
Malam hari nya setelah makan malam, Mayang menemui kakek, dan berbicara dengan kakek. Mayang mengutarakan apa yang ada di dalam pikiran nya sama kakek. Kakek melarangnya karena ini akan menyangkut keselamatan Mayang. Tapi Mayang mencoba meyakinkan kakek, Mayang harus tahu apa mau nya Adam.
"Kek, Mayang mau berbicara dengan Adam. Mayang tidak akan tenang sebelum tahu apa maunya Adam. Mayang harap kakek mengijinkan Mayang untuk berbicara dengan Adam." Ucap Mayang saat berbicara berdua dengan kakek.
"Kakek tidak setuju may, kakek tidak mau terjadi apa-apa sama kamu kalau kamu bertemu dengan Adam dan keluarganya." Ucap kakek menentang permintaan Mayang.
"Tapi kek Mayang harus tahu apa mau nya Adam mencari Mayang. Jujur saja kakek, Mayang tidak akan bisa hidup tenang kalau selalu di ganggu Adam. Mayang hanya ingin hidup Mayang dan hafiz tenang tanpa gangguan dari Adam." Ungkap Mayang
Kakek terdiam sejenak memikirkan apa yang harus dia lakukan. Kakek juga menyadari jika hal ini berlarut-larut. Kemungkinan besar akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan nya.
"Baik lah, kakek setuju, asal kamu mau di kawal sama orang yang kakek percaya. Dan bertemu dengan Adam di area publik. Biar tidak terjadi sesuatu sama kamu. Bagaimana, apa kamu setuju sayang?" Ujar kakek
"Baik kakek, Mayang setuju." Jawab Mayang lega. Biar bagaimanapun ini menyangkut kehidupan mereka kedepannya.
Karena kegigihan Mayang memberitahukan rencanany kepada kakek hingga akhirnya kakek setuju tapi dengan syarat ada seseorang yang harus melindunginya. Mayang pun setuju dengan keinginan kakek, karena menyangkut keselamatan dirinya.
Keesokkan harinya Mayang menghubungi Anita dan meminta Anita untuk mengabarin jika nanti Adam datang lagi ke butik, Anita harus memberitahukan kepada dirinya.
Anita memberitahukan kalau beberapa kali Adam datang ke butik bahkan mantan mertua nya pun juga mencari-carinya.
Mayang memutuskan datang ke butik bersama dengan orang yang disuruh oleh kakek untuk menjaganya. Selama di perjalanan menuju butik Anita mengabarkan bahwa Adam telah datang ke butik dan menanyakan nomor telepon dan juga alamat nya Mayang.
Mayang memberitahukan kepada Anita bahwa diri nya sedang dalam perjalanan menuju butik dan meminta Anita untuk menyuruh Adam menunggu dirinya.
__ADS_1
Sesampainya di butik Mayang berjalan menuju ke butik bersama Ren--seseorang yang telah di utus kakek untuk menjaga Mayang. Didalam butik Mayang sudah melihat Adam dan mantan mertua nya menunggu di kursi khusus pengunjung. Mayang meminta Anita untuk menutup butik nya terlebih dahulu. Dan Anita menyetujuinya. Ren menjaga Mayang Sari dekat, demi keselamatan Mayang. Seluruh karyawan butik tidak ada satu orang pun yang meninggal kan butik. Mereka mengawasi dari jauh sambil menggenggam telepon seluler mereka masing-masing.
"Apa kabar ibu Romlah dan Adam." Ucap Mayang saat menemui mereka dan duduk di salah satu bangku yang tersedia.
"Baik may, gimana kabar kamu sayang?" Jawab Bu Romlah dengan manisnya.
"Huweeeek" batin Mayang. "Alhamdulillah baik kok Bu. Ada apa ya ibu dan Adam mencari saya?" Tanya Mayang dengan santai.
"Begini loh Mayang, ibu sama Adam mencari kamu karena ibu mau meminta kamu kembali rujuk sama Adam. Lagi pula kan kalian berdua mempunyai anak, biar bagaimanapun perkembangan hafiz akan lebih baik jika kalian berdua kembali bersama. Ibu kasihan sama hafiz melihat kedua orang tuanya berpisah. Jadi lebih baik kamu sama Adam rujuk." Ujar Bu Romlah tanpa malu nya.
"Lalu bagaimana dengan Novi Bu? Bukan kah Novi menantu kesayangan ibu?" Tanya Mayang heran dengan perkataan ibu Romlah.
"Kalau Novi kamu tenang saja, Adam bakalan menceraikan Novi jika kamu setuju untuk rujuk dengan Adam. Atau enggak kamu sama Adam menikah siri? Ini semua demi hafiz may, kamu maukan rujuk lagi sama Adam?" Dengan enteng nya Bu Romlah berbicara agar Mayang rujuk atau enggak jadi istri siri Adam.
Deg...
"Iya may, itu kalau kamu mau? Tapi kalau kamu enggak mau, biar Adam menceraikan Novi?" Ibu Romlah dengan manisnya memberikan saran kepada Mayang.
"Kalau Adam sendiri bagaimana?" Tanya Mayang sambil memandangi Adam.
Dari tadi Adam hanya memandangi Mayang tanpa berkedip sedikit pun, melihat perubahan Mayang yang lebih cantik dari sebelumnya di bandingkan saat menikah dengan Adam yang tidak terurus. Adam yang terkaget mendengar pertanyaan Mayang hanya menggaruk-garuk kan kepalanya yang tidak gatal.
