
Keesokkan harinya, Mayang dan Melvin serta hafiz tak lupa pula mami datang mengunjungi ibu Romlah dan putri. Mayang membawa semua kebutuhan yang di perlukan oleh ibu Romlah dan putri. Sesampainya mereka disana, Melvin bergegas menemui salah satu penjaga dan meminta untuk bisa bertemu dengan ibu Romlah dan putri, sebelum mereka di ijin kan untuk bertemu dengan ibu Romlah dan putri salah satu petugas memeriksa semua barang yang akan di berikan buat ibu Romlah dan putri. Sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.
Setelah pemeriksaan, Melvin dan Mayang serta hafiz dan mami diantar ke salah satu ruangan yang telah disediakan khususnya keluarga yang ingin bertemu. Tak beberapa lama Bu Romlah dan putri keluar dari salah satu pintu yang dikawal oleh penjaga. Ibu Romlah dan putri yang tidak mengetahui siapa yang datang untuk menemui mereka sangat terkejut.
"Nenek.... Tante...." Teriak hafiz bahagia melihat sosok nenek dan tantenya. Hafiz berlari menuju Bu Romlah dan langsung memeluk tubuh nenek nya.
"Ya Allah hafiz.... Cucu nenek... Nenek rindu sama kamu sayang." Ucap Bu Romlah sambil mencium kedua pipi cucunya dengan berlinang air mata bahagia.
"Maafin hafiz nek, hafiz baru bisa datang sekarang. Soalnya hafiz harus sekolah." Ucap hafiz memandangi mata nenek nya.
"Enggak apa-apa sayang, nenek bahagia bisa ketemu kamu." Ucap Bu Romlah.
"Hafiz enggak mau peluk dan cium Tante putri?" Tanya putri dengan wajah cemberutnya.
"Heheheh... Hafiz kangen Tante." Jawab hafiz melepaskan pelukannya dari Bu Romlah dan memeluk Tante nya putri.
"Tante juga kangen hafiz." Jawab putri bahagia sambil memeluk keponakannya.
"Assalamualaikum Bu, maaf kami baru bisa datang sekarang." Ucap Mayang sambil menyalami punggung tangan ibu Romlah. Begitu juga dengan Melvin.
"Enggak apa-apa may, ibu senang kalian mau datang mengunjungi kami." Jawab Bu Romlah.
"Jeng, bagaimana keadaannya?" Tanya mami Laura.
"Baik-baik saja jeng, terima kasih sudah mau datang mengunjungi saya dan putri " jawab Bu Romlah.
"Sama-sama jeng, oh iya kamu datang bawa barang kebutuhan jeng dan putri. Semoga jeng dan putri mau menerimanya." Ucap mami sambil menyerahkan beberapa bungkus plastik. Melvin juga menyerahkan beberapa barang yang telah di bawanya untuk diserahkan ke putri.
__ADS_1
"Iya Bu, kami membawakan beberapa perlengkapan yang mungkin ibu dan putri butuhkan. Dan juga beberapa masakan buat ibu dan putri makan. Gimana kalau kita makan bersama." Tawar Mayang sambil membuka beberapa kotak makanan dan mengeluarkan air mineral.
"Ya ampun Mayang enggak perlu repot-repot kamu nak." Ujar Bu Romlah
"Enggak repot kok Bu. Yuk Bu, put." Ajak Mayang.
Ibu Romlah dan putri duduk disalah satu bangku dan melihat beberapa hidangan masakan yang sudah dibawa Mayang, tanpa terasa ibu Romlah meneteskan air mata terharu, menantu yang dulunya disia-siakan olehnya begitu perhatian dan memperdulikan dirinya. Tak berbeda jauh dengan putri, rasa malu mulai muncul lagi di dalam dirinya akibat perbuatannya dulu terhadap Mayang. Mayang yang memahami perasaan ibu Romlah dan putri menggenggam tangan ibu Romlah dan putri sambil tersenyum.
"Ibu dan putri makan ya?" Ucap Mayang.
"Terima kasih nak. Ibu bener-bener enggak tahu lagi harus bagaimana, kamu bener-bener berhati mulia. Maafkan ibu ya nak." Ucap Bu Romlah.
"Iya mbak maafkan putri juga ya." Ucap putri.
"Kok minta maaf sih nek. Kan belum lebaran?" Celetuk hafiz. Sontak semua orang tersenyum dan tertawa dengan ucapan hafiz. Membuat suasana yang tadinya canggung kembali menjadi ceria.
"Iya Bu, put. Yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang kita harus menatap masa depan. Enggak usah lagi ibu dan putri mengingat-ingat kembali. Sekarang lebih baik kita menata masa depan." Ucap Mayang.
