
Fika tiba di rumah nya. Di rumahnya masih ada ayah dan bundanya. Rencananya besok pagi mereka akan kembali ke Kampung halaman tempat tinggalnya selama ini. Pak Taufik dan bu Salamah sore ini sedang duduk di teras sambil menikmati teh panas dengan ditemani kue kering di atas meja. Sedangkan Fika ikut duduk juga di teras itu sambil bermain dengan ponselnya.
Fiko juga belum tiba di sore itu. Sedangkan Fika terlihat cemberut menantikan kedatangan Fiko sore itu. Tadi Fiko bilang dengan Fika kalau dirinya akan pulang lebih awal dan cepat dari biasanya. Fiko ingin mengajak makan malam bersama di suatu tempat yang romantis. Sehingga Fika terlihat cemberut menanti kedatangan suaminya itu di teras depan rumahnya. Ayah dan ibu Fika melihat raut masam dari Fika.
Namun tiba-tiba ada seorang kurir berhenti di depan pagar rumah itu. Satpam rumah Fika segera mendekati kurir itu dan menerima barang atau sesuatu yang dibawa oleh kurir tersebut.
"Kamu memesan sesuatu yah, nak?" tanya bunda Salamah kepada Fika saat melihat satpam rumahnya telah membawa buket bunga mawar putih yang indah dan juga tas paper bag yang seperti nya berisi makanan di dalamnya.
"Tidak kok bun! Pasti Fiko yang kasih kejutan ini kepada ku," sahut Fika depan senyum nya yang sumringah.
"Non Fika, ini tadi kurir membawakan buket dan juga paper bag yang berisikan makanan siap saji. Katanya untuk non Fika, buket bunga mawar putih nya dan juga paket makanan nya," kata satpam rumah itu seraya menyerahkan kedua benda kiriman dari seseorang tersebut kepada nona mudanya. Fika mengerutkan dahinya. Kini Fika melihat ayah dan juga ibundanya secara bergantian.
"Dari siapa pengirimannya?" tanya Fika kepada satpam rumahnya.
"Kurir itu bilang, dari teman ibu Fika," jawab satpam rumahnya.
"Oh, aku pikir Fiko yang mengirimkan ini semua untuk ku," gumam Fika lalu menerimanya. Satpam rumahnya segera kembali bertugas di pos jaga rumah itu.
Fika mengeluarkan kotak makanan di dalam paper bag itu. Satu kotak makanan itu Fika buka dan ternyata iga bakar kesukaan dirinya.
"Bau nya sih bikin ngiler mau makan," kata Fika.
"Ya sudah, dimakan saja! Itu namanya rejeki kamu karena kamu saat ini sedang hamil. Rejeki anak soleh," sahut ayah Fika.
__ADS_1
"Hanya saja, siapa yang mengirimkan makanan beserta bunga mawar ini, yah! Kalau bukan mas Fiko, teman ku yang mana? Masak tidak kasih sebut mamanya segala," ucap Fika.
"Mungkin saja, penggemar rahasia kamu, nak!" sahut bunda Salamah. Fika dan juga pak Taufik akhirnya saling pandang.
"Penggemar berat?" gumam Fika. Ayah dan bunda Salamah terkekeh kalau mengingat soal fans berat.
"Fans berat aku itu adalah Fiko, ayah, bunda! Ya sudah aku makan di sini saja boleh kan?" kata Fika akhirnya tanpa babibu langsung memakan kotak makanan itu yang isinya adalah nasi dengan lauk iga bakar. Namun sebelumnya Fika mencuci tangannya di kran di dekat nya. Fika segera menikmati daging iga bakar yang lembut itu. Dengan lahapnya sampai lupa menawari ayah bundanya.
"Enak banget sambelnya! Eh, lupa sampai tidak nawari ayah dan bunda! Ini masih ada tiga kotak lagi! Bunda, ayah ayo kita makan di sini saja," kata Fika sambil menikmati makanan nya.
