Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Kehidupan Calon Ibu


__ADS_3

Semenjak Bara dan Syara kembali ke rumah mamanya, mama Bara begitu perhatian pada Syara yang tengah mengandung cucu kembarnya. Segala jenis makanan tak pernah lupa disiapkan untuk menantunya. Semua itu mama Bara lakukan agar cucu-cucunya sehat di dalam kandungan hingga lahir ke dunia.


Suatu ketika, Syara terpeleset jatuh di dalam kamar mandi. Untungnya, Bara belum berangkat ke kantor saat itu sehingga langsung membawa istrinya ke rumah sakit. Mereka semua cemas jika suatu hal buruk terjadi pada kandungan Syara, terutama mama Bara.


Setelah mengetahui hasil pemeriksaan dokter, syukur lah Syara dan kandungannya dalam keadaan sehat.


“Tidak ada yang perlu dicemaskan, hanya saja harus lebih berhati-hati lagi ke depannya,” pesan dokter.


Mereka pun diperbolehkan kembali ke rumah.  Selama di perjalanan, mama Bara tak berhenti memberikan ocehannya pada menantunya itu, hingga mereka tiba di rumah. Bara mengingatkan mamanya untuk berhenti memarahi Syara karena insiden ini adalah musibah yang tidak dinginkan.


Setelah memastikan Syara dapat ditinggal, Bara berpamitan padanya juga pada mamanya untuk segera berangkat ke kantor.


Mama Bara sengaja menghampiri Syara yang tengah istirahat di dalam kamarnya.


“Syara, jangan sekali kali kamu berani melukai cucu-cucu Mama lagi ya. Kalau sampai ada apa-apa dengan mereka, Mama tidak akan memaafkan kamu!” pintanya dengan tegas.


“Maaf, Ma. Syara juga tidak mungkin mencelakai anak-anak Syara, ini semua terjadi begitu saja, Syara selalu berhati-hati,” bantah Syara sopan.


“Mama tidak peduli apa pun alasannya. Mama bisa rugi kalau kamu sampai keguguran. Kamu pikir, Mama melayani kamu seperti ratu karena apa kalau bukan demi generasi penerus Mama!” ucap mama Bara sembari meninggalkan Syara di kamarnya.


Seakan tepat apa yang selama ini Syara duga. Mama mertuanya baik padanya hanya karena calon cucu kembarnya, bukan karena menyayangi dia sebagai menantu. Seseorang itu akan baik pada kita jika ada sesuatu dari kita yang diinginkannya, dan ketika sesuatu itu hilang, maka enyah pula kebaikannya terhadap kita. Bukan kan manusia memang tercipta dengan sifat seperti itu?


###


Empat bulan berjalan, perlakuan mama Bara masih sama seperti saat mereka kembali ke rumah. Melayani dan memperhatikan Syara dengan baik, lebih tepatnya pada calon cucu kembarnya. Janin si kembar bagai aset bagi mama Bara, yang lebih penting dari pada ibu yang akan melahirkan mereka. Bahkan mungkin ibaratnya, ia tak akan peduli jika menantunya meninggal saat melahirkan si kembar, asal cucu-cucunya tetap selamat lahir ke dunia.

__ADS_1


Selama mama mertuanya masih perhatian pada kandungannya, Syara tak mempermasalahkan untuk tetap tinggal di sini. Sekalipun, Bara mempersilakan Syara jika ingin kembali ke apartemen setelah mengetahui tujuan asli mamanya. Bagi Syara, semua ini dianggapnya sebagai bentuk pengorbanan seorang ibu, semenjak anak-anaknya masih dalam kandungan. Tak apa ia diperlakukan seperti itu, asal calon anak-anaknya sehat dan terjaga.


“Aku minta maaf atas sikap Mama, Sayang. Aku tidak pernah menyangka bahwa Mama tetaplah Mama yang berwatak seperti itu,” ucap Bara merasa tak enak pada istrinya karena ulah mamanya.


“Tidak apa-apa. Aku tetap bersyukur memiliki mertua seperti mama, setidaknya mama peduli pada anak-anak kamu. Banyak wanita di luar sana yang bukan hanya dirinya sendiri yang dibenci oleh mertuanya, namun juga anak-anaknya,” jawab Syara yang selalu bijaksana.


Bara memeluk istri yang sangat ia kagumi itu. “Kamu bukan hanya cantik, namun perilakumu pun jauh lebih mempesona. Kamu memang istriku yang sempurna, Syara. Aku begitu menyayangimu.”


Di tengah obrolan hangat mereka, mama Bara mengetuk-ngetuk pintu kamar karena ada Haris di bawah.


“Iya, Ma,” jawab Bara sembari keluar kamar menemui Haris.


