Istri Tegar

Istri Tegar
Kemarahan Adam


__ADS_3

Setelah membaca hasilnya, raut wajah Adam memerah. Adam meremas kertas hasil test dan berlalu jalan menuju kerumahnya. Sesampainya di rumah, Adam berteriak mencari Novi.


"Novi... Novi... " Teriak Adam keras.


Semua orang dirumah sontak kaget dan berhamburan keluar dari kamar mereka masing-masing. Ibu dan putri bingung dengan kemarahan Adam, Adam berjalan mencari keberadaan Novi, dia masuk ke dalam kamarnya kosong, lalu dia mencari dikamar anaknya Reno, kosong juga.


"Novi mana Bu?" Tanya Adam dengan penuh amarahnya setelah dia keluar dari kamar Reno.


"Novi sedang keluar, katanya dia lagi ada urusan dengan teman-temannya." Ucap ibu memberitahukan kepada Adam.


"Brengsek. Mana bibi?" Tanya Adam.


"Ada di belakang mas. Memangnya ada apa sih mas marah-marah? Mas Adam enggak ke kantor?" Tanya putri heran.


"Panggil bibi suruh kesini."perintah Adam ke putri.


Putri yang mendengar mas adamnya memerintahkan dirinya untuk memanggil bibi, dengan mau tak mau dia harus menuruti kemauan mas adamnya. Putri berjalan ke belakang dan memanggil bibi.


"Bi, di panggil bapak." Ucap putri saat melihat bibi sedang berada di halaman belakang.


"Ada apa ya mbak putri." Tanya bibi heran. 


"Mana saya tahu. Lagian seharusnya kamu memanggil saya nona. Bukan mbak." Kesel putri.


"Saya kan disuruh nyonya Novi untuk memanggil mbak putri dengan panggilan mbak bukan nona." Jawab nya enteng.


"Memangnya yang membayar gaji kamu siapa hah? Novi? Dasar pembantu enggak ada akhlak." Ucap putri kesal dan berlalu menuju Abang dan ibunya berada.


Bibi yang mendengar ucapan putri kesalnya bukan main. Dia tahu kalau Adam lah yang membayar gajinya, hanya saja nyonya Novi lah yang memberi uang gaji kepadanya. Menurutnya hanya Novi dan Adam lah yang harus dia hormati bukan putri dan ibunya.


Karena tidak ingin tuan nya marah, bibi berjalan mengikuti putri dari belakang. Dalam hati nya ada apa dengan tuan nya, apa kah dia memiliki kesalahan yang tidak dia ketahui.


Sesampainya di ruang keluarga, bibi melihat Adam dengan wajah penuh dengan kemarahan. Sontak nyalinya mulai menciut, baru kali ini dia melihat kemarahan di wajah Adam. Bibi langsung menundukkan kepalanya akibat ketakutan yang tidak dia ketahui apa masalahnya.


"Tuh mas pembantu yang enggak punya sopan santun nya sama pemilik rumah." Ucap putri.

__ADS_1


Bibi yang mendengar perkataan putri sontak mengangkat wajahnya dan memandangi wajah putri dengan mencibirnya. Adam melihat semua perubahan dari raut wajah pembantu nya.


"Apa maksud kamu mencibir adik saya" bentak Adam tidak suka.


Bibi yang mendengar bentakan Adam sontak kaget dan menundukkan kepalanya kembali. "Oh jadi begini kelakuan pembantu dirumah ini?" Sindir Adam langsung. Putri dan ibu tersenyum dengan merekahnya. "Mampus emank enak, siapa suruh jadi pembantu belagu." Lirih putri yang di dengar oleh ibu.


"Eng..gak pak. Ma..af kan saya pak." Jawab bibi ketakutan.


"Maaf... Maaf... Kalau maaf ada gunanya mungkin penjara bakal sepi." Bentak Adam.


"Kamu tahu kemana Novi pergi." Tanya Adam lagi.


"Nyonya pergi bersama teman-teman nya tuan." Ucap bibi takut-takut.


"Jangan sebut Novi nyonya lagi dirumah ini. Dia bukan nyonya kamu sekarang. Seharusnya ibu saya lah yang seharusnya kamu panggil nyonya dan adik saya menjadi nona dirumah ini." Bentak Adam dengan penuh emosi.


"I..ya tuan. Maaf kan saya." Jawab bibi.


"Sekarang kamu hubungi Novi. Telepon Novi di depan saya." Perintah Adam.


"Putri, kamu ke kamar bibi, cari handphone nya dan bawa kemari." Perintah 


"Siap mas." Ucap putri bahagia karena akhirnya mas Adam nya akan bertindak.


Bibi tidak bisa membantahnya, sebenarnya jika Adam mengijinkannya mengambil handphone miliknya. Dia akan menghubungi nyonya nya dan memintanya untuk tidak pulang dulu kerumah. Hanya saja sekarang bibi tidak bisa memberitahu kondisi dirumah sama nyonya kesayangannya.


Putri kembali dengan membawa handphone milik bibi dan menyerahkan nya ke Adam. Adam menerima handphone tersebut. "Sekarang kamu telepon Novi di hadapan saya tanyakan dimana dia sekarang." Perintah Adam dengan meletakkan handphone milik bibi diatas meja. 


