
Setelah mendengarkan jawaban ku, paman Abraham dan bibi Jasmine memutuskan untuk pamit pulang. Karena paman ingin mengurus semua berkas-berkas perusahaan yang tadi nya atas nama papa menjadi milik ku. Yang selama ini di kelola oleh orang kepercayaan paman. Sedangkan paman sendiri memiliki perusahaan yang berbeda.
Aku baru mengetahui bahwa kakek memiliki banyak perusahaan di berbagai bidang. Dan itu semua sudah di wariskan kepada anak-anak nya. Yang nanti akan di wariskan kembali kepada cucu-cucunya.
Kakek memiliki tiga anak laki-laki. Papa merupakan anak kedua kakek. Kakak papa yang pertama bernama Lukman sedangkan papa bernama Zainal dan paman anak bontot bernama Abraham.
Untuk Uwak Lukman aku belum pernah bertemu sama sekali karena Uwak Lukman tinggal di luar daerah. Kata kakek uwak Lukman akan datang bersama keluarga nya ketika aku akan menikah nanti. Uwak Lukman memiliki dua anak yang usianya di atas ku. Sedangkan paman Abraham memiliki satu anak laki-laki yang saat ini sedang belajar di salah satu universitas ternama di Indonesia.
Aku tidak pernah menyangka bahwa papa Zainal memiliki pekerjaan yang sangat berbahaya. Aku hanya mengetahui kalau papa seorang tour guide. Sedangkan mama Victoria, aku baru mengetahui bahwa mama merupakan target sasaran dari orang yang berusaha untuk membunuhnya. Kakek dan nenek sama sekali tidak mengetahui siapa mama yang sebenarnya. Dan alasan kenapa mama menjadi target.
Papa membawa mama ke Indonesia untuk melindungi mama dari bahaya. Dengan memalsukan identitas mama. Tapi sayang nya keberadaan mama terendus oleh orang-orang kepercayaan yang disewa untuk membunuh mama. Sehingga mama dan papa memilih untuk memisahkan diri mereka dari keluarga papa. Demi melindungi keluarga papa.
Kedua orang tua ku terlalu misterius, serta menyimpan banyak rahasia. Karena terlalu banyak hal yang aku sendiri tidak mengetahui nya. Tidak mau pusing memikirkan tentang masa lalu papa dan mama aku memilih untuk mengistirahatkan tubuh ku. Karena aku masih harus membuka toko kue.
***
Keesokan hari nya, setelah hafiz berangkat sekolah aku di suruh oleh paman untuk datang ke perusahaan nya sedangkan Kakek dan nenek memilih ikut bersamaku untuk menemaniku. Aku meminta ibu Hani dan Bu Siska untuk menghandle toko kue, aku memberikan kepercayaan kepada mereka.
Kami berangkat menggunakan mobil pribadi ku, aku memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, biar bagaimanapun keselamatan kami ada di tangan ku.
Sesampainya di perusahaan paman, kakek membawa ku dan nenek langsung menuju ruang kerja paman menggunakan lift. Semua orang melihat ke arah ku karena aku berjalan di samping nenek, sedangkan kakek didepan kami.
Untung saja aku pernah bekerja di salah satu perusahaan besar dan menduduki jabatan yang cukup tinggi. Jadi tidak ada rasa gugup dan minder di dalam diriku.
Kakek membuka pintu ruangan paman, kami langsung masuk dan duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan paman. Paman telah menunggu kedatangan kami bersama notaris yang akan mengurus semua berkas-berkas kepemilikan perusahaan papa. Paman menyuruhku untuk menandatangani semua berkas-berkas yang telah disiapkan oleh pihak notaris.
Sesuai penandatanganan berkas-berkas, paman mengajak kami untuk makan siang bersama menggunakan mobil pribadiku, paman ikut bersama kami. Aku menjadi supir pribadi mereka, tidak mungkin paman aku suruh menyetir bisa-bisa aku di cap keponakan enggak ada sopan santunnya. *Hehehehe.
