
Syara izin pamit pulang ke rumah Bara pada Haris. Ia juga meminta untuk tak diantar Haris agar tak memancing amarah Bara. Tak lupa, sebagai ucapan terima kasih karena telah menampungnya selama 2 hari ini, Syara meminta Haris untuk menyambangi apartemennya karena Syara telah menyiapkan makanan untuk Haris.
Syara ingin mencari tahu kejelasan cerita tentang keluarganya dengan keluarga Bara. Untuk itu, ia memutuskan untuk pulang. Syara yang telah sampai rumah dengan ojek, disambut oleh Bara dan mamanya.
“Dari mana saja kamu? Nomor gak aktif, tiba-tiba pergi tanpa pamit. Dosa kamu pergi tanpa izin suami!” sambut Bara dengan mimik wajah yang lega sekaligus emosi melihat istrinya telah kembali.
Mama Bara meminta Bara untuk tak mengintrogasi Syara yang baru pulang, dan mempersilakan Syara untuk beristirahat di kamar. Syara bergegas menaiki tangga menuju kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Bara. Bara pun mengikuti Syara. “Syara, jawab aku!”
“Aku hanya ingin mencari ketenangan, Bara. Lagi pula apa kamu peduli tentang keadaan aku? Apa kalau aku tak pulang, kamu akan khawatir dan mencari aku?” tantang Syara.
“Kamu tahu aku khawatir mencari kamu sejak kamu pergi! Aku hampir saja melapor pada polisi tentang hilangnya kamu,” jawab Bara penuh pembelaan.
“Oh ya? Kamu khawatir? Tapi tetap menemui Raya dan asyik makan siang berdua dengannya ‘kan?” tanya Syara yang mengetahui hal ini dari Haris yang tak sengaja melihat mereka berdua di salah satu restoran.
“Kamu tahu dari mana? Makan siangku bersama Raya tak ada hubungannya dengan kekhawatiranku sama kamu!” Bara mengelak karena ia benar-benar khawatir pada Syara.
“Maaf karena membuatmu cemas, aku pikir kamu akan senang kalau aku pergi,” ucap Syara sembari membuka pintu kamar.
Bara tetap menanyakan di mana Syara tinggal selama 2 hari ini. Bara juga telah menuduh ia bertemu Haris. Namun, Syara mampu memberikan jawaban terbaiknya untuk membohongi suaminya itu.
“Syara, kalau sampai aku tahu kamu menemui Haris, akan kuhabisi dia!” ancam Bara.
“Apa boleh aku juga menghabisi Raya?” Syara membalikkan keadaan pada Bara.
“Syara! Jangan kurang ajar kamu sama suami kamu!” Bara tak terima dengan Syara yang melawannya.
“Suami? Pernah kamu menganggap aku istri kamu? Memperlakukanku selayaknya istri? Justru aku melihat Raya yang mendapat perlakuan baik dari kamu.” Syara semakin menantang Bara.
Plak!
__ADS_1
Untuk kesekian kali Bara menampar Syara. Syara terdiam memegang pipinya. Seolah menyesal telah menyakiti istrinya, Bara reflek memeluk Syara. Syara menangis di pelukan Bara, begitu juga dengan Bara.
###
“Ma, Bara sudah berangkat ya?” tanya Syara yang baru bangun tidur.
“Sudah, lagian kok tumben kamu bangunnya siang, Ra?” tanya Mama Bara yang sedang memasak.
“Maaf, Ma, Syara lemas. Entah kenapa Syara jadi lemah sekali semenjak hamil,” jawab Syara tak berdaya.
Mama Bara mengatakan bahwa tak seharusnya Syara menuruti rasa lemahnya, karena itu hanya lah perasaan malas belaka. Mama Bara juga meminta Syara untuk membantunya di dapur agar Syara tak terus menerus lemas. Dengan pucat, Syara membantu mertuanya itu di dapur. Namun karena sudah tak kuat, ia izin untuk kembali ke kamar.
“Dasar pemalas,” gumam mama Bara dalam hati.
Di dalam kamar, Syara menghubungi Bara, untuk meminta diantar kontrol ke dokter kandungan, namun tak diangkat. “Oh, mungkin sedang sibuk. Aku ikut jadwal dokter yang malam saja, sepulangnya Bara dari kantor.”
Hingga malam hari, kondisi Syara semakin lemas. Berkali-kali ia menghubungi Bara, namun tak kunjung mendapat jawaban. Hingga untuk terakhir kali ia berusaha menghubungi, Bara baru mengangkat teleponnya. Namun, suara Raya yang terdengar olehnya.
Syara turun ke bawah memanggil mertuanya, ia ingin meminta diantar ke rumah sakit oleh mama Bara. Namun, mama mertuanya tak ada. Sungguh ingin sekali ia menelepon Haris, namun ia takut diamuk Bara. Syara memutuskan untuk menelepon Om Gustav. Bersyukur, Om Gustav kebetulan sedang di jalan pulang dari kantornya, dan posisinya sekarang tak jauh dari rumah Bara.
Om Gustav dengan cekatan menjemput Syara dan membawanya ke dalam mobil.
“Syara, kamu tidak apa-apa? Bertahan ya sebentar lagi kita sampai,” ucap Om Gustav sembari menyetir mobilnya.