"Sudahlah, kamu nikmati saja makan sore ini. Ayah dan Bunda nanti saja setelah sholat magrib makannya sambil menunggu nak Fiko, suami kamu," kata ayah Taufik.
"Nanti habis magrib, aku makan lagi!" sahut Fika. Bu Salamah dan Pak Taufik tersenyum melihat putrinya yang saat ini sedang hamil itu menjadi berselera makannya.
"Loh, kok semuanya duduk di sini? Fika kamu kok makan di sini sih sayang!" ucap Fiko seraya mengulurkan tangannya lalu Fika menyambut tangannya dan di salami suaminya. Tangan Fiko dicium punggung nya namun sebelumnya Fika telah kembali mencuci tangannya di air kran dekat teras itu.
"Ayah dan bunda suka duduk di teras rumah. Lalu aku ikut gabung di sini. Ternyata sore begini sangat enak kalau duduk di depan seperti ini. Sambil menunggu kedatangan suami tercinta," kata Fika.
"Oh begitu? Tapi kok harus makan di sini toh sayang! Lalu ini buket bunga mawar putih dari siapa sayang?" kata Fiko kepada Fika.Fika mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu pasti nya.
"Tadi katanya untuk aku, mas! Dari teman aku. Namun pengirimnya tidak mengatakan siapa namanya. Aku pikir ini semua dari kamu, sayang! Soalnya makanan ini pun kesukaan aku. Yang tahu aku suka makanan ini hanya kamu kan, sayang!" kata Fika. Fiko mengerutkan dahinya.
"Waduh, sepertinya mulai sekarang aku harus waspada! Ada penggemar rahasia dari istriku," sahut Fiko. Fika menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Eh?? Apakah mas Fiko cemburu?" kata Fika menggoda.
"Tidak! Ayo kita masuk dulu! Bunda ayah, kami masuk dulu yah!" pamit Fiko seraya menggandeng istrinya masuk ke dalam rumah.
Fika dan Fiko masuk ke kamar utama mereka.
"Hem, aku pikir yang kasih bunga tadi kamu, mas!" kata Fika sambil membuka kancing kemeja Fika yang dipakainya. Satu persatu Fika lepaskan dan berhasil kemeja itu Fika lepas dari badan Fiko. Fiko mengecup lembut dahi Fika.
"Kamu pakai kaos oblong ini saja yah, sayang!" ucap Fiko lalu mengambilkan kaos oblong biru laut kepada Fiko. Fiko segera memakainya. Kini Fiko menatap kembali bola mata istrinya.
"Kira-kira siapa yang kasih kamu bunga, sayang! Aku rasa dia pasti seorang pria yang memujamu. Tidak mungkin kalau teman kamu seorang wanita," ucap Fiko kini mulai menebak.
"Apakah ini artinya kamu menjadi cemburu dengan semua ini, mas?" sahut Fika lalu merangkul kan kedua tangannya di leher Fiko.
"Tentu saja, sayang! Mana mungkin kalau aku tidak menjadi cemburu?" sahut Fiko kini pelan-pelan mengecup lembut bibir Fika.
"Tadi katanya kamu tidak cemburu?" sahut Fika dengan tersenyum seringai.
"Ada ayah bunda! Masak aku bilang cemburu di depan mereka! Malu dong!" kata Fiko lalu dengan beringas mulai meraup bibir kecil milik Fika.
"Ayo, kita mandi bersama!" bisik Fiko seraya menggendong dengan cepat tubuh istri nya masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar utama mereka. Tidak ada penolakan dari Fika karena di saat hamil muda ini Fika suka dan benar-benar menikmati permainan hangat dari Fiko.
Suara gemericik shower kini mulai beradu dengan suara kedua lawan jenis itu di sana. Surga dunia yang selalu membuat orang ketagihan untuk melakukannya baik pagi, siang, sore atau malam. Selalu ada kesempatan untuk melakukannya ketika waktu ada. Ini menjadi ladang ibadah bagi pasangan suami istri yang halal dalam ikatan yang sah.
__ADS_1