
"Aku... Aku..."
"Aku... Aku... Kenapa may?" Tanya mas Melvin heran.
"Aku enggak mau ah... Malu" jawabku malu-malu sambil mengalihkan pandanganku ke arah tembok di samping.
"Aaaaaaaah... Kamu ini!!! Kenapa enggak mau sih?Mau ya may?" Ujar mas Melvin dengan menghembuskan nafasnya mendengar jawaban ku.
"Kalau aku panggil kamu Abang, kayak aku panggil bang bakso, bang siomay. Enggak ah....!!" Jawabku lugas
"Ya ampun maaaaaay..."jawab melvin geram dengan jawaban ku.
*Udah sana kamu berangkat kata nya mau ke kantor."usir ku yang tidak mau membahasa tentang panggil.
"Ya udah deh, aku mengalah saja. Aku berangkat dulu ya may. Assalamualaikum." Ujarnya pasrah.
"Wa'alaikum salam. Hati-hati di jalan ya sayang." Jawab ku sambil menutup pintu rumah.
"Apa may?? Sayang... Yuhuuuuuu..."teriaknya kencang sambil menghentakkan kedua tangannya lalu berjalan menuju mobilnya, karena pintu rumah telah ku tutup.
Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah nya yang menurutku berlebihan di balik jendela. Hafiz hanya geleng-geleng melihat tingkah papa sambung nya diluar rumah. Hafiz mencium tangan Melvin dan menutup pintu pagar.
Setelah menutup pintu pagar hafiz masuk ke dalam rumah, kulihat dia hanya tersenyum-senyum sendiri. Aku heran melihat putra ku. "Kenapa nak?" Tanya ku.
"Ayah kayak anak kecil Bun, joget-joget di depan mobil nya. Heheheh.. ayah enggak ada jaim-jaim nya sama sekali." Jawab hafiz sambil tertawa kecil.
"Serius kamu sayang?" Tanya ku penasaran.
"Serius Bun, ibu Hani dan Bu Siska aja tertawa melihat tingkah ayah dari dalam kaca toko." Jawab hafiz.
"Kamu sudah makan sayang?" Tanyaku memastikan ucapan melvin.
"Sudah Bun, hafiz sudah makan sebelum pulang kerumah. Tadi di ajak ayah makan di restoran Padang depan sekolah." Jawab hafiz membenarkan ucapan melvin.
"Syukurlah kalau begitu. Bunda lupa masak, soalnya tadi bunda pergi nya buru-buru." Ujar ku menyesal.
__ADS_1
"Iya enggak apa-apa bunda." Jawab hafiz sambil memelukku dari sambil samping.
Aku membuka hape ku untuk mengecek email yang masuk. Sedangkan hafiz memilih tiduran dengan pahaku sebagai bantal nya sambil menonton televisi. Aku elus-elus rambut hafiz.
"Bun?"panggil hafiz
"Kenapa sayang?" Jawab ku sambil melihat wajah nya yang sedang menatap di pangkuan ku.
"Papa Adam sebenarnya benaran papa hafiz bukan Bun?" Tanya hafiz sambil menatap mata ku
"Kok kamu nanya begitu nak?"tanya ku heran. Tumben-tumben nya hafiz nanya begini.
"Enggak apa-apa sih Bun, hafiz pengen tahu saja." Jawab nya santai lalu memalingkan wajah nya untuk menonton acara televisi.
"Bukan nya bunda sudah bilang ke hafiz bukan? Kalau papa Adam, papa nya hafiz!"
"Iya Bun, hafiz tahu." Jawab hafiz seakan tidak mau melanjutkan pertanyaan nya tadi. Aku paham akan maksud hafiz, hanya saja aku ingin hafiz mengungkapkan apa yang dia rasakan. Aku tidak bisa memaksa hafiz, biarlah nanti dia bicara sendiri tentang perasaan nya.
Memang salah ku tidak memberitahu kan keberadaan hafiz saat aku hamil dulu saat sebelum berpisah dengan Adam. Tapi tidak bisakah Adam menerima hafiz, bukan kah hafiz putra kandungnya darah dagingnya. Anak yang selama ini dia inginkan dan dia nanti-nantikan sehingga dia lebih memilih untuk bersama wanita lain. Sehingga rumah tangga kamu retak.
