ISTRI YANG KE DUA

ISTRI YANG KE DUA
Bab 7


__ADS_3

Fiko menghentikan mobilnya tiba-tiba yang membuat Fika terbangun dari tidurnya. Iya, Fika sempat tertidur didalam mobil Fiko itu dan Fiko membiarkan nya. Hanya saja karena kejailan Fiko itu, dia abadikan nya dalam bentuk foto. Fiko mengabadikan pose Fika ketika sedang tidur di dalam mobilnya. Bagi Fiko, wajah Fika begitu imut dan natural ketika sedang tidur itu.


"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Fika kepada Fiko.


Mobil Fiko masih di depan gerbang rumah berpagar besi yang tinggi. Rumah yang cukup besar, megah, mewah dengan pos penjaga di depannya. Halaman yang luas, taman yang indah, rumah kayu untuk bersantai di sana, parkiran mobil yang luas terlihat di bangunan itu.


" Kita parkir disini saja yah! Ayo kita masuk ke dalam." kata Fiko sambil keluar dari mobilnya.


Untuk beberapa saat, Fika masih diam di dalam mobilnya. Masih terpaku rumah yang halamannya luas bisa dipakai untuk bermain bola. Rumah seperti lapangan sepak bola, halaman itu terlihat sepi. Namun cahaya- cahaya lampu untuk penerangan nya ada di mana-mana. Pemilik rumah itu tidak cukup berhemat dengan lampu yang ada di mana-mana. Setiap sudut halaman dan taman ada lampu. Hal itu tidak menjadikan rumah itu seram karena sepi.


" Ayo keluar!" ajak Fiko sambil membuka pintu samping mobil itu yang Fika masih duduk di sana.


" Ini rumah siapa?" tanya Fika kepada Fiko.


" Rumah aku!" jawab Fiko sambil menarik tangan Fika.


" Kamu benar-benar ingin mengajak aku masuk ke dalam?" tanya Fika.


" Iyalah! Ayolah!" sahut Fiko.


Mereka berdua mulai menuju gerbang utama rumah itu. Satpam rumah itu yang mengenal Fiko langsung menunduk hormat dan membukakan pintu kecil di gerbang itu.


" Mobil tidak dimasukkan, tuan muda?" tanya satpam itu.


" Tidak perlu! Nanti aku akan pergi lagi kok. Aku tidak lama disini." kata Fiko sambil masuk ke pekarangan rumah itu dan diikuti oleh Fika.


" Kita duduk disini dulu." ajak Fiko yang berhenti di balai bengong atau rumah panggung yang dibuat untuk duduk bersantai di taman itu. Fika mengikuti perintah Fiko tanpa banyak protes. Sementara Fiko menghubungi seseorang melalui telepon genggamnya. Dari ucapan yang keluar dari mulut Fiko, dia menyuruh asisten rumah tangganya untuk membuatkan dua minuman segar. Dan untuk yang kedua kalinya Fiko menghubungi istrinya yang menyebutnya dengan panggilan Mariana. Dalam perintah nya, Fiko menyuruh Mariana datang ke taman dimana dirinya dan Fika sedang duduk di sana.


Selang beberapa lama, asisten rumah tangga datang membawa dua gelas minuman segar dan makanan ringan. Setelahnya asisten itu pergi setelah permisi kepada tuan mudanya. Ada sorot penasaran dari mata asisten rumah tangga itu karena dia seorang wanita. Wanita itu memang suka ingin tahu dan penasaran akan urusan orang. Padahal bukanlah menjadi urusannya. Pada akhir nya akan dijadikan bahan bergosip ketika sedang memasak dengan asisten rumah tangga yang lainnya.

__ADS_1


" Fiko! Apakah kamu akan benar-benar mempertemukan aku dengan istri kamu itu. Dan kamu..." ucap Fika yang pada akhirnya tidak dilanjutkan.


" Tentu saja, aku tidak akan bermain- main dengan segala rencana dan ucapan yang sudah aku ucapkan. Dan aku sangat serius kalau sudah berhubungan dengan kamu. Aku sudah tidak ingin kehilangan kamu lagi. Cukup dulu saja, aku kehilangan kamu karena aku harus menikah dengan Mariana.


" Fiko! Tapi.. tapi akan membuat istri kamu terluka dan sakit hati" sahut Fika.


" Aku sudah sakit sedari dulu karena selalu di dikte untuk melangkah dan mengambil segala keputusan oleh papa dan mama aku. Saat nya aku boleh bertindak menurut kemauan aku. Dan mereka harus ikut dan mendengarkan semua keputusan aku." kata Fiko sambil melihat ke pintu utama rumah mewahnya. Iya, Fiko menanti Mariana untuk datang menemui dirinya dan juga Fika di tempat itu.


