ISTRI YANG KE DUA

ISTRI YANG KE DUA
Bab 22


__ADS_3

Setelah selesai memberikan materi kuliah Fika segera kembali ke ruangan nya. Namun saat hendak melangkah menuju ke ruangan nya seseorang berlari dengan tergesa-gesa hingga menabrak Fika. Seketika beberapa buku materi yang dibawa oleh Fika jatuh di lantai. Bahkan kemeja coklat muda yang dikenakan oleh Fika terkena tumpahan jus strawberry yang dibawa oleh seseorang tersebut. Dengan serta merta mereka berjongkok memunguti beberapa buku materi yang berserakan di lantai. Bahkan beberapa buku materi tersebut terkena tumpahan jus strawberry dari seseorang yang menabrak Fika.


"Maaf, bu! Saya kurang berhati-hati! Masalahnya saya tadi sedang terburu-buru," ucap seseorang tersebut dengan suara bariton nya. Ciri khas seorang laki-laki dewasa yang sudah aqil baligh.


Fika menatap tajam ke arah bola mata pria itu. Pria itu serta merta menunjukkan rasa penyesalan nya lantaran menabrak Fika dan membuat kemejanya serta Buku-buku nya menjadi basah karena tumpahan minuman yang dibawa laki-laki itu.


"Apakah kamu sudah keburu berak? Bahkan kamu kedua mata kamu tidak kamu gunakan untuk melihat. Kamu lihat! Kemeja dan bahkan buku materi ku rusak dan basah seperti ini," ucap Fika dengan geregetan menahan amarah nya. Apalagi saat ini Fika sedang hamil pasti emosinya semakin meledak-ledak. Laki-laki itu menatap ke bola mata Fika.


"Maaf, bu! Sekali lagi saya mohon maaf! Bagaimana kalau saya akan mengganti Buku-buku ibu yang sudah rusak karena terkena tumpahan air minuman saya?" ucap pria itu berupaya supaya mendapatkan maaf dari Fika.


"Kamu mahasiswa angkatan berapa? Nama kamu siapa? Setelah ini menghadap ke ruangan saya!" ucap Fika sambil berlalu meninggalkan pria dewasa tersebut. Pria itu menatap punggung Fika yang saat ini melenggang menuju ke ruangan dosen.


Pria itu terlihat tersenyum lebar. Satu rencananya telah berhasil ia lakukan untuk mendekati dosen muda dan cantik itu.


"Ternyata sangat mudah mendekati seorang wanita beristri. Dia lebih agresif dan emosional," gumam pria dewasa tersebut dengan tersenyum menyeringai. Dia adalah Lukit. Benar! Saat ini dia sudah masuk ke kampus tempat Fika bekerja dan mengajar. Lukit akan mendekati Fika dengan caranya tanpa harus berkuliah di sana.


Lukit kini menuju ruangan dosen dan bertanya tempat duduk dan ruangan Fika. Lukit mulai. mengetuk pintu ruangan pribadi Fika dan setelahnya masuk ke dalam setelah mendapatkan ijin dari Fika.


"Boleh saya duduk bu?" tanya Lukit dengan senyum lebarnya. Kini Lukit dan Fika saling berhadap-hadapan karena Lukit duduk di depan meja kerja Fika. Fika masih mendengus kesal.


"Kamu mahasiswa angkatan berapa?" tanya Fika ketus.


"Maaf, saya tidak kuliah di kampus ini bu! Saya hanya kebetulan lewat saja. Tadi sebenarnya saya hanya mencari adik saya yang kuliah di jurusan teknik. Namun ternyata saya salah masuk ke kampus ini," jelas Lukit dengan kebohongannya. Fika mengerutkan dahinya.


"Apakah kamu tidak bisa membaca dengan jelas! Di depan sana ada tulisan besar kalau ini fakultas dan jurusan apa?" tanya Fika masih dengan nada bicara tidak bersahabat.


"Maaf, bu! Sebenarnya saya juga dengan rela hati mau menerima hukuman dari ibu jika memang mau diberi hukuman. Namun ternyata sayangnya saya sudah tidak kuliah di sini. Lalu untuk menebus kesalahan saya, apa yang harus saya lakukan bu?" tantang Lukit. Fika mengerutkan dahinya.


"Hah? Bahkan kamu dengan sangat sombongnya menantang minta diberi hukuman atas kecerobohan kamu. Baiklah, apa kamu sanggup membersihkan toilet khusus dosen yang di sana itu?" kata Fika dengan tersenyum sinis. Lukit menengok toilet yang ditunjukkan oleh Fika terhadap nya. Lukit sedikit bergidik ngeri jika harus membersihkan toilet dengan bau yang aneh seperti itu. Namun karena dia sudah terlanjur menantang meminta hukuman kepada Fika atas kecerobohan nya, mau tidak mau dirinya harus melakukan nya sesuai dengan ucapan nya.