"Bu, maaf kenapa ibu menolak jalan damai yang di ajukan oleh pihak Novi." Tanya Melvin
Bu Romlah yang mendapatkan pertanyaan dari Melvin langsung menatap Melvin dengan senyum yang penuh dengan kehangatan. " Karena ibu enggak mau jika ibu memilih jalan damai, Novi akan terus menganggu kehidupan kami. Kamu enggak mengetahui bagaimana sifat Novi yang sebenarnya. Bisa saja ibu menerima jalan damai. Tapi nanti akan ada masalah yang akan di timbulkan oleh Novi kembali. Novi tidak akan pernah puas dan menerima apapun termasuk masalah warisan Adam. Ibu enggak mau Novi menganggu kehidupan hafiz. Novi termasuk orang yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan." Ujar Bu Romlah.
"Apa yang ibu kata itu benar mas, Novi orang yang sangat nekat. Kami memilih untuk tidak mau berdamai dengan Novi karena kami ingin Novi tidak menganggu kehidupan kami nantinya." Tambah putri membenarkan ucapan ibu.
"Ibu mau minta tolong sama kalian Mayang dan melvin, untuk masalah harta warisan Adam, untuk sementara waktu kamu yang urus dulu. Ibu sudah bilang sama Gilang. Dan juga ibu sudah membicarakannya dengan pihak pengacara yang kalian sewa. Agar harta warisan itu tidak boleh di ganggu gugat selama kami berada disini. Dan ibu juga sudah meminta agar kamu lah yang mengelola dulu bersama gilang dan juga mbak nya Adam. Kamu mau kan Mayang Melvin." Pinta Bu Romlah.
"Insya Allah Bu, kamu bantu. Kami hanya tidak menyangka ibu dan putri lebih memilih menerimanya di bandingkan jalan damai. Ternyata ada alasan di balik itu semua." Ucap Mayang jujur.
__ADS_1
"Wah... Wah... Wah.... Ternyata sudah ada yang datang berkunjung melihat ibu mertua ku tersayang." Ucap Novi tiba-tiba muncul disamping mereka.
"Mau apa kamu kemari Novi?" Tanya Bu Romlah dengan wajah datarnya.
*Tentu saja Novi datang untuk melihat ibu mertuaku tercinta." Jawab Novi dengan angkuhnya.
"Langsung saja Novi, apa tujuan elo datang kemari?" Tanya putri geram.
"Ckckckck... Udah enggak punya sopan santunnya sama sekali ya elo put?" Ejek Novi dengan angkuhnya.
"Mau ngapain juga gue harus sopan sama orang kayak elo?" Ucap putri santai.
"Elo....." Ucap Novi dengan penuh emosi.
"Hmmm.. maaf Bu, jangan buat keributan disini." Tegur salah satu penjaganya.
Novi yang mendapatkan teguran dari penjaga langsung menetralkan amarahnya. "Maaf pak penjaga. Wanita ini yang mulai duluan. Padahal kedatangan saya ingin bertemu dengan mereka." Ucap Novi dengan wajah ramahnya.
"Baik Bu, tapi tolong jangan buat keributan disini." Ucap nya kembali. Sambil berjalan menjauh dari Novi dan kembali duduk di tempat penjagaan.
"Mau apa kamu datang kemari?"tanya ibu Romlah langsung tanpa basa-basi.
"Duh... Ibu mertuaku tercinta jangan jutek gitu dong. Gimana Bu rasanya berada disini? Gimana kalau ibu menerima perdamaian dari aku Bu? Jadi ibu enggak perlu berlama-lama tinggal disini." Tanya Novi dengan angkuhnya.
"Ibu merasa nyaman tinggal disini, jadi kamu enggak perlu repot-repot meminta ibu untuk menerima perdamaian dari kamu. Sebaiknya kamu mempersiapkan diri untuk proses penyelidikan kamu nantinya."ujar Bu Romlah.
Novi yang mendengar perkataan ibu Romlah langsung menahan geram menahan emosi nya. Dia sama sekali tidak menyangka jika ibu Romlah tidak mau menerima perdamaian dari dirinya. "Ya sudah kalau ibu menolak syarat dari aku. Tapi aku yakin, kalau pihak penyelidik tidak akan mungkin bisa menangkap aku. Oh iya Bu, untuk semua harta warisan mas Adam aku akan segera menuntut nya, karena bagaimanapun Reno berhak untuk harta tersebut. Jadi aku harap ibu bisa menerimanya jika semua harta-harta tersebut jatuh ke tangan aku dan Reno."ucap Novi dengan sombongnya.
__ADS_1
"Silahkan jika kamu ingin mendapatkan semua harta-harta tersebut. Sebaiknya kamu segera berobat untuk memeriksa kondisi kejiwaan kamu, biar kamu bisa menerima kenyataan." Ujar Bu Romlah yang menohok Novi.
Novi yang mendengar perkataan Bu Romlah sontak mengeram lalu meninggalkan ibu Romlah dan putri serta Mayang dan keluarganya. Mayang dan Melvin yang sedari tadi hanya diam memandang kepergian Novi.