@@@


Mariana sudah duduk bersama Fika dan Fiko di balai kayu berbentuk panggung itu. Mariana masih diam tidak banyak bicara. Menunggu Fiko untuk berbicara. Sedangkan Fika sungguh tidak merasa enak hati diposisi nya. Dirinya adalah seorang wanita sama halnya seperti Mariana. Fika menarik nafasnya dengan kasar, menanti Fiko menyampaikan hal gila kepada Mariana mengenai rencananya hendak menikahi dirinya. Sungguh ini posisi yang tidak enak di dalam hati kecil Fika.


" Mariana! Ini Fika! Bukankah aku sudah pernah bercerita kepadamu ketika itu. Bahwasanya aku dulu menyukai seseorang di masa remajaku dan berlangsung sampai bertahun-tahun lamanya. Namun karena perjodohan kita dan juga aku pun juga kehilangan kontak dengan Fika akhirnya aku dan Fika benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungi itu lagi." kata Fiko kembali mengingatkan akan cerita dulu kepada Mariana.


Mariana masih diam, menyimak Fiko yang hendak berbicara panjang lebar.


" Aku datang bersama Fika selain mengenalkan kamu dengan Fika, aku juga akan berniat untuk menikah dengan Fika." ucap Fiko.


" Keputusan ini mutlak adanya, dan kamu jangan sekali- kali meminta cerai dari aku. Karena bagi aku kamu dan Fika sama- sama penting bagi hidup aku. Kamu yang sudah memberikan aku anak dan kamu adalah istri yang penurut dan macam- macam." kata Fiko.


" Kalau aku nekat ingin bercerai?" tanya Mariana memberanikan dirinya sambil menatap ke Fiko.


" Bukankah aku sudah mengatakan, kamu jangan minta cerai kepadaku. Dan kamu jangan pernah bertanya kepadaku aku harus memilih siapa diantara kamu dengan Fika. Kamu berdua sama- sama berharganya bagi aku. Aku tidak akan memilih satu diantara kalian. Dan aku tetap tidak mau meninggalkan Fika karena Fika adalah cintaku dulu dan sudah sekian lama aku berusaha mencarinya." ucap Fiko yang tidak mau dibantah oleh Mariana.


Fika semakin tidak enak dengan keputusan sepihak dari Fiko. Sebagai seorang wanita, sebenarnya tidak ingin dan menyetujui jika suaminya hendak menikah kembali. Berbagi suami itu akan menguras emosi dan pikiran. Karena pada dasarnya ego wanita lebih tinggi, dia ingin seutuhnya memiliki, tidak mau berbagi seperti ini.


" Fiko!" panggil pelan Fika.


" Fiko! Aku tidak mau menikah dengan kamu!" kata Fika pelan. Hal itu membuat mata Fiko melotot bak kelereng.

__ADS_1


" Kamu jangan takut Fika! Mariana akan menyetujui dan mengijinkan kita menikah. Bukankah begitu Mardiana?" desak Fiko.


" Baiklah! Tapi aku tidak mau serumah dengan madu aku!" ucap Mariana.


" Tentu saja! Apakah aku miskin? Kalau untuk membelikan rumah untuk kalian berdua masih sanggup, aku. Aku akan berusaha adil kepada kalian. Aku tidak akan melupakan anak- anak." kata Fiko serius.


Fika tidak bisa berucap. Hati kecilnya sebenarnya tidak menyukai poligami seperti ini. Namun perasaan cintanya terhadap Fiko masih belum bisa ditepikan. Sungguh ini menjadi dilema bagi Fika.


" Mbak Mariana!" panggil pelan Fika yang masih sangat ragu- ragu untuk menikah dimana Fiko.


" Jangan khawatir, Fika! Aku baik- baik saja! Kamu menikahlah dengan suami aku. Aku yakin, kamu akan lebih bisa membahagiakan suami aku dibandingkan aku." ucap Mariana pasrah.


" Oke! Menikahlah dengan Fika! Namun aku minta 50% saham dari PT Fika grup." kata Mariana.


" PT Fika Grup?" gumam Fika namun di dengar oleh Mariana dan Fiko.


" Benar! Bahkan nama kamu sudah menjadi nama anak perusahaan milik suami aku. Kamu sungguh berharga dan sangat berharga bagi hidup suami aku. Suami aku sungguh benar-benar mencintai kamu, Fika." ucap Mariana.


" Jadi aku mohon! Kamu jangan pernah mengecewakan suami aku dan juga aku. Aku yakin kamu akan lebih bijaksana karena kamu menjadi orang kedua setelah aku." ujar Mariana.


Fika sesaat terdiam. Apakah sebesar itu Fiko mencintai dirinya hingga nama perusahaan nya memakai namanya.


Fiko tersenyum melihat Fika.


" Soal nama perusahaan itu, maaf aku tidak pernah bercerita kepadamu, sayang." sahut Fiko terhadap Fika.


" Jadi, bagaimana mas? Apakah kamu setuju dengan syarat aku?" tanya Mariana.


" Aku menyetujui nya! Namun aku tidak bisa kasih itu ke kamu Mariana! Aku akan mengatasnamakan anak kita. Itu akan lebih adil dan bijaksana." ucap Fiko.

__ADS_1


" Baiklah!" sahut Mariana.


"


__ADS_2