
Bunda Salamah, ayah Taufik dan juga Fika saat ini masih menikmati kue brownies kukus buatan Fika. Bunyi bel masuk disertai suara salam terdengar sampai ke belakang rumah. Fika melebarkan matanya dan mulai bangkit dari tempat duduknya.
"Itu pasti mas Fiko!" ucap Fika akhirnya. Betapa kedatangan dan kepulangan Fiko di rumah itu selalu sangat dinantikan oleh Fika. Apalagi Fika sangat sadar, jika dia posisi nya adalah istri kedua dari Fiko. Fika sangat mengerti jika Fiko tidak kembali ke rumahnya itu artinya Fiko kembali pulang ke rumah istri pertamanya yaitu mbak Mariana.
Fika membuka pintu rumahnya dengan hati yang bahagia. Fika yakin kalau di depan itu adalah Fiko, suaminya telah tiba.
Pak Taufik dan juga Bu Salamah saling tatap. Mereka mulai memahami berapa putrinya benar-benar sangat mencintai Fiko, suaminya.
"Apakah menjadi istri yang kedua itu akan membuat anak kita bahagia yah Bu? Aku menjadi kasihan dengan Fika jika Fiko tidak kembali ke rumah ini. Pasti Fika sangat kesepian dan terpikirkan. Apakah berbagi cinta itu akan membuat seseorang bahagia?" ucap Pak Taufik sambil menghisap barang rokoknya.
__ADS_1
"Entahlah pak! Semua sudah menjadi pilihan hidup putri kita, Fika! Kita berdoa saja untuk kebahagiaan putri kita. Semoga bisa menjalani kehidupan ini dan bahagia dengan pilihan nya," sahut Bu Salamah. Pak Taufik menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Sementara Fika telah membuka pintu utama rumahnya. Senyuman nya mengembang saat Fika melihat Fiko, suaminya ada di depan nya.
"Mas!" ucap Fika dengan sorot mata yang bersinar. Fiko tidak kalah berseri-seri wajahnya. Fiko kini merentangkan kedua tangannya seolah menginginkan Fika menghambur kedalam pelukan nya.
"Peluk dong! Tidak kangen yah, sama suami kamu yang ganteng ini?" ucap Fiko dengan tersenyum lebar. Kedua tangannya masih membentang lebar dan siap mendekap istri keduanya. Fika tanpa malu memeluk pinggang Fiko. Demikian juga halnya Fiko mendekap istrinya dengan erat.
"Hai, kenapa jadi menangis sih? Kok jadi cengeng banget istri aku! Baru juga dua hari aku tidak pulang ke rumah ini," ucap Fiko. Kini air mata Fika malah jatuh di pipi. Fiko mengusap air mata itu. Fiko tersenyum simpul.
__ADS_1
"Ayo masuk dulu! Masak sedari tadi suami kamu tidak kamu suruh masuk ke dalam rumah sih?" protes Fiko.
"Biarin! Kamu jahat! Masak ponsel kamu matikan sih, mas! Aku jadi tidak bisa menghubungi kamu dan memastikan kamu sudah makan atau belum," protes Fika lagi.
"Maaf, keadaan darurat! Di rumah Mariana ada mertua aku. Kamu tahu sendiri kan, kalau mertuaku belum mengetahui kalau aku sudah menikah lagi. Hanya papa mama ku saja yang sudah mengetahui nya. Maaf yah, sayang!" ucap Fiko kini mulai mengusap kepala istrinya dengan lembut. Kini keduanya duduk di kursi sofa panjang.
"Mas, ada bunda dan ayah di belakang!" ucap Fika memberitahu.
"Loh, benarkah? Ya elah, kenapa kamu tidak memberitahu aku. Ayo kita datangi dulu, aku harus sungkem dengan bunda dan ayah mertua ku yang super sabar. Karena telah mengijinkan aku menikahi kamu," ucap Fiko seraya menggandeng tangan Fika yang manja.
__ADS_1
"Setelah bertemu dengan ayah dan bunda mertua, kita tuntaskan kangen kita di dalam peraduan kita yah, sayang," bisik Fiko dengan nakalnya. Fika tersenyum dan lalu menjulurkan lidahnya ke arah Suaminya.