
"Jadi ini wakil dari PT Ruzerda. Sepertinya perusahaan sudah mulai menurun kinerjanya." Jawab kakek santai sambil Manggut-manggut dan menatap ke arah paman. Ternyata kepergian kakek dan hafiz pergi sebentar untuk menjemput paman dan bibi yang menyusul kami ke mall.
"Apa maksud anda berbicara seperti itu, orang tua!!" Ujar Adam marah karena harga dirinya tergores karena kata-kata kakek.
"Sudah, Mayang sekarang kamu ganti baju kamu dengan ini nduk." Sahut nenek yang tidak ingin ada banyak orang yang menonton mereka.
Sambil menyerahkan baju yang telah di pilih nya buat ku. Nenek melihat raut wajah kakek yang sudah berubah, nenek hanya bisa mengelus-elus punggung kakek agar kakek menahan emosi.
"Dan kamu, sebaiknya kamu bawa semua keluarga kamu pergi dari sini. Apa kamu tidak malu di tonton banyak orang?" Sahut nenek lagi dengan tegasnya.
Melihat hampir banyak orang yang menonton mereka bahkan ada yang sambil memegang handphone. Adam langsung mengajak semua menjauhi butik. "Loh mas, kenapa nyuruh kami pergi sih, belum puas tahu kami malu-maluin Mayang." Ujar Novi saat mereka sudah menjauh dari butik
"Tahu nih mas Adam, lagian kapan lagi sih kita bisa buat malu mba Mayang." Sahut putri yang kesal melihat tingkah mas nya
"Sudah... Sudah... Apa kalian tidak malu banyak orang yang melihat kita disana. Kalau sampai mereka merekam kita lalu menyebarkan nya ke sosial media. Bikin reputasi mas hancur. Apa kalian enggak mikir dampak nya?" Sungut Adam berang.
Setelah kepergian Adam dan keluarga nya, Mayang langsung menuju ruang ganti pakaian atas perintah nenek. Mayang mencoba baju dress selutut berwarna krem yang sangat cocok dengan kulitnya. Nenek minta ku langsung memakainya karena menurut nenek pakaian yang aku kenakan terlalu tomboy.
Nenek membayar baju yang telah aku pakai, padahal aku ingin membayar nya sendiri. Tapi nenek melarang ku. Setelah membayar baju yang telah aku pakai, nenek dan bibi mengajak ku ke toko sepatu yang menurut ku harga nya cukup mahal buat kantong. Bibi memilihkan ku high heels yang tinggi tapak nya 5 cm. Aku hanya bisa mengikuti kemauan nenek dan bibi. Tak lupa pula bibi membelikan aku tas branded dengan harga yang cukup fantastis.
Setelah puas berbelanja kakek mengajak kami makan di salah satu tempat makan yang berasal dari negeri sakura. Aku memilih untuk memesan Egg chicken roll, beef Yakiniku, Tori ball, dan nasi tak lupa pula acar mayo dan minum nya aku lebih memilih air putih botol.
__ADS_1
Setelah kami menghabiskan semua makanan yang telah kami pesan, kakek mengajak kami untuk membeli semua kebutuhan hafiz dan mainan. Hanya saja hafiz menolak membeli mainan, hafiz hanya minta di belikan buku. Kakek yang tahu akan hobi cucu buyut nya sangat senang dan bangga. Kakek tidak tanggung-tanggung membelikan hafiz komputer untuk media belajar nya.
Awal nya nenek ingin membelikan hafiz handphone tapi aku menolaknya. Demi tumbuh kembang putra ku. Kalau komputer aku tidak mempermasalahkan nya, asal tidak menggunakan internet. Sedangkan kalau handphone, aku tidak ingin putra ku menghabiskan waktu nya untuk bermain game, Apa lagi game online, sungguh aku tak ingin putra ku kecanduan game.
Tidak ingin kalah dari kakek, nenek membelikan hafiz jam tangan yang super canggih dengan harga yang luar biasa menggocek kantong. Jam tangan yang bisa untuk menerima telepon dan juga disertai alat pelacak dengan fitur lengkap. Jadi aku bisa memantau gerak gerik putra ku. Sejenak darah miskin ku bergetar mengingat sudah berapa banyak uang yang mereka keluarkan untuk ku dan hafiz.
Aku sangat tidak mengetahui siapa sebenarnya keluarga papa ku. Kakek dan nenek dengan mudah nya mengeluarkan uang sebanyak itu. Apa kah mereka juragan tanah atau kah mereka orang kaya. Ingin bertanya tapi entah kenapa mulut ini rasa nya sulit untuk mengucapkan.
