
Setelah mendapat kabar dari Haris, Bara mengajak Syara untuk menjenguk Yesa yang semalam telah melahirkan malaikat cantiknya. Yesa melahirkan bayi mungil berparas ayu, sama ayunya dengan sang ibu. Meskipun Yesa melahirkan secara normal, namun ia masih harus berada di rumah sakit selama 2 hari ke depan untuk memulihkan kondisi tubuhnya sehingga belum diperbolehkan pulang.
Ruangan tempat Yesa dirawat kala itu begitu ramai karena ada Om Gustav juga Yesi. Bara pun tak lupa mengucapkan selamat pada sahabat yang kini juga menjadi keluarganya itu. Begitu pun Syara, yang terus memuji kecantikan putri Haris dan Yesa.
“Selamat ya Om Gustav sudah jadi kakek sekarang, aku dan Yesi jadi tante,” ucap Syara.
“Aku jadi om!” sahut Bara.
“Aku dan Yesa juga Yesi juga akan menjadi om dan tante saat Syara lahiran nanti.” Haris tak mau kalah.
“Aku tetap jadi kakek selamanya!” Om Gustav ikut berceloteh.
Semua orang tertawa bahagia menyambut kelahiran malaikat kecil Haris dan Yesa itu.
###
Setiap bulan Syara rutin kontrol ke dokter kandungan, baik ditemani sang suami maupun mama mertuanya. Sejauh ini, kondisi Syara juga kandungannya dalam keadaan sehat dan hingga kini, jenis kelamin janin sudah bisa dilihat. Syara mengandung anak kembar, laki-laki dan perempuan. Dokter juga menentukan HPL Syara di usia 38 kehamilan minggu. Hanya saja, dokter belum dapat menentukan apakah Syara akan bisa melahirkan normal atau dengan operasi, yang jelas keduanya sama-sama baik dan tidak akan mengurangi pengorbanan jasa seorang ibu. Meskipun, mama Bara terus mewanti-wanti agar menantunya melahirkan secara normal.
Sehari setelah Syara kontrol, ia merasakan mulas perutnya yang luar biasa. Mama Bara seketika meminta sopir menyiapkan mobil untuk membawa Syara ke rumah sakit. Selama di perjalanan, mama Bara menghubungi anaknya agar segera menyusul mereka.
Sampai di IGD rumah sakit dan menunggu beberapa menit, kondisi Syara dinyatakan ketuban pecah dini dan harus dilakukan operasi saat itu juga untuk menyelamatkan bayi kembarnya. Bara yang saat itu baru datang, segera menyetujui tindakan operasi. Tak peduli dengan mamanya yang seakan tak bisa menerima situasi ini. Bagi Bara, keselamatan anak-anak dan istrinya adalah yang utama.
__ADS_1
“Istrimu memang lemah sekali, semoga cucu-cucu Mama semuanya sehat meskipun lahir prematur,” ucap sang mama yang hanya memikirkan keselamatan cucu-cucunya.
Bara tak bisa berhenti memikirkan Syara yang tengah berjuang sendiri di ruang operasi. Ia terus berdoa agar mereka selamat. Hingga 50 menit kemudian, operasi dinyatakan selesai, dan perawat segera membawa 2 bayi Syara yang harus segera mendapatkan penanganan intesif di ruang NICU.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Bara panik.
“Istri Bapak sudah sadar namun masih lemas, kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat inap agar Bapak bisa segera melihatnya. Dan untuk anak kembar Bapak, walaupun mereka lahir di usia kemamilan 35 minggu, tapi pertumbuhan fisik mereka sudah berkembang cukup baik, hanya saja tetap membutuhkan penanganan khusus di ruang NICU untuk penambahan berat badannya agar sempurna,” ucap dokter melegakan hati Bara.
Bara juga tegas mengingatkan sang mama agar tak membahas soal apa pun kepada Syara, termasuk tentang persalinannya, apalagi membandingkan dengan Yesa yang 1 bulan lalu telah melahirkan secara normal.
“Bagi Bara, Syara sudah berjuang untuk dirinya sendiri juga anak-anak Bara. Bara tidak mau Mama mengusik kebahagiaan kita dengan celotehan Mama. Bara sudah menyiapkan pengasuh untuk anak kembar Bara, kalau Mama mau ikut merawat mereka, jaga lisan Mama. Bara tak akan segan untuk meninggalkan rumah kalau Mama tak bisa baik pada kami,” ucap Bara sembari mengikuti perawat yang membawa anak kembarnya.
###
“Anak-anak kita baik, Sayang, mereka sangat tampan dan cantik. Mereka sedang berada di ruang NICU untuk mendapat perawatan intensif. Perawat sebentar lagi akan mencoba mengambil ASI kamu untuk mereka karena kamu belum bisa menyusui mereka langsung. Tidak usah khawatir ya, semua akan baik-baik saja, mereka tidak akan lama kok di sana dan nanti kita lihat mereka ya,” terang Bara agar Syara lebih tenang.
Perawat mulai melakukan stimulasi ASI dan syukurnya, Syara bisa mengeluarkan ASInya walaupun tak begitu banyak.
“Nanti kita stimulasi lagi ya Bu, harap Ibu tidak stres agar ASI bisa lebih banyak keluar, untuk sementara ibu makan makanan ini sebagai pelancar ASI dan ada susu almond juga. Semua hidangan ini juga termasuk fasilitas dari rumah sakit,” ujar perawat yang membawa perahan ASI Syara.
Bara meminta istrinya untuk menyantap hidangan yang telah disediakan agar bisa segera melihat bayi mereka. Mama Bara pun masuk ke dalam kamar VIP Syara. Syara langsung meminta maaf pada mertuanya karena tidak bisa melahirkan cucu-cucunya secara normal dan prematur.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Syara, yang penting kamu dan bayi kembarmu sehat. Terima kasih sudah melahirkan mereka,” ucap mama Bara membuat Syara terharu.
“Terima kasih juga karena Mama sudah menjaga Syara selama hamil,” imbuh Syara.
Selesai Syara makan, mereka bertiga pergi untuk melihat bayi mereka. Untuk sementara orang tua hanya diperbolehkan melihat melalui kaca. Syara yang berada di atas kursi rodanya, hanya mampu menyandarkan kepalanya di kaca agar lebih jelas melihat bayi kembarnya. Tak terasa, air matanya menetes.
“Ingat kata perawat, kamu tidak boleh stres dan berpikir macam-macam, supaya ASI kamu tetap lancar,” sahut Bara ketika melihat istrinya mulai mengkhawatirkan anak kembar mereka.
“Mereka di rawat di sini hanya agar berat badan mereka normal, setelah itu kita bisa membawa mereka pulang,” lanjut Bara menenangkan Syara dan menghapus air matanya.
Syara begitu bersedih karena tak dapat menggendong bayi kembarnya. Impiannya ketika selesai melahirkan. Namun, ia tak boleh egois demi keselamatan bayi-bayinya.
Di ujung lorong rumah sakit, Haris memanggil Bara kemudian berlari menghampirinya.
“Bagaimana kondisimu, Ra? Tadi aku mampir ke rumah, tapi mbak di rumah bilang kalian ke rumah sakit karena Syara kontraksi jadi aku langsung ke sini,” ujar Haris yang berusaha mengatur nafasnya.
Bara menjelaskan kejadian tadi pagi bahwa Syara terpaksa melahirkan hari ini.
“Syukurlah semuanya selamat. Oh iya, Yesa hanya bisa menitipkan salam karena belum bisa keluar rumah.” Haris menyampaikan salam istrinya.
Bara mengangguk tersenyum.
__ADS_1
...****************...