“Ada undangan dari Raya, minggu depan acaranya,” ujar Haris yang mengantarkan undangan pernikahan Raya.


Haris pun mengatakan bahwa acara pernikahan Raya memang sudah direncanakan tak jauh dari tanggal saat dirinya menikah. Raya dijodohkan dengan seorang duda, relasi bisnis ayahnya. Awalnya Raya menolak, tapi setelah mereka bertemu, Raya justru langsung jatuh hati karena pria itu tidak setua yang ia bayangkan, hanya selisih 4 tahun dari Raya. Pria itu bercerai dari istri pertamanya satu tahun setelah bayi mereka meninggal begitu dilahirkan, entah persoalan rumit apa yang ada dalam rumah tangga mereka hingga memutuskan bercerai.


Bara hanya tersenyum mengingat perilaku Raya saat itu. “Perempuan seperti Raya memang mudah jatuh hati pada pria tampak nan mapan. Andai dia tidak segera bertemu dengan calon suaminya, mungkin dia masih mencariku.”


Haris pun ikut tertawa. “Aku juga kadang kasihan melihat Raya, dulu saat kita masih berteman baik, Raya begitu ceria, dia adalah salah satu teman terbaikku. Tapi entah karena apa dia jadi berubah, bukan Raya yang aku kenal dulu.”


Haris juga menceritakan bahwa Raya berhenti mengejar Bara setelah Haris memberitahukan hal ini pada ayah Raya. Haris sudah mencoba untuk menegur Raya, namun nihil. Akhirnya, terpaksa Haris menemui ayahnya, tepatnya setelah Bara mengatakan bahwa Syara tengah hamil, agar Raya tak menganggu rumah tangga Bara lagi. Setelah itu, entah apa yang dilakukan sang ayah, tiba-tiba Raya menghilang bak ditelan bumi. Dia muncul sudah menyebar undangan.


Bara tertawa mendengar cerita Haris. “Terima kasih banyak, Har. Kamu sudah banyak membantuku. Sahabatku, saudaraku.”


###

__ADS_1


“Ayo Mama saja yang antar, Bara biar berangkat ke kantor,” tegas mama Bara yang ingin mengantar menantunya kontrol ke dokter kandungan.


Setelah Syara meyakinkan Bara bahwa ia akan baik-baik saja ditemani mama mertua, Bara meninggalkan rumah dengan lega.


Mama Bara dan Syara pun berangkat ke rumah sakit diantar sopir, karena arah kantor Bara dan rumah sakit berlawanan. Mereka sengaja berangkat pagi, karena hari ini, Syara mendapat nomor antrian 1. Sehingga, mereka harus sudah sampai di sana sebelum didahului pasien yang lain.


Tiba lah mereka di rumah sakit, dan Syara melakukan konfirmasi kedatangan pada asisten dokter. Tak lama, namanya dipanggil. Hari ini, dokter memang datang lebih cepat dari biasanya karena akan ada jadwal operasi caesar, sehingga Syara merasa beruntung telah sampai di rumah sakit dan segera dilayani.


Seperti biasa, Syara dipersilakan berbaring dan dokter mulai melakukan pemeriksaan.


Dari hasil pemeriksaan, dokter menyarankan Syara untuk diet sehat karena berat badannya yang naik drastis. Kondisi ini bisa menyebabkan persalinan dengan operasi, karena jika 2 bayi terlalu besar di dalam, maka tidak memungkinkan persalinan dilakukan secara normal. Mengingat, riwayat keguguran saat itu juga menjadi pemicunya, dan untuk menghindari resiko terburuk saat melahirkan.


“Perbanyak makan buah dan sayur saja. Boleh juga dikombinasikan dengan bahan makanan yang direbus agar lebih bervariasi, seperti daging ayam dan tahu. Asal jangan sampai lemas karena kelaparan, karena diet hamil tidak bisa disamakan dengan diet saat tidak hamil. Kebutuhan nutrisi jabang bayi harus tetap terpenuhi. Jangan lupa untuk menyisipkan olahraga ringan, yang penting jangan sampai kelelahan, dan jangan melakukan aktifitas yang berat.”


Setelah dokter selesai memberikan sarannya, juga pemberian beberapa vitamin, Syara diperbolehkan pulang.


###


Sampai di rumah, seakan Syara sudah bisa menebak bahwa mertuanya akan mulai berpidato.


“Mulai besok Mama akan buatkan makanan sehat. Kamu harus menurunkan berat badanmu, kurangi jajan di luar. Mama liat kamu dan Bara sering sekali makan di luar, beli makanan yang tidak bergizi tapi menyumbang lemak paling banyak. Mama mau kamu lahiran normal!”


Syara hanya tersenyum mendengar ocehan mama mertuanya. “Sudah biasa.”


...****************...

__ADS_1


__ADS_2