
Hingga saat ini, Kama berkembang cukup baik dan pesat, berat badannya sudah dikatakan normal seperti bayi pada umumnya. Dari fisik maupun organ-organnya sudah sempurna, tak ada masalah apa pun. Ia juga bisa meminum ASI cukup banyak. Perawatan khusus pun sudah tidak diperlukan lagi, meskipun Bara tetap meminta perawat untuk terus mendampingi Kama.
Berbeda dengan saudara kembarnya, 14 hari sudah Kalila berada di ruang NICU semenjak ia dilahirkan ke dunia. Kondisinya tak juga membaik, justru semakin memburuk. Syara tak tahu bagaimana ia akan menjalani hidupnya nanti jika Kalila tak juga bisa pulang ke rumah. Doa seakan tak berhenti untuk bayi mungil nan cantik itu.
Sejak dini hari, Kama tak berhenti menangis. Syara sudah mencoba menyusuinya, namun Kama menolak. Perawat juga terus memeriksa tubuhnya, namun tak juga menemukan sesuatu yang salah. Kama baik-baik saja, entah mengapa ia terus menangis yang tak seperti biasanya. Perasaan Syara pun semakin tidak menentu.
Hingga subuh tadi, berita yang tak ingin didengar pun terpaksa berhembus. Kalila tak mampu bertahan hidup, meski di awal semuanya tampak baik-baik saja. Organ pernafasannya semakin memburuk, meskipun dokter sudah memasang selang sebagai alat bantu nafas.
Syara yang kalang kabut, segera menuju ke rumah sakit. Sementara perawat terus menenangkan tangisan Kama yang mulai mereda. Syara tak berhenti menangis sepanjang perjalanan. Bara pun harus mampu mengontrol perasaan hancurnya, juga perasaan istrinya.
Sampai di rumah sakit, Syara menggendong dan menciumi bayi cantiknya itu. Ia tak kuasa menahan tangisnya yang luar biasa kencang. Ia hancur sehancurnya. Batinnya meremuk, akalnya menghilang, tulangnya melemah. Bara terus mendekap Syara yang masih menggendong dan memeluk Kalila.
Dokter dan perawat pun tak kuasa menahan air mata mereka. Dengan mata kepala sendiri, mereka melihat perjuangan Syara menyusui bayi-bayi kembarnya. Dan kini, ia dipaksa berpisah dengan salah satu takdir terindahnya.
“Kalilaaa,” teriak Syara begitu histeris.
###
__ADS_1
Mereka menuju pemakaman yang sudah selesai disiapkan. Bara tak lelah sedetik pun untuk menenangkan Syara, meski batinnya juga melebur. Sepanjang pemulangan jenazah Kalila dari rumah sakit hingga prosesi pemakaman, Syara tak berhenti menangis. Ia menyandarkan kepalanya di batu nisan bertuliskan nama Kalila. “Kalila ‘kan belum sempat melihat kamarmu di rumah, kenapa sudah pergi, Sayang. Mama belum puas menggendong dan menyusuimu.”
Bara terpaksa menyudahi Syara yang tak rela meninggalkan kubur Kalila. “Ayo Syara jangan seperti ini, Kalila sudah bahagia di sana, dia sudah bermain dengan teman-teman barunya di Surga.”
Haris dan Om Gustav yang menghadiri pemakaman Kalila, juga seakan tak kuasa menahan kesedihan. Haris tampak menyeka air matanya, begitu pun dengan Om Gustav. Apalagi, mereka berdua adalah saksi penderitaan hidup Syara selama ini. Haris yang membantunya memecahkan kisah masa lalu, juga Om Gustav yang berusaha melindungi Syara seperti anak kandungnya sendiri.
“Syara, sudah Nak,” ucap mama Bara yang juga tak sanggup menahan air mata yang mengalir begitu deras melihat pemandangan ini.
Kehilangan memang semenyakitkan itu. Kepergian suaminya, tak akan menandingi hebatnya perasaan kehilangan yang dirasakan menantunya yang telah kehilangan ayah dan ibunya, juga kedua anaknya. Anak yang belum sempat dilahirkannya, juga yang belum lama ia lahirkan. Kebenciannya seakan meluntur. Ia ikut memeluk Syara dan membisikkan sesuatu padanya.
Bara yang berhasil membujuk Syara, segera mengajaknya pulang ke rumah. Haris dan Om Gustav juga ikut ke rumah Bara. Selama perjalanan, Syara yang sudah mulai mampu mengontrol emosinya, masih terdiam merenung dan melamun.
Hingga sampai rumah, setelah mencuci tangan dan kaki, Syara langsung memeluk Kama begitu erat seakan tak ingin kehilangannya.
Bara sempat menanyakan keadaan Kama saat ditinggal kepada perawat apakah masih terus menangis atau tidak.
“Kama terus menangis tadi, Pak, setelah sebelumnya sempat mereda. Saya beri asi ibunya tetap tidak mau, padahal sudah waktunya minum. Saya cek badannya lagi juga tidak panas atau apa pun. Saya juga sempat menghubungi dokter dan mengikuti instruksinya, namun Kama tidak kenapa-napa, Pak. Lalu, tidak berselang lama, ia akhirnya berhenti menangis,” ungkap perawat yang menjaga Kama.
__ADS_1
“Mungkin ia hanya bersedih karena saudaranya sudah tak ada,” sahut Om Gustav.
Perawat pun seolah setuju dengan pendapat Om Gustav, karena dia juga pernah melihat kejadian ini sebelumnya, pada bayi lain yang ditinggal pergi saudara kembarnya.
Syara mengambil alih Kama dari gendongan perawat. Ditatapnya mata mungil bayi tampannya itu. Iba rasanya jika melihat bayi kembarnya yang harus terpisah. "Kemarin, rasanya kalian hanya berpisah di rumah sakit, tapi sekarang..."
Syara tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Hatinya begitu hancur. Kini, hanya Kama lah harapannya.
Selesai Syara menyusui dan menidurkan Kama, ia kembali ke kamarnya. Sementara Haris dan Om Gustav sedang berbincang di ruang keluarga bersama Bara dan mamanya. Kemudian, Bara izin pamit untuk menyusul Syara di kamar.
Bara melihat istrinya yang sedang melamun, berdiri di balkon kamar. Bara memeluknya dari belakang dan mencium pipinya. “Anak itu bukan kuasa kita, bukan hak kita untuk memaksa memilikinya selama apa pun yang kita mau. Mungkin, Kalila memang hanya ditakdirkan menemani kita 14 hari saja.”
Syara kembali meneteskan air matanya. Tatapannya kosong ke arah langit. Ia masih berusaha menata hati untuk kesekian kalinya menerima kehilangan.
“Kalila akan tetap hidup selamanya di hati bersama kita.” Bara melanjutkan ucapannya.
...****************...
__ADS_1