"Baiklah, akan saya lakukan bu! Tapi setelah ini apakah ibu memaafkan semua atas kecerobohan saya?" ucap Lukit.


"Tergantung!" sahut Fika. Lukit menyipitkan matanya. Namun akhirnya tidak menunggu lama lagi, Lukit melangkah menuju toilet khusus dosen dan mulai membersihkan toilet itu.


🍀🍀🍀🍀🍀


Rara masuk ke ruangan Fika dengan berjuta pertanyaan di benaknya. Fika kini telah membersihkan kemejanya dengan tisu basah. Walaupun saat ini kemejanya sedikit basah, namun sudah bersih dari tumpahan minuman Lukit tadi.


"Siapa sih laki-laki itu? Ganteng juga?" tanya Rara sambil duduk di depan meja kerja Fika. Kedua bahu Fika naik ke atas.

__ADS_1


"Laki-laki gila!" sahut Fika dengan asal. Rara terkekeh mendengar Fika yang menjadi sangat emosional.


"Kamu kok beberapa hari ini sangat aneh, apakah kamu saat ini sedang datang bulan?" tanya Rara. Memang kehamilan Fika saat ini belum ada yang mengetahuinya oleh rekan-rekan sesama dosen nya. Sehingga Rara pun bertanya soal emosi Fika yang saat ini mudah terpancing.


"Aku hamil, Rara! Tidak sedang menstruasi," jawab Fika keceplosan. Rara membulat matanya.


"Benarkah? Kamu saat ini hamil? Wah, selamat yah! Aku tidak menyangka jika Fiko adalah pejantan tangguh juga. Dia bisa membuat perut kamu membuncit," ucap Rara dengan gemasnya mencubit pipi Fika. Fika masih cemberut menunjukkan bibirnya yang manyun.


"Fiko selalu menyuntik aku kalau pulang ke rumah. Makanya aku cepat hamil dan mengandung anaknya," ucap Fika vulgar. Rara terkekeh mendengar nya.


"Hebat yah! Benih cinta kalian akhirnya jadi seorang bayi di sini. Wah sebentar lagi aku akan dipanggil tante oleh anak kamu," kata Rara dengan mata berbinar.


"Jadi siapa laki-laki yang kamu hukum membersihkan toilet itu? Mahasiswa angkatan berapa?" tanya Rara ikut kepo.


"Dia bilang kalau dia tidak kuliah di kampus ini. Dia hanya kebetulan lewat saja di kampus ini. Sudahlah jangan dibahas lagi laki-laki aneh itu. Bagaimana kalau kita cari rujak buah dulu yuk sebentar! Aku mengajar lagi masih satu jam lagi. Jadi masih ada waktu untuk cari rujak kan?" kata Fika. Rara menerima ajakannya.


"Baiklah! Demi bumil aku akan antar kemanapun yang kamu mau, supaya keponakan ku tidak ngeces," ujar Rara.


Fika dan Rara meninggalkan ruangan dosen itu dan berjalan ke parkiran. Mereka hendak mencari rujak. yang diinginkan Fika.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Mau apa lagi kamu?" tanya Fika ketus.


"Astaga bu dosen muda, galak sekali loh!" sahut Lukit. Mata Fika membulat sempurna.


"Kita sudah tidak ada urusan lagi. Sudah sana pergi! Aku mau masuk ke dalam mobilku!" ucap Fika ketus.


"Yaelah bu dosen yang cantik! Jangan galak-galak. dong dengan saya! Ini saya hanya mau memberikan ini saja buat bu dosen sebagai permintaan maaf saya," kata Lukit sambil memberikan buket mawar berwarna putih beserta boneka kecil serta coklat. Barang itu persis dengan buket yang sudah ada di meja Fika tadi pagi. Fika mengerutkan dahinya.. Fika kini menduga-duga kalau seseorang yang meletakkan buket mawar putih dengan boneka kecil serta coklat itu adalah Lukit.


"Ini bu tolong dong diterima!" kata Lukit kembali menyodorkan buket mawar putih itu kepada Fika. Fika menerima buket beserta boneka dan coklat itu. Matanya kini menatap tajam ke arah bola mata Lukit.


"Kamu yah yang meletakkan buket bunga mawar putih seperti ini ke dalam ruangan saya?" tuduh Fika kepada Lukit. Lukit mengernyitkan dahinya.


"Hah? Bahkan ini yang pertama kalinya saya memberikan buket mawar putih ini kepada ibu dosen cantik. Apakah sebelumnya saya sudah memberikan ke ibu dosen cantik? Saya rasa, tidak pernah," ucap Lukit dengan menunjukkan senyumnya yang lebar. Fika mengerutkan dahinya.


"Ya sudahlah, lupakan!" sahut Fika lalu bergegas masuk ke dalam mobil lalu berusaha menutup pintu mobilnya. Namun dengan cepat Lukit menahan nya.


