dengan pertemuan ini.
“Apa yang sedang direncanakan Desi?” ucapnya dalam hati.
“Saya curiga kematian papa Bara menjadi penyebab berlanjutnya dendam Tante Desi,” ujar Haris membuat Om Gustav tak dapat menyembunyikan mimik muka paniknya.
“Apa Om Gustav mengetahui pasti kebenaran penyebab kematian Om Brama?” lanjut Haris memperjelas pertanyannya.
Om Gustav terpaksa menceritakan sesuatu yang berkaitan dengan pertanyaan Haris. “Desi masih mengira Mas Brama meninggal karena diracun oleh Mirna, ibu Syara.”
Mendengar jawaban Om Gustav, Haris terkejut. “Berarti benar hipotesa saya selama ini. Apa Om tahu, kenapa Tante Desi menuduh ibunya Syara yang membunuh suaminya?”
Om Gustav menghela nafas panjang. Ia mengatakan bahwa papa Bara sedang sakit keras saat itu dan harus meminum banyak obat. Tuduhan yang dilemparkan ke Mirna berawal dari Mirna yang membuatkan minuman untuk mereka bertiga yang sedang mengadakan pertemuan yang diadakan Desi. Desi ingin melakukan pembicaraan atas perselingkuhan suaminya dan Mirna. Sesaat sebelum meminum teh buatan Mirna, Mas Brama sempat meminum obat secara bersamaan, dan tak lama setelah itu Mas Brama tergeletak di lantai dalam keadaan mulut berbusa. Pemeriksaan medis saat itu mengatakan bahwa Mas Brama keracunan obat, akibat ada obat yang seharusnya tak diminum saat bersamaan, juga karena over dosis.
__ADS_1
“Lalu apakah perselingkuhan itu benar dilakukan oleh 2 pihak? Atau hanya papa Bara saja yang mendekati ibu Mirna? Dan kalau seandainya memang benar Bu Mirna yang meracuni Om Brama, untuk apa ia meracuni laki-laki yang juga dicintainya?” Haris tak segan menuntaskan pertanyaan dalam otaknya.
“Soal itu, Om tidak tahu pasti. Hanya mereka bertiga yang tahu karena bagaimana pun, itu adalah masalah internal,” jawab Om Gustav tak ingin berbicara lebih jauh.
Haris juga menanyakan mengapa mama Bara masih menuduh ibu Syara yang melakukannya, bukan kah ada pemeriksaan medis terkait penyebab kematian papa Bara. Hal yang sama juga diungkapkan Om Gustav, namun mama Bara tetap menyalahkan Bu Mirna adalah penyebab kematian suaminya. Hal ini tentu berarti mama Bara telah memfitnah keluarga ibu Syara jika tuduhannya tak benar demikian. Artinya, Syara juga tak berhak menerima pembalasan dendam dari mama Bara jika memang benar mama Bara masih ingin melanjutkan dendamnya terkait kematian papa Bara.
Entah mengapa, Haris masih merasa belum puas atas jawaban Om Gustav. Persoalan ini bagai puzzle yang harus dihubungkan dan dicocokan satu sama lain. Namun, setidaknya informasi dari Om Gustav sedikit membantunya memecahkan sejarah keluarga ini.
###
“Bara, aku perlu bicara sama kamu,” pinta Syara saat sedang berdua di dalam kamar bersama suaminya.
“Kamu masih mau bahas Raya? ‘Kan aku sudah jelaskan kalau aku mabuk jadi aku menghubungi Raya untuk menjemputku. Aku nggak tahu kenapa dia membawa aku ke rumahnya, bukan malah ke rumahku sendiri,” jawab Bara dengan nada bicara yang mulai tinggi.
“Aku bisa saja melupakan hal itu tapi aku perlu komitmen kamu untuk tak menemui Raya lagi. Apa mama kamu masih memintamu menyiksaku?” tanya Syara dengan berani.
Bara menatap tajam mata Syara. “Ini salahku, aku minta maaf soal semalam. Soal Raya, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, aku harus pelan-pelan memintanya untuk kita tak berhubungan lagi.”
Syara menentang keras pernyataan Bara. Ia tak setuju dengan sikap Bara. Tak seharusnya Bara memikirkan Raya, Bara seharusnya meninggalkannya karena sudah sangat jelas apa alasannya. Bara adalah pria beristri, tentu terlarang bagi mereka untuk bersama.
Bara pun berusaha menenangkan Syara. “Aku mohon kamu tenang dan bersabar. Aku tidak pernah mencintai Raya, aku mendekati dia hanya demi menjalankan rencana Mama. Aku memanfaatkan dia karena dia menyukaiku.”
“Lalu kenapa kamu tidak bisa meninggalkannya? Bukan kah seharusnya tak sulit karena kamu tak mencintainya. Kecuali kalau mama kamu masih ada rencana untuk balas dendam lagi padaku!” Syara memaksa Bara mengatakan sejujurnya.
“Aku sudah menyakitimu, aku tak ingin menyakiti perempuan lain lagi. Aku janji akan segera meninggalkan Raya untuk kamu, tapi mohon kamu bersabar sedikit lagi ya, Sayang.” Bara memohon dengan mimik muka memelas.
Syara mengancam Bara akan menggugat cerai apabila ia tak segera meninggalkan Raya. "Ini 'kan yang kamu dan Raya harapkan dari dulu? Menginginkan aku menggugat cerai kamu."
Namun, tiba-tiba mama Bara masuk ke dalam kamar mereka yang tak ditutup. “Kalau kamu bercerai dari Bara, memang kamu mau tinggal di mana? Kamu sudah tak punya siapa-siapa lagi! Jangan belagu kamu, Syara.”
__ADS_1
Syara terkejut mama mertuanya bisa berbicara seketus itu padanya.
...****************...