
POV Putri
Perlahan-lahan kedua buah kelopak mata yang bulat membukakan matanya, dipandanginya seluruh ruangan yang berwarna putih, Indra penciuman nya mulai merasakan aroma obat-obatan.
"Alhamdulillah putri. Akhirnya kamu bangun nak." Terdengar suara dari arah depan pintu kamarnya. Di lihatnya sang ibu berjalan mendekati dirinya.
"I..Bu... Putri di.. mana?" Tanya putri dengan suara khas serak. Ibu Romlah langsung memberikan segelas air minum kepada anaknya, putri yang melihat ibu nya memberikan air minum, ia langsung meminumnya dengan sedotan. Rasa segar mengalir kedalam tenggorokan nya. Putri melepaskan sendotan dari mulutnya. Lalu Ibu langsung meletakkan kembali gelas tersebut.
"Kamu dirumah sakit nak. Kemarin Cindy memberitahu kan kepada ibu kalau kamu masuk rumah sakit." Jawab Bu Romlah.
"Putri kenapa Bu, kok putri bisa ada di rumah sakit?" Tanya putri
"Cindy bilang kamu kecelakaan jatuh dari tangga." Jawab ibu yang tidak mengetahui tentang keadaan putri yang sebenarnya.
"Ibu sama siapa disini? Mas Adam mana Bu?" Tanya putri
"Mas mu lagi berbicara dengan dokter. Ibu tadi datang berdua bersama mas mu, nak." Jawab ibu.
Tak berselang beberapa lama, pintu kamar rawat inap putri terbuka. Adam berjalan masuk ke dalam ruangan putri. Dengan raut wajah yang memerah menahan amarahnya, Adam melotot dengan tajam ke arah putri. Putri tidak mengetahui kenapa mas nya bisa memandangi dirinya dengan tajam.
"Gimana kata dokternya dam? Keadaan adik kamu baik-baik saja kan nak?" Tanya ibu khawatir dengan keadaan putri.
Adam tidak menjawab pertanyaan dari ibunya. " Jawab dengan jujur sama mas, siapa ayah dari anak yang kamu kandung?" Bentak Adam dengan tatapan tajamnya seakan-akan ia ingin mencekik leher adik perempuan nya.
Deg
__ADS_1
Putri terkejut mendengar bentakan dari Adam. Ini pertama kalinya ia melihat mas nya marah seperti ini. Dari ia kecil hingga dewasa Adam tidak pernah sekalipun memarahinya atau pun membentak nya. Sebesar apapun kesalahan yang pernah ia buat, tidak pernah sedikitpun Adam menaikkan intonasi suaranya di depan putri. Air mata putri terus mengalir dari matanya. Ketakutan yang selama ini menghantui dirinya akhirnya terjadi.
"Apa maksud kamu adam?" Tanya ibu yang heran melihat anak laki-laki nya memarahi putri.
"Ibu, mau tahu keadaan putri yang sebenarnya? Apa ibu tahu anak yang selama ini ibu manja dan ibu banggakan, bagaimana kelakuannya? Apa ibu tahu, kalau putri hamil? Apa ibu tahu itu semua?" Bentak Adam sama ibunya.
"A...p...a ma..ksud kamu dam?" Dengan bergetar ibu Romlah mengeluarkan suaranya, ia terkejut mendengar ucapan dari anak laki-laki nya. Rasanya tidak mungkin putri bisa seperti itu, tidak mungkin anak bungsunya tega mencoreng nama baik keluarganya. Tidak mungkin anak yang dia banggakan bisa melakukan hal sehina itu. Semua itu tidak mungkin.
Ibu Romlah sudah tak kuat menahan berat tubuhnya, ia terduduk dilantai dengan air mata yang terus mengalir keluar tanpa bisa di cegah. Hati nya seperti tertusuk sebilah p*s*u. Putri yang melihat ibunya, hanya bisa menyesalinya.
"Jawab mas putri, jangan cuma diam saja." Bentak Adam lagi.
"Pu..tri e.. nggak ta..hu.. siapa a..yah dari kandungan putri mas?" Jawab putri terbata-bata.
"Bagaimana mungkin kamu enggak tahu siapa ayah dari kandungan kamu putri?" Bentak Adam emosional.
"Aaaarghhh..." Teriak Adam sambil memukul tangannya ke tembok yang ada di sampingnya dengan kuat.
