
Saat malam semakin larut dan Fika sudah tertidur pulas, ponsel milik Fika berbunyi. Sedangkan Fiko kembali sibuk di layar laptopnya setelah melihat istrinya terlelap. Fiko kini menyambar ponsel Fika yang sejak dari tadi berbunyi. Baik pesan chat maupun panggilan masuk. Karena sangat penasaran, akhirnya Fiko menekan tombol hijau di panggilan masuk itu.
📱📲 "Halo, sayang! Kok lama sekali mengangkat telepon aku sih?" ucap seseorang di seberang sana. Fiko tentu saja sangat terkejut dibuatnya.
📱📲 "Halo, ini siapa?" sahut Fiko menjawab telepon itu. Tidak lama panggilan masuk itu diputus oleh seseorang di seberang sana. Fiko tentu saja menjadi berpikir, siapa yang baru saja menelpon Fika. Di ponsel Fika hanya tertulis nama Lukit saja.
"Lukit? Siapa sih Lukit itu? Kok dia manggil Fika pakai sayang-sayang segala," gumam Fiko. Kini Fiko mulai menutup laptopnya dan bergegas naik ke atas ranjangnya. Kini Fiko mendekati Fika, istrinya dan membenarkan selimut nya. Kini tangan Fiko mengusap lembut puncak kepala istrinya tersebut.
__ADS_1
"Aku lah orang yang tidak akan mudah percaya, jika mendengar kabar kalau kamu wanita yang tidak setia atau telah mengkhianati aku. Seperti tadi, lelucon murahan dari mana lagi, untuk menciptakan huru hara pernikahan aku dengan Fika," pikir Fiko. Fiko kembali mengusap lembut puncak kepala Fika istrinya dengan lembut dan kini mengusap pipi Fika dengan penuh kasih sayang. Saat Fiko mencium pipi istrinya, Fika membuka matanya.
"Mas, kamu belum tidur?" tanya Fika. Fiko tersenyum menatap istrinya yang terbangun dari tidurnya.
"Ini mau berangkat bobok! Tapi sepertinya masih ada yang kurang malam ini supaya aku bisa berangkat bobok dengan lelap," kata Fika seraya mencium pipi Fika.
Tanpa basa-basi kini Fiko mulai mengecup kening Fika lalu pamit di bagian perut Fika.
__ADS_1
"Adik, maafkan ayah yah, sayang! Ayah akan lebih sering menjenguk kamu. Dan sekarang ayah akan mendatangi kamu, memastikan kalau keadaan kamu, baik-baik saja," ucap Fiko seraya mengecup perut Fika setelah menyingkapkan bagian baju atasnya ke atas hingga sedikit terbuka dan terlihat perut nya.
Tentu saja Fika yang mendengarkan ucapan Fiko menjadi cekikikan dan tertawa. Namun tertawa itu akhirnya terhenti saat bibir itu dibungkam dengan ciuman Fiko yang liar dan ganas. Fika akhirnya membalas setiap serangan-serangan Fiko yang membuat darah Fika menjadi memanas. Apalagi dengan mahir dan mumpuni nya Fiko melakukan nya hingga Fika menyuarakan irama sumbang dari mulutnya.
"Adik bayi di dalam perut aku, pasti akan mengira jika ada gempa yang maha dasyat yang terjadi di sini. Goncangan kamu, membangunkan adik bayi kita, sayang!" ucap Fika seraya meringis menahan sesuatu yang membuatnya merinding dan ingin membalas setiap serangan-serangan yang dilakukan oleh Fiko. Fiko tersenyum saja namun pada akhirnya berucap.
"Jangan khawatir, sayang! Aku tidak akan menyakiti kamu dan juga anak kita. Aku hanya menyirami sedikit saja supaya anak kita semakin kuat di dalam sana," sahut Fiko. Fika malah terkekeh mendengar ucapan absurd dari suaminya itu.
__ADS_1
Selebihnya suami istri itu hanya saling menikmati dalam segala peluh dan suara yang saling bersahutan. Suara yang menyuarakan kenikmatan dunia yang pantas dilakukan bagi hubungan yang halal.