“Iya, Om. Terima kasih,” jawab Syara singkat karena tak mampu menahan sakit.
Om Gustav juga menanyakan di mana Bara dan mamanya yang tak membantunya, Syara pun menjelaskan bahwa ia tak menemukan mama mertuanya di rumah, juga Bara yang sedang menemani Raya di rumah sakit. Syara juga mengatakan ingin meminta bantuan Haris yang selama ini selalu bisa diandalkan, namun ia tak mau ada keributan dengan Bara. Om Gustav benar-benar ingin meluapkan amarahnya pada Desi. “Desi sungguh sudah keterlaluan.” Om Gustav terus bergumam lirih seakan mengeluarkan sumpah serapahnya.
Hingga beberapa menit kemudian, mobil Om Gustav sampai di depan IGD rumah sakit dan para petugas rumah sakit sudah siap dengan tandunya untuk menggotong tubuh Syara menuju ruang IGD.
__ADS_1
Menunggu Syara yang masih mendapatkan pertolongan pertama, Om Gustav menelepon Bara. Ia mengabarkan bahwa istrinya sedang berada di IGD. Bara yang juga berada di rumah sakit yang sama, segera menghampiri Om Gustav.
“Keterlaluan kamu Bara! Istri hamil bukannya diperhatikan malah diacuhkan!” amuk Om Gustav pada Bara yang tergopoh-gopoh ingin menemui Syara.
“Di mana mama kamu?” lanjut Om Gustav bertanya keberadaan mama Bara.
Bara menjelaskan bahwa dia dan mamanya sedang menunggu Raya yang terbaring sakit di rumah sakit, karena Raya hanya seorang diri di kota ini.
Mendengar jawaban Bara, Om Gustav semakin murka. “Kalian benar-benar sudah kelewatan! Malah mengurus orang lain. Apa Syara juga tak seorang diri di sini? Kalau Om tidak segera membawa istri kamu tadi, tak menutup kemungkinan dia akan meninggal di tempat. Kamu tahu, tadinya dia mau menelepon Haris tapi takut kamu marah, sebenarnya bisa saja dia segera menelepon Haris untuk menyelamatkan dirinya juga janinya. Dia memikirkan kamu tapi kamu tak pernah memikirkannya.”
Dengan mimik muka penuh penyesalan, ia meminta maaf dan berterima kasih pada omnya.
“Bara, tidak semua yang mama kamu katakan itu benar. Kamu adalah CEO yang seharusnya memiliki pendirian dan tidak menerima mentah-mentah perkataan seseorang sekalipun mama kamu sendiri yang mengatakannya,” pinta Om Gustav yang membuat Bara bingung.
“Maksud Om apa?” tanya Bara yang tak mengerti maksud perkataan Om Gustav.
Om Gustav menjelaskan kesalah pahaman yang selama ini bergulir merentangkan hubungan mereka. “Om tidak pernah sekalipun ingin menguasai perusahaan papa kamu, walaupun om juga berperan dalam membangun bisnis papa kamu. Dulu, Om hanya meminta jabatan di sana, bukan untuk menguasainya. Apalagi saat itu kamu masih menyeleseikan S2 kamu, Om tahu kok kamu lah yang paling berhak memimpin setelah kamu pulang ke Indonesia. Tapi orang tua kamu salah paham, mereka mengira Om ingin memimpin perusahaan papamu. Sejak saat itu lah hubungan kekeluargaan kita merenggang. Padahal, Om hanya ingin mencari nafkah di perusahaan papa kamu untuk menghidupi Yesa dan Yesi, kamu tau sendiri 'kan, mereka piatu sejak istri om melahirkan mereka.”
Bara hanya mampu meminta maaf jika benar itu terjadi. Selama ini ia hanya mendengar cerita dari sang mama. Mendengar cerita Om Gustav di masa lampau, terbesit dalam otaknya untuk menanyakan hubungan antara papanya dengan ibu Syara, serta cerita sebenarnya tentang kematian Papa Bara yang selama ini juga hanya ia dengar dari sang mama.
Belum sempat Bara bertanya, salah satu perawat yang menangani Syara keluar dan memberitahukan bahwa Syara mengalami pendarahan yang hebat akibat terlambat mendapat pertolongan. Dengan berat hati perawat tersebut mengatakan bahwa calon bayi dalam perut Syara tak dapat diselamatkan. Bara menangis mendengar penjelasan perawat. Ia begitu menyesal karena tak menjawab telepon Syara.
Sementara itu, Om Gustav terus menenangkan Bara. Berkali-kali ia meminta Bara agar lebih menghargai Syara sebagai istrinya. Bara ingin menemui Syara yang masih terbaring lemas di IGD.
Syara memalingkan mukanya dari Bara. Ia begitu trauma dengan keguguran ini. Ia merasa telah gagal menjadi seorang ibu yang tak mampu memperjuangkan anaknya.
“Kamu pergi saja dengan wanita itu, dia lebih membutuhkanmu dibanding aku, juga anakmu yang telah tiada,” ucap Syara sinis dengan tatapan kebencian.
Berkali-kali dengan terus menangis, Bara meminta maaf pada Syara dan mencium kening sang istri.
__ADS_1
...****************...