
Menjelang sore putri menemani bibi untuk menjemput Reno di tempat biasa bibi menjemput. Sesuai dengan instruksi dari Adam, putri di wajibkan untuk mengambil foto laki-laki yang bernama dewa jika bisa putri harus mengajak laki-laki tersebut datang kerumahnya. Sedangkan Bibi tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya merasa takut akibat ancaman Adam.
Sesampainya ditempat biasa bibi menjemput Reno, bibi turun dari mobil di ikuti oleh putri. Putri tidak mau kalau sampai bibi berbicara yang tidak-tidak terhadap dewa. Reno yang sudah menunggunya bersama dewa, melihat bibi, reno melambaikan tangan kepada bibi. Bibi membalas lambaian tangan Reno.
"Pak dewa." Tegur bibi.
"Bibi sudah makan? Kalau belum pesan saja dulu makanannya." Ujar dewa.
Putri mengambil foto dewa dari jauh dan mengirimkan nya langsung ke handphone mas nya. Sudah beberapa sudut foto yang telah dia ambil dengan jelas. Setelah puas memfotonya, putri menghampiri meja tempat dimana Reno, bibi dan dewa berada. Dengan mengaktifkan rekaman suara dari handphone nya dan meletakkan nya di atas meja dengan letak terbalik. Agar mereka tidak mengetahui tindakannya.
"Loh sayang kamu sama siapa disini?" Tanya putri basa basi seperti makanan basi.
"Tan..te putri..." Jawab Reno dengan lirih dan ketakutan. Reno pernah di beritahu kan oleh Novi jangan sampai Tante nya mengetahui siapa ayah kandungnya.
"Hallo, perkenalkan saya putri, masnya siapa ya?" Tanya putri dengan genitnya.
Dewa yang melihat sikap genit putri tersenyum genit membalasnya. "Saya dewa mbak." Ucap dewa.
"Oh namanya mas, dewa ya? Mas kok bisa kenal sama Reno dan bibi?" Tanya putri dengan penasaran.
Reno berusaha untuk memberikan tanda kepada ayahnya agar jangan sampai dewa memberi tahu kan siapa dirinya. Hanya saja dewa yang sudah terpesona dengan kecantikan putri tidak menggubris nya.
__ADS_1
"Iya mbak kebetulan saya sedang mengantar putra saya Reno pulang." Jawab dewa polos karena tidak mengetahui jika putri adik dari Adam. Yang merupakan Tante dari Reno. Reno yang mendengar jawaban dewa hanya menundukkan kepalanya takut jika tante nya akan marah.
Sedangkan bibi tidak bisa berkata apapun karena teringat kejadian tadi siang. "Oh jadi mas ayah nya Reno ya?" Ucap putri pura-pura kaget.
"Iya mbak." Ucap Reno
"Memangnya masnya sudah menikah? Saya kirain mas belum menikah?" Tanya putri dengan mimik wajah kecewa.
"Sudah mbak, saya sudah menikah. Hanya saja Reno bukan anak dari saya dan istri sah saya." Ujar dewa dengan jujur nya.
"Maksud mas bagaimana ya? Kok putri jadi gagal paham?" Ucap putri bingung.
"Sebenernya Reno anak saya dengan mantan pacar saya mbak. Wanita itu memilih untuk menikah dengan laki-laki lain karena harta dan kehormatan, karena dulu saya hanya seorang pengangguran yang bukan berasal dari keluarga kaya. Tapi setelah saya berhasil dengan usaha saya, wanita itu datang dan memberitahukan kepada saya jika saya sudah memiliki seorang anak dengan dirinya. Pada awalnya saya tidak percayanya sama sekali, tapi setelah saya dan Reno melakukan test DNA ternyata hasilnya benar jika Reno merupakan anak kandung saya. " Ucap dewa panjang kali lebar kali tinggi menceritakan yang sebenarnya. Reno dan bibi hanya bisa diam membisu pucat pasih karena mereka merasa kalai aliran darah mereka tidak mengalir seperti biasanya di tubuh mereka.
