
Kali ini, Syara ingin lebih tampak lembut pada Bara. Syara memaksa dirinya untuk bisa lebih bersabar menghadapi Bara agar tujuannya tercapai. Tujuan untuk membuat Bara menyukainya dan pernikahan mereka akan bahagia. Terkesan naif memang, namun hanya ini yang mampu ia lakukan.
Di tengah kesibukan mengurus bisnisnya, sesekali Syara juga harus mengelola emosi dan nafasnya saat akan menghadapi Bara. Ia tak mau kelepasan dan ikut emosi saat Bara mulai menyakitinya. Syara menghampiri Bara yang sedang bersiap pergi ke kantor dan dengan berani, Syara memegang kerah kemeja Bara.
Plak!
“Apa-apaan kamu! Gak usah lancang! Beraninya kamu sentuh aku!” Bara membentak menampik tangan Syara.
“Aku cuma mau benerin kerah kamu,” jawab Syara lembut.
“Bar, maafin aku ya kemarin-kemarin aku suka melawan kamu,” lanjut Syara memegang tangan Bara.
Dengan cepat Bara menampik kembali tangan Syara. “Jangan berani sentuh aku! Aku jijik sama kamu, paham?”
Seakan sia-sia yang dilakukan Syara, Bara benar-benar berhati batu. Bara meninggalkan Syara begitu saja dan membanting pintu kamar dengan keras. Syara kembali menghela nafas.
“Apa sih pagi-pagi sudah teriak-teriak kamu, Bar,” tegur Mama Bara dari meja makan yang juga mendengar keributan di kamar Bara.
“Biasa, Ma. Menantu kesayangan Mama yang selalu cari gara-gara. Bara muak sama tingkahnya!” jawab Bara ketus.
Syara yang ikut turun menuju meja makan membalas perkataan Bara. “Syara cuma mau bantuin Bara, tapi Bara kasar banget nggak mau disentuh. Mama kasih tau Bara ya biar nggak sekeras itu sama Syara. Gimana pun juga, Syara kan istri Bara. Kalau Bara seperti ini terus, Syara mau pulang aja, Ma.”
Mendengar ucapan Syara, Mama Bara langsung seperti cacing kepanasan. “Eh, Syara kalau sudah menikah nggak boleh kabur-kaburan begitu dong. Ini kan rumah Syara juga, memang mau pulang ke mana? Bara, ayo bersikap baik sama istrimu. Mama sudah peringtkan kamu ya!”
“Ah udah lah, Ma. Bara berangkat sekarang. Berisik banget di rumah,” pamit Bara terburu-buru ingin pergi.
“Kalau Bara nggak mau sarapan, Bara harus mau Syara bawakan bekal, kalau nggak mau juga, sekarang juga Syara mau pulang, Ma!” Syara sedikit mengancam.
__ADS_1
Mama Bara seolah memberi kode pada Bara agar mau menerima bekal dari Syara. Bara terpaksa menuruti apa kata sang Mama. Ia mengangguk kesal dan menerima bekal Syara dengan kasar.
Syara tersenyum puas.
###
Syara yang sedang berada dalam panggilan telepon dengan Haris, menceritakan rencananya dan meminta saran Haris agar rencananya berhasil. Haris yang tengah makan siang pun dengan antusias menyambut baik permintaan Syara. Terlebih, Haris juga ingin Bara menerima pernikahannya.
“Ra, Bara itu suka banget wewangian di ruangannya. Dia juga suka kalau orang di sekitarnya wangi. Bara selalu kesal kalau mencium bau yang nggak enak. Oh iya, Bara juga suka disentuh bagian punggungnya. Satu lagi, Bara suka banget minum teh lemon hangat, apalagi kalau malam hari,” ungkap Haris menceritakan tentang Bara.
“Oh gitu ya, Har. Aku juga selalu wangi sih tiap hari, apa kurang semerbak ya? Tapi nanti aku coba lakukan apa yang dia suka. Makasih ya, Har. Eh iya, Har, kalau ada waktu aku juga mau konsul dong tentang bisnis aku, aku dengar kamu kan kerja di perusahaan konsultan bisnis,” pinta Syara.
