Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Kecurangan Mama Bara


__ADS_3

Mendapati mertuanya yang selama ini baik dan sayang padanya, namun dengan secepat kilat menjadi ketus, membuat Syara berpikir semakin ingin bercerai. Apalagi, sampai saat ini Bara belum mampu menunjukkan perasaan cintanya pada Syara, sekali pun Bara sudah lebih lembut dan tenang. Syara semakin dibuat bingung harus bagaimana. Hingga suatu ketika, Syara mengajak Haris untuk mengantarkan pulang ke rumah orang tuanya karena ia ingin mencari ketenangan di sana agar bisa memutuskan yang terbaik.


Tanpa sepengetahuan Bara dan mamanya, Syara keluar rumah dijemput Haris.


“Ra, kamu serius ingin menginap di rumah orang tua kamu tanpa bicara dengan Bara?” Haris takut Bara akan khawatir mencarinya, atau bahkan akan marah pada mereka berdua.


“Tidak apa, Har, aku yang akan menanggung semuanya nanti. Kalau memang mereka mau marah silakan saja, aku sudah lelah menghadapi semua ini. Andai ayah ibuku masih ada, mungkin sekarang aku tak begini,” sesal Syara mengingat mendiang orang tuanya.


Haris menenangkan Syara agar tak bersedih. Selama di perjalanan, Haris juga menceritakan informasi yang didapatnya dari Om Gustav. Syara pun dibuat bingung dengan cerita dari Om Gustav.


“Ibuku tidak mungkin mau berselingkuh dengan papa Bara, Har. Aku tau betul seperti apa dia. Semenjak ayah meninggal, ibuku bahkan tak tertarik untuk dekat dengan siapa pun, termasuk papa Bara. Baginya, papa Bara hanya sedang membantu kami, itu saja,” jelas Syara yang tetap membela sang ibu.


“Aku tahu, Ra. Tapi masalahnya, ibu kamu sudah meninggal, sehingga kita tak dapat mendengar bagaimana cerita versi beliau. Ra, dulu, aku pernah menangani masalah keuangan klienku, jadi ceritanya, dia punya 2 istri. Nah, sebagian asetnya dicuri entah siapa pelakunya. Istri pertama menuduh pencurinya adalah istri kedua suaminya, sedangkan istri kedua sudah meninggal sehingga kita tidak bisa mendapatkan keterangan darinya. Hanya saja saat itu, kita memang tidak bisa menemukan bukti bahwa istri pertama yang mencuri, tapi kita juga tidak bisa mengatakan istri keduanya bersalah, karena tidak ada bukti yang merujuk ke sana. Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata istri pertama itu lah yang telah memindahkan beberapa aset milik suaminya. Jadi, aku yakin persoalan keluarga kamu akan segera terpecahkan walaupun 1 pihak telah meninggal.” Haris berusaha membuat Syara tak khawatir dengan masalah ini.


Mereka terus berdiskusi selama perjalanan. Tak terasa, mereka tiba di kampung halaman Syara yang ditempuh selama kurang lebih 3 jam lamanya. Syara mengarahkan Haris hingga sampai tepat di depan rumahnya. Betapa terkejutnya Syara saat melihat rumahnya telah berpenghuni. Padahal, jelas-jelas saat terakhir kali Syara meninggalkan rumah itu dalam keadaan kosong.


Haris dan Syara saling berpandangan. Salah satu penghuni rumah menghampiri mereka. Haris pun memberanikan diri bertanya pada wanita tersebut.


“Permisi, Bu, apa benar ini rumahnya Pak Hasan dan Bu Mirna?”


“Maaf, Mas, salah alamat. Ini rumahnya Pak Karto,” jawab wanita tersebut. "Maaf, mencari siapa ya?"


Syara memegang lengan Haris dan tak menjawab pertanyaan wanita tersebut.

__ADS_1


“Maaf, Bu, apa rumah ini disewakan atau telah dibeli oleh Pak Karto?” Syara bertanya lagi pada wanita itu.


Wanita itu tampak bingung menjawab pertanyaan Syara. “Saya tidak tahu, Mbak. Tanya langsung saja sama ayah saya ya karena beliau yang mengurus soal kepemilikan rumah ini, sebentar.”


Seorang lelaki paruh baya keluar dari rumah setelah dipanggil oleh anaknya. Lelaki itu menghampiri Syara dan Haris. Ia menjelaskan bahwa rumah ini sudah dibeli beberapa bulan lalu dari pemiliknya, Bu Mirna, melalui Bu Desi. Kemudian, dia meminta sang anak mengambilkan sertifikat rumah serta perjanjian jual beli untuk ditunjukkan pada Syara dan Haris. Dada Syara terasa sesak tak percaya melihatnya.


