
Air mata itu masih tetap saja mengalir. Fiko dengan lembut mengusapnya pelan. Pelukan Fiko semakin membuat air mata Fika keluar seperti air terjun. Kerinduan dan kemarahan menjadi satu dalam hati Fika.
" Cukup dong! Aku di sini sekarang!" ucap Fiko yang memegang lengan Fika.
" Pulanglah Mas!" ucap Fika pelan.
" Kenapa? Aku masih ingin menemani kamu!" sahut Fiko.
" Kedatangan kamu semakin membuat hatiku sedih!" ucap Fika.
" Kamu jangan egois Fika! Aku juga masih rindu dengan kamu! Sudah lima tahun kita tidak pernah berjumpa, kini aku bisa menemukan kamu. Kamu ingin aku pergi dari kamu lagi?" ucap Fiko sambil merapatkan wajahnya ke wajah Fika hingga kedua hidung mereka saling bersentuhan.
" Tapi untuk apa? Kita berjumpa pun tidak akan pernah bersatu lagi." ucap Fika dengan suara bergetar.
" Aku ingin kamu Fika!" ujar Fiko.
" Tapi kamu sudah punya istri! Kamu sudah bahagia dengan keluarga kecil mu mas!" ucap Fika.
" Aku masih mencintaimu Fika!" sahut Fiko.
" Lalu apa yang kamu inginkan dari aku? Kamu ingin apa?" tanya Fika mencoba menatap bola mata Fiko.
Fiko hanya diam dan memilih memainkan bibir seksi milik Fika. Fika menatap wajah Fiko yang seperti haus ingin melampiaskan kerinduan nya. Jari - jari lentik Fiko mulai bermain - main di wajah ayu ibu dosen muda itu. Mulai turun ke leher Fika yang berjenjang. Mulai meraba bagian-bagian tubuh Fika.
" Kamu hanya ingin ini Mas?" ucap Fika pelan.
Fiko tidak perduli dengan ucapan Fika. Dengan semangat Fiko mulai menyerobot bibir mungil Fika. Fika hanya diam tanpa reaksi dengan ciuman yang mendarat itu. Air matanya masih saja deras mengalir. Fika sangat rapuh. Terlalu sakit apalagi Fiko hadir dengan sosok yang berbeda tidak seperti yang ia kenal dahulu. Fiko hanya ingin melampiaskan hasrat kepada dirinya.
" Aku menginginkan kamu Fika!" bisik Fiko yang jari - jari lentiknya kembali membuat pergerakan supaya Fika memenuhi segala keinginan nya.
" Fiko!? Aku seorang guru Fiko! Aku seorang pengajar!!" ucap Fika lirih dengan mata mulai redup karena dua jari Fiko yang memainkan gua berbukit miliknya.
" Hah??? Fika! Aku hanya ingin kamu!" ucap Fiko mulai merenggangkan kedua kaki Fika.
Fika akhirnya pasrah. Fiko sudah tidak mau mendengar ucapan nya. Dia hanya ingin dirinya terpuaskan. Fika kembali mengingatkan Fiko.
" Fiko! Aku seorang guru Fiko!! Fiko!!" teriak Fika.
Teriakkan Fika membuat Fiko tersadar. Betapa malunya Fiko atas apa yang telah ia perbuat terhadap Fika yang ia sayangi.
Fiko menarik nafas dalam-dalam. Berusaha menahan segala gejolak yang ada dalam dirinya.
" Fika! Menikah lah dengan aku Fika!" ucap Fiko memohon.
" Hahahaha!" Fika hanya tertawa penuh kegetiran.
__ADS_1
" Kenapa kata - kata itu tidak kamu ucapkan ketika itu mas?" tanya Fika.
" Maaf Fika!! Yang lalu biarlah berlalu. Kini aku sudah menemukan kamu. Jadi menikah lah dengan aku Fika!" ucap Fiko.
" Lalu istri kamu?" tanya Fika sambil tersenyum getir.
" Jadilah istri yang ke dua ku Fika!" jawab Fika.
Plaaaakk!!!!!!
Fika dengan cepat tangannya menampar wajah Fiko dengan keras.
" Fika!!!" ucap Fiko pelan.
Tamparan Fika membuat Fiko terkejut dan tersadar. Betapa dirinya selalu menyakiti hati gadis di hadapannya itu.
Fika mulai membenci laki - laki di hadapan nya. Bagi dirinya, Fiko sudah banyak berubah. Mungkin saja, Fiko sekarang sudah memiliki segalanya. Punya harta melimpah dan segala yang ia mau pasti bisa ia dapatkan.
" Aku akan kamu hargai berapa Fiko? Jika aku menjadi istri ke dua kamu?" ucap Fika yang membuat Fiko terkejut.
" Apa saja yang kamu inginkan, pasti aku penuhi. Segalanya!" jawab Fiko.
" Kamu sama saja dengan mama kamu. Yang menawarkan beberapa tumpukan uang kertas, supaya aku mau meninggalkan dirimu." cerita Fika kembali membuat terkejut Fiko.
" Hah??" ucap Fiko.
" Baiklah! Besok aku datang kemari lagi Fika! Tawaran aku masih tetap sama. Menikahlah dengan aku, agar kita bisa bersama lagi Fika!" ucap Fiko sambil meraih tubuh Fika dan nekat mengecup dahinya.