“Sekarang aku lagi nggak repot kok, Ra. Kamu bisa cerita tentang bisnis kamu, apa permasalahannnya, atau apa yang mau kamu maksimalkan, kendalanya di mana, rencana bisnisnya seperti apa, entah dari budget atau pemasarannya, nanti aku coba bantu dari sini kasih advice.” Haris dengan senang hati membantu Syara.
“Wah makasih ya, Har. Kira-kira, per jam berapa nih, Har?” tanya Syara memastikan.
“Kapan-kapan aku traktir deh ya, Har. Biar nggak gratis-gratis amat,” jawab Syara sumringah.
Syara menceritakan apa yang diminta Haris tentang bisnisnya. Mereka bercakap kurang lebih selama 40 menit lamanya. Hingga akhirnya, Syara mengakhiri pertanyaannya karena tak enak hati telah menyita waktu Haris yang sudah memasuki jam kerja.
Saat percakapan akan diakhiri, Haris teringat akan kedatangan Gustav waktu itu dan memberanikan diri bertanya pada Syara. “Maaf, Ra. Kalau aku boleh tahu, kemarin om Gustav ngapain ya ke rumah tapi nggak masuk ke dalam malah ngobrol di luar?”
“Oh, kemarin dia kebetulan lewat aja terus karena lihat aku di luar, dia datangi aku terus kita ngobrol biasa aja, Har. Emang kenapa, Har?” Syara berbalik bertanya pada Haris.
“Oh, nggak apa-apa, Ra, cuma tanya aja, hehe. Ya sudah, aku tutup dulu ya, Ra, ini ada telepon masuk. Kalau masih ada yang mau ditanyakan jangan sungkan untuk hubungi aku lagi ya,” pamit Haris mengakhiri percakapannya di telepon.
Om Gustav memanggil…
__ADS_1
###
Syara yang sedang menunggu kedatangan Bara dari kantor, sudah berdandan rapi dan memakai parfum, tak lupa ia juga memakai dress rumahan yang anggun dan sedikit terbuka. Syara juga sudah menyiapkan secangkir teh lemon hangat untuk Bara.
“Jam segini belum pulang pasti dia antar Raya pulang dulu ke rumahnya,” kesal Syara.
Tak lama, terdengar suara mobil Bara datang. Syara pun semakin cemas dibuatnya. Ia takut Bara akan memakinya lagi karena sikapnya.
Syara tersenyum saat Bara membuka pintu kamar. Bara hanya terdiam melihat Syara yang menawarkan minuman kesukaan Bara, lalu meletakkan tasnya, dan langsung menuju ke kamar mandi. Selama beberapa menit, Bara terdiam di dalam kamar mandi dan keluar lagi masih dengan baju lengkapnya.
“Nggak jadi mandi? Mau makan dulu?” tanya Syara lembut.
“Maksudnya apa dandan kayak begitu?” Bara mulai ketus.
“Aku kan memang selalu begini, harusnya bagaimana? Kamu nggak pernah memperhatikan aku sih jadi nggak tau kalau aku selalu seperti ini setiap hari,” jawab Syara santai.
Syara menghampiri Bara dan mengusap punggung Bara. “Aku nggak seburuk yang kamu pikir kali, Bar. Aku juga wanita berpendidikan kok, aku juga kuliah. Apa aku jelek banget? Aku bisa kok dandan sesuai yang kamu mau. Aku bahkan bisa mencari uang sekaligus menjadi istri dan seorang ibu, mengurus rumah tangga. Kalau Raya, mungkin dia hanya bisa mencari uang tapi belum tentu bisa menjadi istri dan ibu rumah tangga.”
Bara terdiam tanpa perlawanan, mimik mukanya seperti seseorang yang sedang salah tingkah.
“Jangan pernah jelek-jelekin Raya di depan aku! Kamu nggak akan bisa menyamainya! Kamu berbeda jauh dengannya!” Bara kembali membentak dan menampik tangan Syara, lalu pergi meninggalkan Syara sendiri.
“Bara, aku yakin suatu saat kamu akan bisa mencintai aku,” ucap Syara tersenyum puas.
Syara terkejut mendengar suara dering ponselnya tanda ada pesan masuk, dari nomor tak dikenal.
Syara, ini nomor Om Gustav, simpan ya. Suatu saat om ada perlu sama Syara.
__ADS_1
...****************...