
"Mami tidak mempermasalahkan kondisi keluarga kamu. Mami sekarang mau meminta sama kamu...." Ucap mami Laura dengan jeda. Detak jantung ku langsung berdetak dengan kencang ada rasa takut jika mami melarang pernikahan ini yang nanti nya akan mengecewakan putra ku hafiz.
"Mami mau meminta sama kamu untuk menjadi istrinya Melvin. Kamu mau kan Mayang?" Tanya mami dengan senyumnya. Sambil menggenggam kedua tangan ku di pangkuan mami.
Nyessssss.. tes.. tes.. tanpa terasa Mayang meneteskan air matanya. "loh... Loh... Kamu kenapa nak? Kok malah nangis. Vin, Mayang kenapa kok malah nangis?" Tanya mami Laura khawatir. Malvin langsung berdiri dan jongkok di depan Mayang sambil menghapuskan air mair mata Mayang. Hafiz bergegas bergerak untuk memeluk bunda nya dari belakang.
"Kamu kenapa may?" Apa mama salah ngomong sama kamu?" Tanya melvin dengan rasa cemas.
"Hik... Hiks... Hiks.. bu... kan mas, aku cuma kaget. Kalau mami ternyata minta aku menikah sama kamu. Huwaaaa...." Jawab Mayang sambil nangis.
"Ya Allah Mayang, mami kira kamu kenapa?" Jawab mami heboh sambil menepuk jidat melvin. Hafiz dan Melvin hanya bisa bengong mendengar jawaban dari ku.
"Assalamualaikum" sahut tamu yang masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikum salam" jawab mami sambil berdiri menyambutnya anak kedua dan menantu kesayangannya.
"Mami, Nita datang sama bang Nico." Ucap Anita sambil menyalami punggung tangan mami dan memeluknya tak lupa mencium kedua pipi mami.
"Loh.... hafiz. Kamu disini sayang?" Saat Anita melihat anak dari sahabatnya mayang. Hafiz menyalami tangan Anita dengan takzim. "Iya Tante, hafiz sama bunda di ajak ayah ke rumah Oma, Tan." Jawab hafiz.
"Loooohh.. loooh... Mayang, kenapa Lo? Siapa yang buat Lo nangis? Kasih tahu gue may? Biar nanti gue hajar orang nya" Tanya Anita saat melihat ku menangis sambil mendorong Melvin dan duduk di sebelah Mayang lalu memeluknya, dengan mata tajam menatap Melvin.
"Ni..ta.. Lo kok ada disini? Gue nangis karena disuruh nikah sama mami?" Isak ku sambil menjawab pertanyaan Anita.
" Heeeeeeeh" Anita memandangi ku dengan wajah yang aku sendiri bingung.
Plaaaaak.. "Asem Lo" sahut Nita kesal. Anita menjitak kepala ku mengunakan tangan nya. "Sakit Nita dodol, Lo kira kepala gue apaan?" sahut ku kesel, air mata ku langsung berhenti sambil mengelus-elus kepala nya yang di jitak Anita kencang. Semua hanya bengong melihat tingkah ku dan Anita.
"Lo juga aneh. Ngapain juga Lo nangis kalo disuruh nikah sama mami. Gue kira Lo disakitin orang, Dodol gar*t. Untung gue enggak hajar mami. Bisa-bisa gue di pecat jadi menantu. Asem banget lo jadi sahabat." Geram Anita sambil melotot ke arah ku tajam.
"Loh mba Nita kenal sama Mayang?" Tanya mas Melvin setelah tersadar dari kagetnya melihat Anita menjitak kepala Mayang kencang. Dan tingkah absurd mereka.
__ADS_1
"Enggak... Mba enggak kenal sama orang aneh ini." Jawab Nita kesel sama tingkah Mayang.
"Iiissh Lo mah nit, jahat banget sih jadi sahabat. Orang nangis malah di jitak." Sahut Mayang kesel.
"Lagian kenapa juga Lo nangis kalau disuruh nikah? Tapi ngomong-ngomong Lo mau nikah sama siapa may? Kok Lo bisa disini dan kenal mami mertua gue?" Tanya Nita yang baru tersadar kehadiran Mayang dirumah ibu mertuanya dan disuruh nikah sama ibu mertuanya.
" Menikah sama Melvin nit." Jawab ku polos.
"Apaaaaaaaaa... Sama kulkas berjalan?"teriak Anita spontan. "Upppps.... Hehehehe" tawa Nita yang tersadar sudah meledek adik iparnya di depan ibu mertuanya. Mami hanya mendelik tajam melihat Nita yang sudah meledek anak kesayangan nya sedangkan Nico hanya menggaruk kepalanya yang kulihat tidak gatal.
Aku langsung menutup telinga mendengar teriakan Nita kencang di samping telinga ku. "Issssh teriakan Lo kayak di hutan aja nit." sahut ku kesal
"Lalu gimana udah Lo jawab belum? Lo terima enggak Melvin?"tanya Nita heboh. " Lalu kenapa Lo nangis?" Sahutnya lagi tanpa jeda.
