
Di kafe itu mereka kini telah memesan makanan dan juga minuman untuk Fika, Adel, Mariana dan ketika anak-anak nya. Setelah semua makanan dan minuman itu sudah tersaji di atas meja, mereka mulai menyantap hidangan mereka pesan masing-masing. Terlihat Fika pun sangat antusias memakan makanan nya. Dafa selalu memperhatikan Fika itu tanpa berkedip. Pandangan nya mengandung arti yang lain daripada yang lain. Memang usia antara Fika dan Dafa terpaut sangat jauh. Bahkan usia Fika sama halnya dengan usia papa nya. Namun Dafa dari dulu menyukai wanita dewasa yang usianya lebih tua darinya.
Dafa pertama kali jatuh cinta dengan seorang janda yang usianya terpaut jauh sepuluh tahun. Kalau dengan Fika sudah dipastikan berjarak sekitar dua puluh tahun. Mengingat Dafa yang masih berusia dua puluh dua tahun. Sedangkan Fika sudah berkepala empat sama dengan usia papa nya Fiko.
Saat Dafa memperhatikan Fika yang sedang menikmati makanan nya, tanpa sadar Dafa menyunggingkan senyuman nya. Hal itu diperhatikan oleh mama nya, Mariana.
"Dafa, ada apa? Ayo kamu makan!" kata Mariana yang seketika membuat Dafa mengalihkan pandangannya ke tempat lain lalu mulai memakan makanan di depannya.
"Tante Fika! Aku saat ini kan sedang menyusun skripsi, tante bisa bantu aku dalam menyusun skripsi tidak?" ucap Dafa yang membuat Sisi dan Sasa menatap ke arah kakak nya yang tiba-tiba sangat aneh meminta bantuan seseorang yang baru di kenalnya. Tidak hanya Sisi, Sasa yang menatap sikap aneh dari Dafa, Mariana dan juga Adel pun demikian.
Fika tersenyum lalu menanggapi ucapan Dafa yang meminta bantuan dalam menyusun skripsi nya.
__ADS_1
"Memangnya kamu ambil jurusan apaan, dek? Tante adalah dosen sastra yang mungkin saja menguasai di bidang tata bahasa dan juga sastra. Selain itu mana bisa tante membimbing kamu dalam bidang yang lain," ucap Fika. Ucapan Fika dibenarkan oleh Adel dan juga Mariana.
"Oh, aku ambil di teknik, tante! Aku hanya minta dibimbing bagaimana cara penulisan yang benar ketika menyusun skripsi itu. Soal materi dan bahan skripsi aku sudah siap, tante," sahut Dafa. Fika mengernyitkan dahinya.
"Boleh saja! Hanya mengecek saja kan, tata bahasa Indonesia kan?" kata Fika.
"Jadi bisa kan tante?" tanya Dafa seperti mendesak Fika.
"Bisa!" sahut Fika. Dafa tersenyum lebar.
"Dafa! Lebih baik kalau kamu mau bimbingan skripsi dengan tante Fika, kamu datang saja ke kampus tante Fika. Atau ke kafe seperti ini, dan jangan bertandang ke rumah tante Fika. Ini bisa mengganggu istirahat tante Fika. Kamu tahu kan Difa? Di rumah itu tempat untuk beristirahat dan tidak boleh ambil kerjaan," kata Mariana berusaha membujuk Dafa. Dafa kini melihat ke arah Fika.
__ADS_1
"Oh benar! Lebih baik kita janjian di luar saja, dek! Atau kamu datang ke kampus," ucap Fika sambil melihat ke arah Mariana dan Adel saling bergantian.
"Baiklah, tapi aku boleh kan tante, jika minta nomer WA tante Fika?" tanya Dafa.
"Baiklah!" sahut Fika sambil tersenyum lalu memberikan nomer WA nya. Dafa pun mulai menyimpan nomer Fika.
"Semangat sekali kakak Dafa minta diBimbing tante Fika. Awas tante Fika! Kak Dafa itu suka wanita yang usianya lebih tua daripada kak Dafa. Dulu saja kak Dafa pacaran dengan seorang janda, tante! Karena papa tahu dan melarang nya akhirnya, Dafa tidak lagi berpacaran dengan janda itu. Kakak Dafa ini aneh? Orang gadis-gadis muda masih banyak kok nyarinya tante-tante dan janda," protes Sasa. Spontan Fika dan Adel saling pandang. Bahkan Mariana pun kini menatap Fika dan Difa secara bergantian.
"Aduh! Aku takut kalau Dafa mulai modus ingin mendekati Fika!" batin Mariana.
Kini raut wajah Dafa memerah lantaran malu. Melihat perubahan yang terjadi pada Dafa, akhirnya Mariana berucap.
__ADS_1
"Saat ini Dafa hanya ingin dibimbing dalam menyusun skripsi saja kok! Supaya cepat kelar tugas akhirnya dan bisa cepat di wisuda. Benar kan, Dafa?" sahut Mariana.
"Iya dong, ma! Tante Fika pasti dosen yang cerdas dan baik, pasti bisa membantu aku dalam menyelesaikan skripsi ku ini," ucap Dafa akhirnya kecanggungan nya pun hilang sudah.