“Mama Desi.”


Haris menenangkan perasaan Syara yang sudah tak karuan. Haris mencermati tanggal perjanjian jual beli yang ditunjukkan padanya. “Ra, bukan kah ibu kamu meninggal sudah lama ya? Tapi di sini tanggalnya baru beberapa bulan lalu, tanggal ini ‘kan beberapa hari sebelum kamu menikah dengan Bara.”


Syara semakin menangis melihat rumahnya yang diperjualbelikan mama Bara tanpa seizinnya. Bahkan, mama Bara memalsukan tanda tangan ibunya. Ia menangis karena banyak kenangan dalam rumah ini. Kini, ia harus merelakan begitu saja satu-satunya peninggalan ayah ibunya.


Melihat Syara yang menangis, Pak Karto dan anaknya mempersilakan mereka masuk. Haris menceritakan asal mereka dan menceritakan tentang rumah ini. Pak Karto dan anaknya pun terkejut mendengar penjelasan Haris.


“Rumah ini dulu dijual murah makanya saya berani membelinya,” jelas Pak Karto.


Syara tak berhenti menangis selama di mobil. Berbeda dengan Haris yang tampak tenang memikirkan solusi dari masalah ini. Haris tak habis pikir akan ulah mama Bara.


###


Bara dan mamanya tengah panik setelah menyadari Syara tak ada di rumah sejak pagi tadi. Berkali-kali Bara menelepon Syara namun tak aktif. Tak berselang lama, mobil Haris berhenti di depan rumah Bara.


Bara keluar menyambut Syara dan Haris. “Bagus kalian ya! Kamu sudah bersuami, Syara, kenapa malah pergi berdua dengan lelaki lain tanpa seizinku.”

__ADS_1


“Kalian jahat!” jawab Syara yang langsung memasuki rumahnya untuk segera meminta pertanggungjawaban mama Bara.


“Mama kamu keterlaluan, Bar!” Haris turut murka pada mama Bara.


“Ngomong apa kamu, Har! Kamu bawa kemana istriku?” Bara mencegah Haris ikut masuk ke dalam rumahnya.


Haris tetap memaksa masuk. “Tanya sama mama kamu sendiri, apa yang sudah dia lakukan terhadap istrimu!”


Melihat Bara yang masih tak paham, Haris melanjutkan ucapannya. “Mama kamu menjual rumah peninggalan orang tua Syara tanpa seizin Syara, juga memalsukan tanda tangan ibunya!”


Bara tampak terdiam mendengar penjelasan Haris.


Di ruang tamu, Syara sudah tak mampu menahan emosinya pada mertuanya itu. Ia mengeluarkan semua kemarahannya juga fakta yang ia ketahui tentang nasib rumahnya. Syara tak dapat menahan tangisnya yang semakin pecah.


“Benar itu, Ma?” tanya Bara ikut menyerang sang mama.


Mama Bara tampak terdiam menahan amarahnya. “Kamu pikir dari mana Mama modalin usaha kamu kalau bukan dari uang hasil jual rumah kamu. Kamu pikir Mama sebaik itu mau menanggung biaya hidup kamu di sini dengan memakai uang Mama? Uang itu hak Mama karena Mama ingin menarik kembali semua bantuan yang pernah diberikan papa Bara untuk kamu dan ibumu dulu. Kamu tahu, berapa uang bulanan yang papa Bara keluarkan untuk membantu kehidupanmu juga ibumu. Ibumu yang tak tahu malu itu justru mengambil papa Bara dari Mama!”


“Ibu Syara tidak seperti itu! Soal bantuan, bukan kah ayah Syara dulu juga sering membantu papa Bara? Bantuan yang diberikan papa Bara pada ibu dan aku, adalah bentuk balas budi papa Bara terhadap orang tua Syara! Lalu, kenapa diminta lagi?” bentak Syara pada mertuanya.


“Mama keterlaluan! Mama jual rumah orang tua Syara tanpa berbicara pada Syara! Rumah itu adalah satu-satunya peninggalan ayah dan ibu untuk Syara! Mama tega!” Syara terjatuh tak dapat melanjutkan kata-katanya.


Bara yang tak kuat menahan tangis, memeluk Syara dan membantunya untuk kuat berdiri. “Syara, maafkan aku. Ayo bangun, Syara, kamu kuat.”

__ADS_1


“Bara pikir Mama tak akan sejauh ini. Mama benar-benar jahat! Bara menyesal mengikuti kata-kata Mama!” serang Bara pada mamanya.


...****************...


__ADS_2