Bibi yang ketakutan, dengan terpaksa melaksanakan apa yang telah Adam perintahkan kepadanya. Putri langsung merebut handphone tersebut dan meloudspeaker nya. Bunyi dering nada sambung mulai terdengar dari handphone milik bibi.


(Ya hallo bi.) sahut dari seberang sana. 


Adam memberikan kode agar bibi menjawabnya. Bibi bingung apa yang harus dia perbuat, lalu putri mendekati bibi dan menepuk pundak bibi agar bibi menjawab ucapan dari Novi.


( Hallo nyonya) jawab bibi ketakutan karena di pelototi oleh semua orang yang ada disana.

__ADS_1


(Ada apa bi? Bapak udah pulang belum? Oh iya Bi, Reno sudah di jemput sama bapak kandungnya. Mungkin nanti sore akan di antar sama Dewa. Jadi nanti bibi jemput Reno di tempat biasa ya bi. Saya sebelum bapak pulang saya sudah sampai dirumah) ucap Novi tanpa jeda.


Adam, putri dan ibu Romlah sontak melebarkan matanya saat mendengar semua ucapan Novi. Adam sama sekali tidak menyangka jika ternyata bibi turut serta ikut membohongi dirinya dan keluarganya.


Air keringat mengalir deras di wajah bibi, dia tidak tahu apa yang akan diperbuat oleh tuan nya terhadap dirinya dan nyonya nya Novi. Adam memberikan kode kepada putri agar bibi menjawab ucapan Novi. Putri yang mengetahui kode mas nya langsung menyenggol bibi agar bibi menjawab pertanyaan Novi. Bibi hanya bisa pasrah dan mengikuti apa mau dari tuan nya.


(Enggak apa-apa nyah. Saya hanya bingung kenapa den Reno belum pulang dari sekolahnya. Bapak belum pulang nyah. Baik nyah nanti saya jemput den Reno di tempat biasa.) Jawab bibi


(Oh iya Bi, nanti kalau jemput Reno sebisa mungkin orang rumah jangan sampai ada yang tahu ya terutama ibu sama setan cilik itu. Nanti saya bawakan bibi baju baru. Kebetulan hari ini saya lagi jalan sama om Pranoto. Pengusaha yang waktu itu loh bi. Nanti saya kasih bibi uang tutup mulut deh.) Ucap Novi lagi. 


Bibi dengan wajah pucat Pasih hanya bisa menjawab pertanyaan nyonya nya pasrah karena dia tidak berani untuk memberitahukan kepada Novi kalau suami, ibu dan adik iparnya mendengarkan semua percakapannya.


(Iya nyonya. Kalau begitu saya tutup dulu ya nyah takut nya mbak putri dan ibu mendengar pembicaraan kita.) Jawab bibi ketakutan dan memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka.


(Baik bi, nanti bibi kabarin ke saya ya. Kalau misalkan ibu atau putri bilang tua pulang cepet. Kebetulan saya enggak jauh kok dari rumah. Bibi tau kan perumahan sebelah yang mewah-mewah itu. Kalau gitu saya tutup dulu ya bi. Inget pesan saya jemput Reno di tempat biasanya) ujar Novi santai lalu menutup panggilan dari bibi.


Klik.


Braaaaak.


Adam mengebrak meja yang ada di depannya dengan keras. Bibi terjatuh dari jongkoknya karena mendengar gebrakan yang kencang. Sedangkan ibu Romlah dan putri tersentak kaget.


Adam dengan penuh emosi langsung berdiri dan mendekati bibi serta mencekiknya. Ibu dan putri berusaha untuk melepaskan cekikikan tangan Adam dileher bibi. "Adam lepaskan."teriak ibu romlah yang ketakutan.


"Lepas mas, jangan bikin masalah tambah besar." Teriak putri kencang dan memukuli tangan mas nya agar Adam melepaskan cekikikan nya.


Adam melepaskan cekikikan nya, bibi berusaha mengambil nafas dengan rakus karena di hampir saja kehilangan nyawanya. Jika saja ibu dan putri tidak menolongnya kemungkinan besar dirinya sudah tak bernyawa.


"Kamu masih beruntung, jika saja ibu saya dan adik saya tidak mau menolong kamu. Nyawa kamu sudah habis sama saya." Ucap Adam penuh dengan tekanan.


Bibi mengeluarkan air matanya, ia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara tangisan. Dia sama sekali tidak menyangka kalau tuan nya akan semarah ini terhadap dirinya. Rasa takut mulai menjalar di tubuhnya.


"Put, nanti kamu temenin bibi untuk jemput Reno. Awas saja kalau sampai bibi berusaha untuk kabur dan memberitahukan kepada Novi." Perintah Adam.


"Dan kamu, kalau sampai kamu berani kabur dan memberitahukan semuanya sama Novi, nyawa kamu dan keluarga kamu akan dalam bahaya. Jangan pernah kamu berani-beraninya cerita sama orang lain. Saya tidak akan pernah melepaskan kamu sedikitpun." Ancam Adam.

__ADS_1


"B...aik tuan.." jawab bibi ketakutan.


__ADS_2