
Setelah membantu Anita memasak di dapur dan kami berdua langsung mulai menghidangkan makanan di atas meja makan dan menatanya, lalu memanggil para sesepuh dan juga mas Melvin, hafiz serta bang Nico yang sedang duduk di halaman belakang rumah om rendi. Dan kamu pun mulai menyantap masakan yang sudah di buat oleh Anita yang juga di bantu bang Nico bersama-sama. Suasana kekeluargaan terasa kental sekali. Om dan Tante yang belum mendapatkan cucu dari Anita sangat menyayangi putra ku hafiz. Seusai menyantap makanan kami beristirahat sebentar karena sore hari nya kami harus kembali ke Jakarta.
Bisa saja kami menginap di rumah orang tua Anita, tapi hafiz besok harus sekolah. Baik aku dan mas Melvin tidak ingin hafiz ketinggalan pelajaran nya. Jadi kami memutuskan untuk pulang hari ini juga.
Sehabis magrib serta selesai makan malam kami memutuskan pulang ke Jakarta, mas Melvin mengantarkan kami terlebih dahulu sampai ke rumah aku dan hafiz. Mas Melvin dan calon ibu mertua ku tidak mampir terlebih dahulu karena sudah terlalu malam. Jadi mereka langsung pulang ketika mereka melihat aku dan hafiz menutup pintu pagar dan menguncinya.
Aku menjalani aktivitas seperti biasanya, membuat pesanan kue yang telah di pesan oleh langganan ku jauh hari dan membuat kue untuk di jual. Tak lupa pula aku mengabarkan kepada ibu Hani dan bu Siska untuk membantu ku mempersiapkan acara lamaran dan pertunangan yang akan di adakan dirumah ku. Mereka berdua sangat kaget dan senang mendengar bahwa aku akan menikah dengan mas Melvin. "Tuhkan benar. Kalau mas yang waktu itu suka sama mba Mayang. Mba Mayang kalau di bilangin sama kami enggak percaya sih." Ujar ibu Hani pada ku kala itu. Dan aku hanya tersenyum menanggapi nya.
Mas Melvin telah mengenal ibu Hani dan bu Siska, karena mas Melvin sering menjemput hafiz pulang sekolah saat waktu luangnya. Dan menyempatkan diri ke toko untuk membeli kue dari toko ku.
Om Rendy dan Tante Risma tiba di Jakarta hari Kamis nya yang nanti akan tinggal di rumah Anita dan bang rico. Calon ibu mertua ku telah menyewakan wedding organizer untuk acara lamaran serta pertunangan aku dan mas Melvin. Calon ibu mertua ingin membuat acara yang sangat meriah tapi aku dan mas Melvin sepakat untuk acara yang sederhana saja dulu. Dan calon ibu mertua ku pun setuju dengan usul kami. Akan tetapi calon ibu mertua meminta sama aku dan mas Melvin pada saat acara pernikahan di buat semewah mungkin. Mengingat bahwa keluarga calon ibu mertua ku yang lumayan besar memiliki banyak saudara dan rekan kerja bisnisnya tak lupa pula dari pihak mas Melvin yang juga memiliki teman serta sahabat-sahabatnya.
Baik Anita, Sofi dan mba Dian istri dari bang Ronald sangat membantuku menyiapkan baju lamaran serta riasan yang akan aku gunakan nanti. Mereka sangat heboh dan antusias membantuku.
"Akhirnya jandes menikah juga." Ujar Sofi heboh saat mengetahui aku akan menikah.
"Yeeeee biasa saja kali nek!!" Jawab ku yang kesel di bilang jandes alias janda ngenes.
__ADS_1
"Wkwkwkwkwk, nit bukan nya dulu Lo pernah comblang in Mayang sama Adik ipar Lo ya?" Tanya Sofi saat kami sedang berkumpul.
"Iya nek. Dulu nih anak nolak mentah-mentah waktu gue jodohin dia sama sih kulkas. Lalu sekarang malah menikah juga kan sama sih kulkas dingin." Jawab Anita bocor
"Wkwkwkwkwk iya juga ya nek. Mayang akhirnya kemakan sama omongannya sendiri. Dengan alasan mau fokus sama anak." sahut Sofi dengan ketawa kencang nya.
"Bener nek. Padahal niat gue kan baik biar dia ada pendamping hidup buat membesarkan hafiz sama-sama. Lalu sekarang tanpa gue jodohin malah ketemu dan mau nikah pula. Hahahahahah." Ungkap Anita sambil ketawa.
Aku hanya menundukkan kepala karena mengingat kejadian dulu aku yang menolak mentah-mentah di jodohkan sama Anita. Dan akhirnya aku malah aku sendiri yang akan menikah dengan adik iparnya.
"May, Lo udah hubunganin pihak keluarga bokap Lo?" Tanya Sofi
"Ya sudah lah may, biarin aja. Gue hanya aneh saja sama keluarga dari pihak bokap Lo?" Ujar nya. "Waktu bokap Lo meninggal mereka enggak ada. Nyokap Lo meninggal mereka juga ga ada. Heran aja gue." Ucapnya lagi.
"Iya Sofi, gue seperti terbuang dari keluarga bokap aja. Padahal saat bokap masih ada, bokap sedikit pun enggak pernah nyusahin mereka saat bokap menikah dengan nyokap." Ujar ku lirih mengingat kisah hidup kedua orang tua ku.
"Sudah... Sudah... Suatu saat nanti mereka akan sadar. Biarlah waktu yang menjawabnya." Ucap Anita saat melihat mata ku yang mulai mengembun.
__ADS_1
Cklek...
"Loh Mayang kok belum di coba sih baju nya?" Tanya mba Dian saat melihat aku yang belum mencoba baju yang telah di siapkan oleh ibu mertua ku buat acara lamaran besok.
"Iya mba maaf, tadi kami ngobrol keasikan jadi lupa kan buat suruh Mayang ganti baju nya.", Jawab Anita yang tidak enak dengan mba Dian.
"Di coba dulu dek bajunya. Biar kami tahu mana yang kurang pas." Ujar mba Dian.
" Iya mba." Jawab ku. Aku langsung mencoba baju yang sudah disiapkan oleh mba Dian. Aku membawa nya ke dalam kamar mandi. Dan memakai nya.
Setelah selesai memakai baju kebaya warna krem yang di hiasi manik-manik dengan sangat mewah dan anggun yang sangat pas di badan ku. Lalu Aku pun keluar dari kamar mandi.
" Ya Allah may, bagus banget. Cocok lagi di badan Lo." Ujar Sofi saat melihat ku keluar dari kamar mandi.
"Bener may, cocok banget sama Lo. Gue rasa besok pasti Melvin enggak akan bisa berkedip-kedip itu mata nya lihatin Lo" ujar Anita yang ngeledekin adik iparnya.
"Benar kata Anita dek, bagus banget. Pilihan mami bener-bener pas." Ucap mba Dian membenarkan ucapan Anita.
__ADS_1
Aku hany bisa tersenyum karena aku sudah tidak tahu lagi harus bicara apa. Ya Allah terima kasih engkau telah mengirimkan orang-orang yang sangat baik kepadaku. Dan ku harap ini akan menjadi pernikahan ku yang terakhir. Dan ku harap tidak akan ada yang akan mengganggu pernikahan aku dan mas Melvin. Serta tidak akan ada lagi novi-novi yang lain untuk merusak rumah tangga ku bersama mas Melvin.