@@@
Fiko sudah ada di dalam rumah Fika. Fiko menjemput Fika untuk diajak jalan. Bukanlah hal yang tidak bisa di tolak oleh Fika ketika berjumpa dengan Fiko. Hati kecilnya masih mencintai dan tidak bisa menepis sosok Fiko yang kini telah masuk kembali dalam kehidupan nya.
Fika sudah siap dengan penampilan seperti anak remaja yang masih berkepala dua. Rambut panjang Fika dibiarkan terurai tanpa diikat. Kulit putih dan bersihnya terlihat bercahaya karena aura keperawanannya masih terjaga sampai saat ini. Bukan berarti selama tidak menjalin hubungan dengan Fiko, Fika tidak pernah berpacaran. Namun, pola pikir yang harus menjaga kesucian sebelum halal dalam ikatan pernikahan selalu ditekankan dalam pikiran Fika. Memang pertemuan dengan Fiko setelah sekian lama tidak berjumpa itu nyaris terkoyak pertahanan nya. Untung saja, segalanya masih terlindungi dan dilindungi. Walaupun ketika bertemu dengan Fiko, selalu nyerempet ke hal- hal yang bikin gelora jiwa tidak bisa menahannya.
Fiko tidak berhenti menatap wajah cantik Fika dengan body yang masih sangat seksi itu. Tinggi yang ideal untuk seorang wanita dan ramping berisi. Mata Fiko tidak berkedip menatap Fika.
" Hai!" teriak Fika yang bikin kaget Fiko.
" Eh iya! Kamu sudah siap sayang?" kata Fiko sambil mendekati Fika.
" Sudah!" jawab Fika.
" Kamu cantik sekali, sayang!" ucap Fiko sambil membelai rambut panjang milik Fika. Diangkatnya dagu milik Fika dengan lembut lalu didekatkan lah ke arahnya. Secepatnya Fiko tidak ingin membuang kesempatan itu. Kembali Fiko mengecup dengan lembut bibir Fika dengan merah lipstik nya.
Fika kembali dibuat terkejut jantungnya. Detak jantung nya kembali tidak menentu. Suaranya menyuarakan irama yang penuh genderang. Jantung nya serasa ingin lepas di dadanya.
__ADS_1
" Kamu kenapa selalu menciumi aku ketika bertemu seperti ini, Fiko?" tanya Fika sambil berusaha menjaga jarak supaya tidak terlalu dekat dengan Fiko.
" Karena aku tidak bisa menahan diri jika sudah berada dekat dengan kamu, sayang!" jawab Fiko dengan senyumnya.
" Baiklah! Ayo, katanya mau pergi!" ajak Fika akhirnya.
" Ayo!" sahut Fiko sambil berusaha menggandeng tangan milik Fika.
"Kita mau kemana sih, Fiko?" tanya Fika dengan mengkerut kan dahinya.
" Aku akan menikahi kamu, sayang!" jawab Fiko asal.
" Kamu jangan main-main, Fiko! Kita tidak bisa menikah tanpa restu ayah dan ibu aku. Dan ayah aku bakalan tidak akan setuju jika menikah dengan seorang pria yang sudah beristri." kata Fika serius.
" Haaa haaa haha." Fiko malah tertawa terbahak-bahak.
" Kamu malah tertawa, Fiko! Aku serius." kata Fiko dengan cemberut.
" Jadi, secara tidak langsung kamu menginginkan aku menjadi duda terlebih dahulu baru bisa menikahi kamu, sayang?" tanya Fiko asal.
" Eh tidak! Tidak! Tidak seperti itu maksud aku. Aku.. aku..." sahut Fika yang tidak melanjutkan kalimat nya.
" Apapun yang terjadi, aku akan menikahi kamu, secepatnya!" ucap Fiko dengan serius.
" Fiko! Aku tidak ingin melukai dan membuat sakit hati istri kamu. Dengan kita menjalin Hubungan seperti ini pun aku sangat merasa bersalah, Fiko." kata Fika serius.
" Kalau begitu, aku akan mengenalkan kamu ke istri aku di rumah." kata Fiko.
" Apa? Untuk apa?" sahut Fika sambil mengerutkan dahinya.
" Kita minta ijin kepadanya, untuk menikah." jawab Fiko serius.
" Ah? Apa? Tidak! Tidak! Tidak! Kamu jangan konyol Fiko! Aku tidak ingin ada yang tersakiti oleh hubungan ini." sahut Fika.
" Kalau untuk menjauhi kamu, itu bagiku sudah tidak mungkin. Aku sudah menemukan kamu kembali. Makanya jalan satu- satunya adalah kita harus menikah. Dan kita harus berani menghadapi. Menghadapi kedua orang tua aku dan kedua orang tua kamu, sayang." ucap Fiko serius.
" Lalu istri kamu?" tanya Fiko.
" Aku akan minta ijin kepadanya." jawab Fiko serius.
" Jika dia tidak mengijinkan?" tanya Fika kembali.
" Aku akan membuat dua pilihan untuk nya. Mengijinkan aku menikah kembali atau cerai." jawab Fiko serius.
" Apa? Kamu ini sungguh konyol, Fiko!" sahut Fika dengan cemberut.
__ADS_1
" Aku serius Fika. Dan sangat serius." kata Fiko sambil membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Fika untuk masuk ke dalam mobilnya.