Mengingat usia kakek dan nenek yang terbilang lanjut. Kami memilih untuk kembali pulang kerumah, paman dan bibi mengikuti kami menggunakan mobil mereka. Sesampainya di rumah kami langsung merapikan semua barang belanjaan dan membersihkan diri. Aku membuatkan kopi hitam untuk kakek dan juga teh dengan aroma melati untuk nenek, paman dan bibi.
Tak ketinggalan susu coklat kesukaan hafiz dan juga kopi latte dengan es batu kesukaanku.
"May, ada yang mau paman bicara kan sama kamu" ucap paman saat aku meletakkan gelas di meja ruang keluarga.
"Paman ingin kamu mengambil tanggung jawab sebagai salah satu pemilik perusahaan kakek kamu. Kami tahu semua tentang kamu. Bahkan kakek menyuruh orang untuk mengawasi kamu setelah kamu menikah. Bukan niat kamu untuk menelantarkan kamu. Hanya saja keadaan yang memaksa kami untuk menjauh dari kamu nak?" Ujar paman dengan wajah sendu nya.
Aku melihat raut wajah semua keluarga ku yang saat ini sedang duduk di ruang keluarga dengan tatapan yang tak bisa aku baca. "Apa alasan nya paman, apa paman tahu kalau Mayang di hina oleh keluarga Adam. Apa paman tahu betapa menderitanya Mayang di cemooh kan oleh keluarga besar Adam?" Ku keluarkan semua pertanyaan yang selama ini ingin aku tanya kan dengan perasaan yang tidak menentu.
Sedih dan benci bercampur menjadi satu. Semua kenangan dan kejadian buruk yang pernah aku alami kembali berputar-putar. Seperti film yang terus menampilkan semua adegan demi adegan. Tanpa terasa air mata mulai mengalir dari mata ku.
"Kami melakukan itu karena kami ingin melindungi kamu Mayang." Ujar paman lirih.
__ADS_1
Dengan suara yang bergetar aku mencoba bertanya kepada paman "Melindungi Mayang bagaimana paman?"
"Melindungi kamu dari orang yang berusaha untuk mencelakakan kamu nduk." Jawab nenek sambil menahan tangisnya. Ku lihat Bibi sedang mengelus punggung nenek.
Jujur aku tidak mengetahui apa pun tentang keluarga papa kandung ku. Bahkan aku mengetahui mereka sebelum mama meninggal. Mama menceritakan bahwa papa memiliki keluarga dan memberikan alamat paman kepada ku hanya itu saja yang aku ketahui.
Nenek mulai menceritakan semua dengan sejujur-jujurnya, tentang papa dan mama. Sehingga kakek dan nenek memilih untuk menjauhi ku. Nenek ceritakan semua nya dengan sedetail-detailnya. Ada rasa ketakutan didalam diri ku mengingat akan hafiz. Biar bagaimana pun aku tidak mau sampai terjadi sesuatu sama hafiz.
Aku hanya tidak menyangka bahwa mereka berusaha untuk melindungi ku. Aku hanya berfikir bahwa mereka membenci ku karena aku dilahirkan dari seorang wanita yang tidak memiliki asal usulnya.
"Lalu apa sekarang Mayang aman nek?" Tanya ku ragu setelah mendengar cerita nenek.
"Insya Allah kamu aman sayang, dari kabar yang terdengar orang itu telah terbunuh. Kami tidak tahu siapa dan bagaimana orang itu terbunuh. Kami memutuskan untuk menunda bertemu dengan kamu, agar kami bisa memastikan keselamatan kamu." Ungkap nenek sambil menggenggam kedua tangan ku.
"Inilah alasan kenapa kami menjauhi kamu mayang. Bukan karena kami membenci mama mu, tapi demi keselamatan kamu. Sebelum mama mu meninggal. Mama mu bertemu dengan paman dan meminta kami untuk menjauh dari kamu. Mama mu merasa bahwa orang itu sedang mengincar nyawanya. Dan mama mu juga meminta kami hanya melindungi kamu dari jauh dan memantaunya. Dia tidak ingin kami terlibat jauh dari masalah mereka. Maaf kan kami nak." Ungkap paman dengan rasa bersalah.
"Papa mu orang yang luar biasa, kakek sangat bangga kepadanya. Dan mama wanita yang luar biasa hebat tidak ada rasa takut sedikit pun setia mendampingi papa mu." Ungkap kakek dengan senyuman nya.
"Jadi... Apa kamu mau nak menerima salah satu perusahaan kakek mu. Biar bagaimanapun itu sudah menjadi milik papa mu. Dan kamu satu-satunya anak mereka, sudah hak kamu untuk memilikinya." Tanya paman Abraham.
"Baik lah paman, Mayang terima permintaan paman dan kakek." Ujarku menyanggupinya.
__ADS_1
"Alhamdulillah" sahut mereka dengan perasaan lega.