"Aku mau kita rujuk may, untuk Novi kamu enggak usah khawatir. Kalau dia enggak mau menerima kamu, nanti aku akan menceraikan Novi secepatnya." Dengan enteng Adam berbicara tanpa memikirkan perasaan wanita yang notabene nya istrinya sendiri, Novi.
__ADS_1
"Apa kamu yakin dam, kalau Novi mau menerima saya jadi madu nya. Dan apa kamu yakin Novi mau diceraikan sama kamu?" Tanya Mayang memastikan ucapan Adam.
"Kamu tenang saja may, biar nanti aku yang urus masalah aku sama novi. Jadi kamu enggak perlu capek lagi bekerja di perusahaan papa kamu, biar nanti aku saja yang memimpin perusahaan milik papa kamu. Lagi pula pengalaman aku mengurus Perusahaan jauh lebih baik di bandingkan kamu yang udah lama tidak bekerja. Sebaiknya kamu dirumah saja mengurus rumah dan anak-anak kita nantinya." Ujar Adam dengan entengnya.
"Maaf perusahaan apa yang kamu maksud Adam?" Tanya Mayang
"Perusahaan besar milik papa kamu lah may, memang perusahaan mana lagi. Lagi pula kamu itu perempuan may, mana pantas kamu memimpin perusahaan besar berskala internasional. Kalau kamu rujuk sama aku, biar nanti aku yang mengurus perusahaan papa kamu. Lagian kenapa kamu enggak bilang sih dari dulu sama kami kalau kamu anak orang kaya." Jawab Adam
"Lohh.. memang siapa yang bilang itu perusahaan saya? Dan apa urusan nya jika perempuan yang memimpin perusahaan. Saya rasa itu bukan masalah besar." Ungkap Mayang heran mendengar perkataan Adam.
"Sudah-sudah, benar apa kata Adam may. Kalau kamu rujuk sama Adam kan ada untung nya juga buat kamu. Adam yang mengurus perusahaan milik papa kamu, sedangkan kamu dirumah mengurus anak-anak. Lagi pula kodrat nya wanita itu dirumah may mengurus suami, rumah dan anak. Bukan mengurus perusahaan." Ibu Romlah membenarkan ucapan Adam.
"Maaf Bu, saya rasa saya tidak mungkin mau rujuk dengan Adam. Untuk perusahaan itu bukan milik saya. Lagi pula kamu tidak berhak untuk mengurus perusahaan. Memang nya kamu siapa meminta perusahaan itu sama saya?"
"Udah lah may kamu jangan berbohong, aku sudah tahu kalau perusahaan itu milik kamu. Dan aku berhak untuk perusahaan itu, lagi pula itu semua demi hafiz may. Kamu jangan rakus dong, aku juga berhak untuk perusahaan itu karena aku papa kandung nya hafiz. Perusahaan itu tidak akan berkembang pesat tanpa bantuan aku may." Ujar Adam seenaknya dengan sombong.
"Bener apa kata Adam may, Adam berhak atas perusahaan itu. Lagi pula itu juga hak nya hafiz, jadi pantas dong kalau Adam mendapatkan hak nya. Adam itu ayah kandung nya hafiz may. Kamu jangan rakus harta dong. Lagian kalau bukan karena Adam, bagaimana mungkin kamu bisa jadi wanita terhormat dan bisa hidup enak. Kamu itu hanya anak yatim-piatu may. Tanpa Adam kamu bukan siapa-siapa." Ujar ibu Romlah.
Baik Mayang, Anita bahkan seluruh karyawan yang mendengarkan ucapan ibu Romlah dan Adam hanya bisa geleng-geleng, bahkan karyawan butik merekam semua kejadian dengan hape mereka masing-masing.
"Maaf Bu, Adam. Tadi ibu bilang kalau tanpa Adam saya bukan siapa-siapa? Bukannya kebalik ya Bu? Tanpa saya Adam itu bukan siapa-siapa, hanya karyawan kecil yang beruntung bisa jadi wakil direktur di perusahaan besar. Jika bukan karena saya apa bisa Adam mencapai kedudukan setinggi itu? Untuk perusahaan, itu memang milik papa saya tapi bukan berarti Adam berhak atas perusahaan itu, tanpa Adam perusahaan itu sudah berkembang dengan sangat pesatnya. Itu semua karena kerja keras dari papa saya dan orang-orang kepercayaan kakek. Jangan pernah menggunakan hafiz sebagai alasan apapun. Dan saya harap kalian jangan pernah lagi datang mencari atau mengganggu saya ataupun hafiz. Jika kalian masih meminta saya untuk memberikan perusahaan itu atas dasar hak Adam silahkan. Kita bertemu di pengadilan. Saya tunggu kalian di pengadilan." Jawab Mayang tegas. Dapat di lihat warna merah di raut wajah Adam dan ibu Romlah.
"Baiklah jika memang itu keputusan kamu May, kami akan menuntut kamu ke pengadilan. Kamu akan kalah nanti may" dengan emosi Adam menantang Mayang.
__ADS_1
"Silahkan. Saya menunggu surat dari pengadilan." Tantang Mayang.
Adam dan ibu Romlah memutuskan meninggalkan butik secepatnya karena tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. "Awas kamu mau, aku akan membuat kamu hancur" batin Adam.