"Belum gue jawab nit, gue nangis karena mami nerima keadaan gue yang enggak punya keluarga." Jawab ku jujur. Anita melongo mendengar jawaban ku.
"Astaghfirullah Mayang. Mami kira kenapa?" Sahut mami yang lega mendengar pengakuan ku lalu berjalan ke kursi, dan duduk di samping ku sambil menggenggam tangan ku.
"Ma... Mau mam." Jawab Mayang malu-malu sambil mengambil tisu yang di sodorkan oleh Anita kepadaku.
"Alhamdulillah." Sahut mami, Anita dan Nico, Melvin dan hafiz langsung berpelukan Setelah mendengar jawaban ku.
"Aaah.. mami lupa mau ajak kalian makan malam tapi anak mami yang pertama belum datang, sayang. Oh iya mami hampir lupa..... Mayang kenalin ini Abang kedua nya Melvin. Namanya Nicolas." ucap mami yang lupa karena kehebohan yang sudah dibuat oleh Mayang. "Vin, telpon Ronald tanyain Abang mu udah sampai mana" titah mami ke mas Melvin.
"Kita tunggu Abang pertamanya Melvin dulu ya sayang baru kita makan malam bersama?" Tukasnya
"Iya mami " jawab Mayang malu karena tingkahnya yang memalukan dirinya.
Melvin bergegas menelpon Abang pertamanya Ronald karena titah sang mami yang tidak boleh Melvin abaikan. Bisa berabe kalau Melvin tidak mengerjakan nya langsung. Mayang meminta ijin ke kamar mandi untuk mencuci wajah nya akibat menangis, Anita beranjak dari duduknya untuk mengantarkan Mayang.
Setelah berselang beberapa menit, Abang pertama Melvin datang bersama istri nya yang bernama mba Dian yang ternyata seorang dokter anak dan ketiga anak-anaknya, yang pertama cowok bernama Lukas usia nya 12 tahun, yang kedua bernama Maura usia nya hampir sama dengan putra ku dan yang paling kecil bernama Zidane baru berumur tiga tahun. Mami langsung memperkenalkan diriku dan anak ku hafiz kepada mereka.
__ADS_1
Setelah kedatangan bang Ronald dan mba Dian. Kami langsung berjalan menuju ruang makan bersama-sama. Terlihat banyaknya hidangan di atas meja yang telah di siapkan oleh ART keluarga mas Melvin. Aku dan hafiz duduk di sebelah mas Melvin. Sedangkan mami duduk di ujung sebagai kepala keluarga. Bang Ronald dan keluarga di sisi kanan mami, sedangkan bang Nico dan kami di sisi kiri mami.
Sehabis menyantap hidangan makanan. Mami menyuruh kami berkumpul di ruang keluarga. Sedangkan Hafiz di ajak bermain bersama anak-anak nya bang Ronald. Di ruang bermain yang neneknya siapkan untuk cucu-cucunya, ditemani salah satu ART mami. Sedangkan kami membahas acara lamaran resmi dan pesta pernikahan kami yang akan di tentukan tanggal nya sama mami.
"Anita, mama sama papa kamu mau tidak menjadi wali nya mayang nanti pas acara lamaran dan nikahan, sayang?" Tanya mami Laura sama Anita.
"Pasti mau mam, mama sama papa sudah kenal banget sama Mayang. Nanti Nita coba bicara langsung sama mama, papa?" Jawab Nita bahagia. Karena sahabat baiknya akan segera melepaskan kesendirian nya. Buat Anita, Mayang bukan hanya sahabat, tapi saudara. Anita yang anak tunggal sangat menyayangi Mayang.
"Kalau bisa secepatnya ya Nita? Mami mau acara pertunangan dan lamaran Mayang sama Melvin berlangsung Minggu depan. Dan pesta pernikahan mereka tiga Minggu kemudian. Kamu mau kan nak?" Tanya mami ke Anita.
"Iya mam, besok Nita akan menemui mama sama papa. Kebetulan besok Nita sama bang Nico mau kerumah mami." Ujar Nita
"Wah kebetulan kalau gitu, gimana kalau besok kita kerumah orang tua nya Nita? Gimana Melvin Mayang? Kalian mau kan." Ucap mami antusias.
"Boleh mam kalau begitu." Sahut Melvin.
"Gimana Mayang? Kamu mau?" Tanya mami memastikan kepadaku.
"Iya Bu, Mayang mau."
"Kok ibu sih sayang, panggil mami." Titah mami kepada ku.
"I..ya mami"
Sesuai pembicaraan aku dan hafiz pamit pulang karena sudah terlalu malam, hafiz juga sudah mengantuk. Mas Melvin mengantar kami kembali pulang kerumah ku. Mas melvin tidak mampir karena tidak enak jika dilihat oleh orang.
Setelah kepergian mas Melvin mengantar kami, aku dan hafiz memasuki rumah dan membersihkan diri serta Menganti pakaian lalu beranjak istirahat karena besok kami akan pergi kerumah orang tua nya Anita.
__ADS_1