Putri tidak berani melihat kemarahan Adam, dia hanya bisa menundukkan kepalanya. Ibu Romlah yang mendengar bunyi pukulan di tembok langsung berdiri dan memeluk Adam agar putranya tidak melukai dirinya.
"Cukup nak.. cukup... Ibu mohon.." ucap ibu Romlah sama Adam.
"Putri kamu jawab dengan jujur dengan siapa kamu melakukannya nak? Ibu mohon. Biar bagaimanapun dia harus tahu kondisi kamu." Rayu ibu Romlah.
"Putri beneran enggak tahu Bu, putri melakukan nya bukan cuma satu orang saja tapi dengan banyak laki-laki yang mau memberikan putri uang." Jawab putri jujur.
__ADS_1
Plak.
Adam langsung menampar putri dengan kerasnya, saat mendengar pengakuan dari adik perempuannya. " Apa kamu sekarang jadi wanita murahan put?" Teriak Adam keras.
Ibu Romlah menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat mendengar pengakuan dari putri. Ia sama sekali tidak menyangka anak perempuan kecilnya berani melakukan perbuatan tidak tercelanya dan mencoreng nama baik keluarganya.
"Iyaaaa.. kenapa mas? Kenapa mas marah sama putri. Bukan kah selama ini putri juga ikut membantu mas untuk membiayai keluarga kita? Apa mas pikir dengan gaji mas yang kecil itu cukup untuk semua kebutuhan keluarga kita? Lagi pula semua gaji mas di pegang sama mbak Novi. Apa mas kira mbak Novi memikirkan kebutuhan keluarga kita. Enggak mas, mbak Novi hanya memberikan ibu uang satu juta untuk sebulan. Semua kekurangan putri yang nambahin." Balas putri menjawab pertanyaan dari mas nya.
"Kamu jangan berbohong putri bagaimana mungkin Novi hanya memberikan ibu uang satu juta untuk sebulan?" Ujar Adam tidak mempercayai ucapan putri.
"Putri bicara yang sebenernya mas, kalau mas enggak percaya mas tanya ibu." Jawab putri
"Apa benar Bu yang Putri kata kan?" Tanya Adam
"Iya nak, apa yang putri ucapkan." Jawab ibu membenarkan ucapan putri.
Adam menghempaskan tubuhnya di atas kursi, ia tidak mempercayai bahwa istrinya tega telah membohongi dirinya. Selama ini ia selalu memberikan apa pun yang istrinya minta untuk memenuhi semua kebutuhan hidup keluarga nya. Bahkan ia rela meminjam sana sini untuk menutupi kekurangan pengeluaran dirumahnya. Tapi kenyataannya tidak seperti yang ia dengar dari mulut ibu dan adik perempuannya.
"Apa mas tidak tahu kalau ibu di jadikan pembantu sama mbak Novi, apa mas tidak sadar bagaimana perlakuan mbak Novi ke ibu dan aku?" Tanya putri sama mas nya.
"Mbak Novi, di depan mas memperlakukan ibu dan aku dengan baik, tapi di belakang mas, mbak Novi memperlakukan ibu dan aku seperti seorang pembantu. Sedangkan pembantu yang mas bayar tidak mengerjakan pekerjaan rumah sama sekali. Dia hanya mengurus kebutuhan mbak Novi dan anaknya saja. Ibu yang memasak dan membersihkan rumah. Semua nya ibu yang lakukan. Bukan pembantu yang sudah mas bayar." Ungkap putri jujur.
Selama ini Novi selalu mengancam dirinya dan ibu, agar tidak memberitahukan kebenarannya sama Adam. Jika sampai Adam mengetahui yang sebenarnya maka Novi akan menyiksa ibu dan dirinya bahkan Novi bisa dengan tega membunuh mereka. Novi tidak pernah main-main dengan semua perkataan nya.
Pernah sekali ibu romlah mencoba melawan Novi, tapi apa yang dia dapat. Novi mencekik leher ibu Romlah sampai ibu hampir merenggangkan nyawa. Jika saja putri tidak menyadari dan menendang tubuh Novi dengan kakinya. Mungkin ibu Romlah telah mati ditangan Novi. Putri yang tidak ingin melihat ibu nya terluka, terpaksa ia harus menutupin semuanya dari Adam.
__ADS_1