__ADS_1
Kami memilih untuk makan di restoran Padang, yang jarak nya tidak jauh dari kantor paman. Aku memakirkan mobil ku di pelataran parkir depan rumah makan. Lalu kami berjalan menuju salah satu meja makan yang tersedia. Pelayan mulai menghidangkan berbagai macam jenis makanan diatas meja kami. Dan kami pun mulai menyantap nya.
"May, paman mau kamu mulai bekerja di kantor besok apa kamu bisa may?" Ucap paman setelah kami selesai makan.
"Kasih Mayang waktu paman, karena Mayang masih harus memikirkan toko kue Mayang."
"Baiklah, kalau bisa secepatnya ya nak."
"Iya paman, secepatnya Mayang akan kabarin paman."
Sehabis makan, paman menuju kasir untuk membayar semua makanan yang telah kami makan. Setelah paman selesai membayar, aku memacu mobil ku kembali menuju kantor paman, paman menyuruhku untuk menurunkan nya di depan lobby. Kami tidak mampir karena aku takut hafiz dirumah sendirian walaupun ada Bu Hani dan Bu Siska, ku bunyi kan klakson untuk pamit dengan paman dan memacunya kembali menuju rumah.
Sesampainya di depan rumah kulihat pintu pagar telah terbuka, mobil aku parkiran di dalam garasi. Hafiz sedang menunggu ku bersama mas Melvin di teras rumah.
"Sudah lama mas?" Tanya ku. Hafiz mencium tangan ku, sedangkan mas Melvin mencium tangan kakek dan nenek.
"Sudah lumayan lama may."
"Iya kek. Melvin juga enggak lama disini. Harus balik lagi ke kantor." Ujar Melvin
"Baiklah kalau begitu kami masuk dulu ya Vin, nanti hati-hati kamu di jalan." Pesan kakek, lalu kakek dan nenek masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.
Aku duduk di salah satu bangku, kulihat hafiz sudah menyediakan minum buat papa sambung nya.
"Habis dari mana may?" Tanya mas Melvin
"Tadi may habis dari kantor paman Abraham, mas. Mayang di suruh paman buat mengelola perusahaan papa." Jawab ku jujur
__ADS_1
"Berarti kamu mulai bekerja di kantor may?"
"Iya mas, tapi Mayang masih butuh waktu. Karena Mayang masih ada tanggung jawab di toko kue".
"Kalau kamu butuh bantuan mas, kamu bilang aja sama mas?" Jawab mas Melvin.
"Iya mas nanti Mayang bilang ke mas kalau Mayang butuh bantuan dari mas. Mas udah makan siang belum? Mayang belum sempat masak. Kalau mau mas Mayang pesanin ya?" Tanya ku.
"Mas, udah makan kok may. Tadi sebelum pulang ke sini, mas sama hafiz sudah mampir dulu buat makan siang." Jawab mas Melvin
"Alhamdulillah makasih ya mas, tadi Mayang buru-buru soalnya sudah di tunggu sama paman Abraham. Mayang tadi nitip pesan sama wali kelasnya hafiz."
"Iya, tadi hafiz juga sudah bilang ke mas kok. Hmmmm may, mas balik dulu ya ke kantor. Nanti malam mas kesini boleh soalnya hafiz tadi minta tolong mas buat bantuin dia buat prakarya di sekolah nya." Tanya mas Melvin.
"Boleh lah mas, masa Mayang larang sih. Mas ada-ada saja."
"Ya udah kalau gitu mas pamit dulu ya. Nanti malam mas kesini lagi. Hmmm may, mas boleh minta sesuatu ga sama kamu?" Tanya mas Melvin ragu-ragu
"Minta apa mas?" Tanya ku heran
"Kamu mau ga panggil mas... Abang??" Tanya mas Melvin lagi sambil menggaruk tengkuknya yang kurasa tidak gatal.
"Maksudnya mas?"tanya ku dengan heran.
"Kamu panggil mas Abang aja. Jangan mas?"
"Loh kenapa??" Aku bener-bener heran.
__ADS_1
"Hmmmm kalau mas... Kamu kan panggil Adam dulu mas, jadi aku mau kamu panggil aku Abang". Ujarnya ragu-ragu
"Aku.... Aku..."