"Karena Novi tidak mengijinkan saya untuk mengambil Reno dari sisinya. Karena Reno merupakan anak kesayangan dari suami Novi yang sekarang, dan suami Novi tidak mengetahui kalau Reno bukan putra kandungnya, Novi melaksanakan itu semua karena demi harta dari suaminya Novi. Novi itu wanita licik yang gila akan harta." Ucap dewa dengan emosi.
"Serius mas?" Tanya putri terkejut.
"Saya serius mbak, jika saja saya tidak memikirkan Reno anak kandung saya mungkin saja saya tidak akan mungkin mau untuk berhubungan kembali dengan Novi. Bahkan Novi selalu meminta uang kepada saya dengan alasan demi kebutuhan Reno." Ujarnya lagi tanpa memperdulikan perasaan Reno yang ada disampingnya.
Reno dan bibi yang mendengarkan percakapan antara dewa dan putri merasa seperti ada sesuatu yang menghantam jantung mereka. Putri yang mengetahui kebenarannya dari dewa tentu saja terkejut. Putri sama sekali tidak menyangka kalau Novi lebih gila daripada dirinya.
__ADS_1
Setelah percakapan mereka, dewa menyerahkan kartu nama miliknya kepada putri dan pamit pergi karena dewa masih ada urusan dengan orang lain. Sesudah kepergian dewa, putri mengajak Reno dan bibi untuk pulang, tak lupa dia mematikan alat perekam dari handphone nya dan mengirimkan nya ke handphone masnya Adam.
Sesampainya dirumah, putri menyuruh Reno dan bibi masuk ke dalam rumah. Adam yang telah menerima suara rekaman dari putri, emosinya semakin memuncak terlebih lagi dia melihat wajah Reno dan bibi. Reno yang melihat raut wajah papanya langsung memilih untuk berlindung di balik badan bibi karena ketakutan.
Adam memandangi wajah bibi dengan tatapan tajam, "Kamu saya kasih pekerjaan dirumah ini. Tapi dengan tega nya kamu menutupi semua kebohongan dirumah ini. Hebat sekali ya kamu membohongi saya dan keluarga saya. Apa yang sudah Novi berikan sama kamu sehingga kamu menutupi semua kebohongan novi?" Tanya Adam dengan lantang nya. Reno gemetaran di belakang punggung bibi.
"Maaf kan saya tuan." Jawab bibi gemetaran.
"Bawa Reno ke dalam kamarnya dan kamu juga temani Reno di kamarnya. Handphone kamu saya pegang. Kamu tunggu saja pembalasan dari saya." Ancam Adam.
Bibi mengangguk kepalanya mematuhi perintah dari Adam, bibi membawa Reno masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamar Reno serta menguncinya dari dalam. Kamar Reno berada di lantai dua, dengan jendela di pasangi teralis.
Adam menyuruh putri dan ibunya membeli makanan secara online, dia membutuhkan banyak asupan tenaga untuk menghadapi wanita cantik yang merupakan istri sahnya.
Sore harinya, Novi pulang ke rumah dengan perasaan riang sambil membawa barang belanjaan yang banyak di tangan nya. Betapa terkejutnya Novi melihat Adam sedang duduk menatap wajahnya dengan tajam, putri yang sudah menunggu Novi di ruang tamu langsung menutup pintu dan mengunci pintu rumah mereka. Agar Novi tidak bisa keluar dari rumah.
Novi mencoba menetralkan degup jantungnya yang sudah berdetak dengan kencang. Panas dingin itu yang dia rasakan." Loh yank kamu sudah pulang? Kok enggak kasih kabar ke aku sih? Bibi mana mas?" Tanya Novi mencoba mengusir rasa terkejut nya.
"Dari mana kamu? Darimana uang buat kamu beli semua itu barang." Tanya Adam tanpa menjawab pertanyaan Novi.
"Aku dari belanja yank sama teman-teman aku. Kebetulan hari ini aku di belikan gratis sama Yolanda. Dia hari ini lagi banyak uang." Ucap Novi berbohong. Adam yang mendengar kebohongan novi sontak langsung menggebrakan meja dengan kencang.
__ADS_1
Brak.