ISTRI YANG KE DUA

ISTRI YANG KE DUA
Bab 45


__ADS_3

"Kemana sih? Film nya saja belum selesai?" Sasa mencoba menahan Lukit.


"Sebentar aku mau ke kamar mandi dulu," kata Lukit dan segera masuk ke kamar mandi. Sasa tersenyum menyeringai melihat perubahan pada Lukit yang terlihat sangat gelisah.


Hingga sampai setengah jam, Lukit tidak juga keluar dari dalam kamar mandi. Sasa menggedor pintu kamar mandi dan memanggil nama Lukit.


Hingga sampai setengah jam, Lukit tidak juga keluar dari dalam kamar mandi. Sasa menggedor pintu kamar mandi dan memanggil nama Lukit.


Di dalam kamar mandi itu, Lukit benar-benar gelisah dan bingung. Tidak mungkin dirinya akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sedangkan adik kecilnya sudah memberontak ingin segera menumpahkan serta menyemburkan segala sesuatu yang ingin lepas. Namun apakah Lukit akan sejahat itu memanfaatkan kondisi itu ketika melihat Sasa yang sengaja menggodanya. Apalagi Sasa adalah putri dari Mariana yang adalah partner ranjangnya selama beberapa bulan ini. Bahkan Mariana sudah menganggap Lukit adalah kekasih gelapnya karena Mariana sudah menyukai Lukit dengan menggunakan hatinya.


Di luar kamar mandi, Sasa masih saja menggedor pintu kamar mandi itu. Sasa takut dan khawatir, Lukit terjadi apa-apa. Pintu kamar mandi itu di buka oleh Lukit dengan wajah yang memerah. Sedangkan Sasa melebarkan senyuman nya saat Lukit keluar dari dalam. Kedua mata mereka beradu. Lukit enggan menatap ke arah Sasa yang seperti menguji Lukit kembali.


Tiba-tiba pintu kamar Sasa di ketik seseorang. Kini Lukit dan Sasa saling pandang.


"Sasa! Kamu di dalam sayang! Apakah om Lukit ada di dalam, Sasa? Di luar benar kah motor, om Lukit?" teriak Mariana. Lukit dan Sasa saling pandang.

__ADS_1


Lukit hendak menjawabnya dengan berteriak. Namun dengan cepat tangan Sasa menutup mulut Lukit. Lukit melebarkan matanya.


"Kenapa, Sasa! Aku harus segera keluar! Aku harus segera kembali ke kafe, Sasa! Kenapa kamu menahan aku, Sasa?" tanya Lukit. Sasa mendekati Lukit.


"Sasa menyukai om Lukit!" jawab Sasa. Lukit yang mendengar nya membulat dengan sempurna matanya. Sasa kini mendekati wajah Lukit dengan kedua mata yang terpejam. Lukit melotot matanya. Namun dengan pelan-pelan, Lukit melangkah mundur kakinya. Sedangkan Sasa akhirnya kembali membuka mata dan mendekati Lukit sampai Lukit mentok di dinding samping pintu kamar Sasa. Sedangkan di luar pintu kamar itu, Mariana masih saja memanggil-manggil Sasa.


"Sasa, kamu masih kecil dik! Kamu tidak boleh seperti ini dengan om Lukit. Aku sudah tua dan jauh umur nya dengan kamu, dik Sasa!" bisik Lukit yang nafasnya sudah naik turun karena dia pepaya yang masih ranum milik Sasa sudah menempel di dada Lukit. Sasa sudah seperti horny dan ingin mempraktikkan dengan Lukit apa yang sudah di tonton nya tadi.


"Aku tidak perduli kalau usia aku dengan om Lukit berbeda jauh. Aku hanya ingin mempraktikkan apa yang sudah kita lihat di film dewasa tadi, om. Om Lukit pasti sudah naik kan? Om Lukit jangan lagi menahannya," bisik Sasa.


Tok.


Tok.


Tok.

__ADS_1


"Sasa, bukakan pintu! Kalau tidak, mama akan mendobrak pintunya dari luar!" ancam Mariana. Lukit yang mendengar nya menjadi panik antara membuka pintu kamar itu atau main dan mengikuti kemauan Sasa.


Akhirnya Lukit nekat membuka pintu kamar itu dengan cepat sebelum Sasa menghentikan nya. Betapa Mariana terkejut saat melihat Lukit berada di dalam kamar anaknya.


"Lukit! Sedang apa kalian berdua?" tanya Mariana. Kini Lukit hanya menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Sedangkan Sasa tersenyum lebar kepada mama nya.


"Kami pacaran, ma!" jawab Sasa dengan enteng nya. Lukit semakin serba salah. Mata Mariana melotot lebar.


"Eh, tidak! Tidak Mariana! Sasa hanya mengajak aku lihat film bersama di kamarnya. Itu saja!" jelas Lukit. Mariana melihat Lukit dan Sasa secara bergantian.


"Tapi lihat film dewasa bersama-sama ma!" sahut Sasa. Kembali Lukit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Eh?" Lukit serba salah. Apalagi Mariana segera berjalan dengan cepat meninggalkan Lukit dan Sasa menuju kamarnya. Kesempatan itu akhirnya Lukit gunakan untuk pergi dari rumah itu. Saat ini Lukit sudah tidak perduli dengan Mariana dan juga Sasa. Jika mau membujuk Mariana, pikir Lukit sudah tidak ada gunanya lagi.


"Ah masa bodoh dengan mereka! Aku lebih baik kembali ke kafe! Aku sudah malas berhubungan dengan Mariana lagi," gumam Lukit sambil menjalankan motornya.

__ADS_1


__ADS_2