ISTRI YANG KE DUA

ISTRI YANG KE DUA
Bab 37


__ADS_3

Fiko mengangkat tubuh Sasa ke dalam kamar anak perempuan nya itu. Di kamar itu, Fiko dengan pelan-pelan membaringkan tubuh anak perempuan nya itu di tempat tidur. Sasa masih terlihat pulas tidur nya karena pengaruh obat yang disuntik kan oleh dokter. Di tatapnya sejenak anak gadisnya yang sudah menginjak dewasa. Dalam pikiran Fiko,setelah ini harus lebih memperhatikan lagi anak gadisnya. Pergaulan jaman sekarang yang sulit dikendalikan lantaran segala media telah merambah ke kalangan. Apalagi pengaruh handphone dengan segala situs-situs ada di sana. Keingintahuan anak-anak remaja semakin besar jika belum pernah mencoba. Apalagi kalau sudah mengenal lawan jenis dan merasakan jatuh cinta. Di usapnya puncak kepala putrinya dengan lembut. Lalu dikecupnya dahi anak gadisnya. Dalam hati Fiko berdoa, semoga kelak anak gadisnya bisa menjadi orang yang berguna dan bermanfaat bagi orang banyak. Fiko menutup badan Sasa dengan selimut tebal yang sudah tersedia di atas tempat tidur. Lalu AC ruangan itu dinyalakan dengan suhu paling kecil. Udara malam itu sudah semakin dingin. Sehingga tidak perlu menghidupkan AC dengan suhu yang paling tinggi.


Setelah itu Fiko keluar dari kamar putrinya tersebut dengan menutup kembali pintu nya. Fiko melangkah menuju kamarnya. Lebih tepatnya kamar dirinya dengan Mariana jika Fiko kembali pulang ke rumah itu. Namun memang sudah lama Fiko tidak masuk ke kamar itu. Banyak pakaian pakaian Fiko yang masih ditinggal di rumah Mariana.


Langkah Fiko terhenti setelah berada di depan pintu kamar itu. Fiko terlihat ragu-ragu ketika hendak mengetuk pintu kamar nya. Pikirannya teringat dengan Fika istri keduanya. Namun masalah Sasa harus diselesaikan. Bukan tidak tahu jika sebenarnya masalah minuman itu sasarannya bukan lah Sasa, melainkan Fika, istri keduanya. Jika Fika meminum minuman yang telah diberi obat perangsang itu. Lalu apa yang akan direncanakan lagi oleh Mariana jika tidak memberikan umpan kepada Lukit, Laki-laki yang akhir-akhir ini berusaha mendekati Fika.


Di belakang rumah itu terdapat beberapa Cctv-nya yang diletakkan di beberapa titik. Mungkin dikira Mariana, Fiko tidak memperhatikan setiap gerak-gerik yang mencurigakan dari sikap Mariana bersama laki-laki itu.


Tanpa mengetuk pintu di kamar itu, Fiko membuka handle kamar Mariana. Hanya dalam pikiran Fiko siapa tahu Mariana tidak mengunci pintu kamarnya itu.

__ADS_1


"Eh tidak dikunci pintunya," gumam Fiko. Serta merta Fiko membuka lebar pintu kamar itu. Terlihat Mariana sudah tidur di atas tempat tidur nya seorang diri. Mariana tidur dengan dibalut kan selimut tebalnya.


"Mas Fiko?" ucap Mariana sontak bangun dari tidurnya dan kini terlihat lah Mariana masih terlihat polos tanpa pakaiannya dan hanya ditutupi dengan selimutnya. Fiko mengalihkan pandangannya. Fiko melihat beberapa pakaian Mariana yang tadi dipakai nya berserakan di bawah lantai. Fiko kembali menatap Mariana dengan tatapan aneh.


"Ada apa dengan kamu, Mariana? Kenapa kau tidur tidak mengenakan pakaian kamu?" tanya Fiko. Mariana seketika berakting dan mengeluarkan tangisannya.


Fiko diam mematung ketika Mariana menangis terisak-isak. Ada rasa bersalah pada hati Fiko. Namun dirinya sungguh sudah tidak bisa membagi cinta nya kepada Mariana. Walaupun antara Mariana masih ada ikatan istri.


"Maaf, Mariana! Aku tidak bisa memberikan nafkah batin itu kepada kamu," ucap Fiko. Namun Mariana serta merta memeluk Fiko erat. Fiko tidak bisa menerima pelukan itu. Didorong nya tubuh Mariana perlahan.

__ADS_1


"Maaf Mariana! Aku tidak bisa!" ucap Fiko lagi. Mariana kembali menangis.


"Aku pergi dulu, Mariana!" kata Fiko seraya melangkah ke pintu kamar itu dan hendak keluar. Namun Fiko menengok kembali ke arah Mariana dengan mata yang bulat penuh intimidasi.


"Besok siang, aku akan kembali lagi ke rumah ini. Dan kamu tahu? Aku ingin penjelasan dari kamu, Mariana! Soal minuman yang telah terminum pada Sasa. Minuman yang sudah diberi obat perangsang. Yang sebenarnya sasaran nya adalah Fika bukan Sasa. Dan jelaskan soal Lukit. Siapa Lukit itu? Apakah kekasih kamu? Jika benar! Kamu bisa menggugat perceraian secepatnya dengan aku. Dan ingat, jangan lagi berpura-pura manis kepada aku dan Fika," ucap Fiko. Mariana benar-benar tidak menyangka jika Fiko mengetahui secara detail apa yang sudah dia rencanakan. Dan soal Lukit pun Fiko sangat paham itu. Mariana melenat matanya dengan sempurna.


"Fiko! Aku sangat membenci kamu!" sahut Mariana dengan berteriak keras. Fiko diam. lalu menutup pintu kamar itu dengan keras. Langkahnya lebar ingin segera pulang kembali ke istri keduanya.


"Mariana pikir, aku tidak tahu jika dia sudah berkali-kali melakukan hubungan terlarang itu dengan laki-laki itu," gumam Fiko seraya keluar meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2