"Ada apa lagi sih? Buket ini sudah aku Terima dan aku sudah memaafkan kamu. Sekarang lupakan dan pergi sekarang dari sini. Lupakan kalau kita sudah pernah ketemu," ucap Fika ketus.

__ADS_1


"Astaga! Benar-benar galak banget ibu dosen cantik ini," sahut Lukit. Fika melebar lagi matanya.


"Ada apa lagi?" tanya Fika kembali.


"Itu, boleh saya bertanya nama ibu dosen cantik dan kalau boleh saya minta nomor WA ibu dosen cantik. Siapa tahu kalau kita bertemu di jalan saya bisa memanggil ibu dosen. Masak dari tadi saya tidak tahu nama ibu dosen," ucap Lukit beralasan.


"Apakah tadi kamu tidak membaca di atas meja kerja saya ada nama saya? Lagi pula tidak perlu lagi kita berkenalan urusan kita sudah selesai, bye!" ucap Fika lalu dengan keras menutup pintu mobilnya. Lukit tersenyum lebar sambil mengetuk kaca disebelah pintu samping mobil Fika. Fika mulai menghidupkan mobilnya dan kini tidak mengindahkan Lukit yang masih bersikeras mengejarnya. Sampai mobil Fika dijalankan nya Lukit tetap mengejarnya sampai jauh.


"Sinting laki-laki itu! Apa sih yang ia mau?" gumam Fika lalu mulai memelankan laju kecepatan mobilnya. Akhirnya Fika menghentikan mobilnya dan menepikan mobilnya kembali di pinggir jalan. Fika turun dari mobilnya dan melihat Lukit masih berlari mengejarnya.


Sepuluh menit kemudian Lukit tiba dan mendekati Fika yang berdiri di dekat mobilnya yang saat ini terparkir di tepi jalan yang masih dilingkungan kampus.


Nafas Lukit ngos-ngosan karena cukup jauh berlari mengejar Fika yang tadi mengemudikan mobilnya.


"Sinting kamu! Kenapa kamu mengejar aku hah?" umpat Fika sambil menatap tajam bola mata Lukit. Lukit masih mengatur nafasnya supaya lebih teratur.


"Itu bu dosen cantik! Saya masih belum mendapatkan nomer WA ibu dosen cantik beserta nama ibu dosen," kata Lukit terlihat tidak mau menyerah akan misi nya. Akhirnya Fika menyerah dan memberikan nomor WA nya.


"Mana ponsel kamu!" tanya Fika. Lukit menyodorkan ponselnya yang ia rogoh sebelum nya di dalam saku celananya.


"Ini bu dosen cantik!" kata Lukit sambil tersenyum. Fika menekan nomer WA nya disertai namanya. Fika menuliskan di ponsel Lukit dengan nama Fika istri Fiko. Lukit tersenyum membaca nama yang ditulis oleh Fika di dalam ponselnya.


"Kamu tahu, aku sudah bersuami. Jadi setelah ini kamu bisa menjaga batasan nya yah. Bagaimana berteman dengan istri orang," kata Fika.


"Jadi, apakah dengan ini ibu dosen cantik sudah menganggap saya adalah teman ibu dosen?" sahut Lukit. Akhirnya Fika tersenyum kecil.


"Baiklah! Sudah, aku mau pulang! Jangan ganggu perjalanan ku," ucap Fika lalu masuk kembali ke dalam mobilnya. Kini Fika menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Lukit tersenyum lebar, kini misi nya telah berhasil satu langkah. Di kejauhan sedari tadi ada seseorang yang dengan lihai mengambil foto-foto Lukit dengan Fika dalam pose seolah menunjukkan bahwa Fika menjumpai seorang kekasihnya. Seseorang itu kini mendekat Lukit dengan senyuman nya yang mengembang.


"Ayo masuk lah ke mobilku! Aku sudah mendapatkan banyak foto-foto kamu dengan Fika dari kamu menabraknya di kampus tadi," kata wanita itu dengan senyum nya yang lebar. Lukit masuk mengikuti perintah wanita itu. Benar! Wanita itu adalah Mariana dengan segala rencananya bersama dengan Lukit.


"Haduh, capek banget tante. Aku sampai harus berlari mengejar dosen cantik itu," ucap Lukit mengeluh. Mariana melebarkan matanya seperti sangat cemburu jika Lukit menyebut Fika adalah dosen cantik.


"Apakah dia lebih cantik daripada aku?" tanya Mariana.


"Eh, tentu saja cantikan tante Mariana dong!" sahut Lukit kini dia harus menjadi bunglon untuk mendapatkan madu seorang wanita.


"Ih, habis ini aku ingin penyegaran, tante!" keluh Lukit.

__ADS_1


"Baiklah! Apa yang kamu mau akan aku penuhi," kata Mariana dengan senyuman manisnya.


__ADS_2