Menjelang sore aku menyuruh hafiz untuk membersihkan dirinya. Kakek dan nenek hafiz sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi tak lupa pula ku sedia kan minuman dan cemilan untuk teman mereka nonton. Aku telah membersihkan rumah dan menyuci pakaian kotor.
Aku menuju dapur untuk menyiapkan makan malam kami, bisa saja aku memesannya melalui aplikasi online. Hanya saja aku lebih memilih untuk membuat nya sendiri.Setelah selesai memasak aku langsung menghidangkan nya di meja makan.
Saat adzan mulai terdengar aku langsung bergegas untuk melaksanakan mengambil wudhu dan melaksanakan sholat berjamaah dirumah bersama kakek dan nenek serta hafiz, Kakek yang menjadi imam kami saat shalat. Tak lupa aku panjatkan doa untuk orang-orang yang aku sayangin.
Tok
Tok
Tok
Hafiz berlari menuju pintu rumah.
Cklek
__ADS_1
"Ayaaaaaah". Teriak hafiz senang langsung berhamburan memeluk tubuh Melvin.
"Assalamualaikum jagoan ayah." Sahut Melvin sambil berjongkok dan memandang wajah hafiz.
"Wa'alaikum salam ayah. Heheheheh." Jawab hafiz sambil tertawa kecil karena lupa mengucapkan salam. Hafiz lalu mengambil tangan mas Melvin dan mencium tangannya.
"Wa'alaikum salam, sudah datang mas? Hafiz ayah nya di suruh masuk dulu dong nak, masa ayah nya di depan pintu" ujar ku geleng-geleng melihat tingkah laku hafiz.
"Yuk ayah, masuk." Ajak hafiz sambil mengandeng tangan mas Melvin. Menuju ruang keluarga. Kakek dan nenek sedang santai sambil menonton televisi.
"Sudah tiba Vin?" Tanya kakek saat melihat melvin, mas Melvin menyalami kakek dan nenek.
"Baru tiba kek."jawab mas Melvin.
Aku berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman buat mas Melvin. Aku membuatkan kopi indocaf*, Karena mas Melvin menyukainya. Dan meletakkan nya di meja.
"Diminum mas kopinya." Ujar ku setelah meletakkan gelas Kopi.
"Makasih ya may." Jawab mas Melvin dengan senyum pasta gigi.
"Ayah, mau mandi dulu enggak? Ayah bawa pakaian gantikan" Tanya hafiz
"Boleh sayang, ayah bawa baju ganti kok." Jawab mas Melvin, ku lihat ada paper bag yang mas Melvin taruh di samping kursi.
"Yuk ayah, mandi di kamar hafiz saja. Hafiz ada punya handuk yang baru di beli bunda. Tapi belum hafiz pakai." Ajak hafiz.
"Iya sayang, may aku numpang mandi dulu ya? Kakek, nenek Melvin numpang mandi dulu di kamar hafiz."
"Iya, mandi dulu lah Vin. Habis itu baru kita makan malam. Kalau belum sholat, sholat lah dulu di kamar hafiz nak." Ucap kakek
"Iya kek, Melvin sekalian sholat" jawab melvin. Hafiz langsung mengajak ayah sambung nya menuju kamarnya.
Seusai mas Melvin membersihkan diri dan melaksanakan sholat, kami menuju ruang makan. Dan mulai menyantap masakan yang telah aku hidangkan di atas meja makan.
Aku meminta bantuan sama mas Melvin untuk mencarikan aku Asisten rumah tangga Untuk membantu ku membersihkan rumah dan menjaga hafiz. Tidak mungkin aku memanggil mbo Jum dan bi ummai. Aku juga meminta tolong mas Melvin mencarikan tukang kebun dan juga satpam untuk menjaga rumah ku. Untuk pos penjagaan nya sudah ada hanya saja yang menjaga belum ada. Karena aku merasa belum terlalu penting.
__ADS_1
Untung saja mas Melvin mau membantu ku untuk mencarikan ART dirumah, kakek dan nenek mendukung ku. Biar bagaimanapun aku akan mulai bekerja di perusahaan.