
Fiko sedang bermain catur dengan Pak Taufik. Hingga cukup lama mereka tidak juga menyudahi permainan itu. Hal itu membuat Fika mondar-mandir ke ruang tengah untuk melihat Fiko yang masih fokus dan asyik bermain catur dengan ayahnya. Hal itu diperhatikan oleh bunda Salamah. Bunda Salamah tentu sangat paham jika Putri nya saat ini ingin bersama dengan suaminya, Fiko. Namun ayah Taufik tidak juga mengakhiri permainan catur itu. Akhirnya bu Salamah mendatangi keduanya yaitu Pak Taufik beserta Fiko yang masih serius beradu otak dan strategi itu.
"Ayah, ayo kita istirahat dulu! Sudah mulai larut malam loh! Nak Fiko besok pagi juga bekerja dan berangkat ke kantor," kata Bu Salamah. Namun Pak Taufik masih juga tidak menyadari dan pengertian.
"Sebentar lagi, Bun! Ini nanggung banget!" sahut Pak Taufik. Fiko tersenyum dan masih serius meladeni permainan catur bersama dengan ayah mertuanya itu.
"Ayo dong, Ayah! Ibu sudah mengantuk nih! Fika pun juga terlihat sudah mengantuk," kata Bu Salamah lagi.
__ADS_1
"Ya sudah! Kalian bisa tidur dan istirahat duluan. Kami masih bermain catur. Ini sedang seru-seru nya loh," sahut Pak Taufik. Fiko menatap ibu mertua nya yang sudah terlihat jenuh. Kini beralih menuju ke arah Fika yang duduk di ruang tamu tidak jauh dari mereka. Fiko tersenyum, dan akhirnya Fiko berniat menghentikan permainan catur bersama ayah mertuanya itu.
"Ayah, mohon maaf! Sepertinya permainan catur ini kita lanjutkan besok lagi deh Ayah! Saya juga harus berangkat tidur dan beristirahat. Besok juga harus berangkat pagi dan ada jadwal meeting di kantor," ucap Fiko beralasan. Pak Taufik menatap bola mata Fiko dan kini beralih pada putrinya, Fika yang sudah cemberut bibirnya menunggu suaminya selesai dalam bermain catur. Pak Taufik tersenyum lebar.
"Baiklah, kalian istirahat saja! Ayo Bu kita masuk ke kamar kita! Daripada kita tidak mendapatkan cucu secepatnya, lebih baik kita membiarkan mereka malam ini membuatkan cucu buat kita," kata Pak Taufik. Fiko yang mendengar ucapan ayah mertuanya menjadi bersemu merah wajahnya.
"Sepertinya istri aku mau minta nih, hehe," gumam Fiko. Fiko segera bergegas masuk ke dalam kamar utama mereka. Fiko kini sudah mendapati Fika meringkuk di atas kasur. Fiko tersenyum melihat tubuh ramping istrinya yang belum berselimut itu. Fiko tahu kalau Fika masih terjaga dan belum tidur.
__ADS_1
Fiko memeluk Fika dari belakang. Kini Fiko mulai mengecup leher Fika di belakang. Hembusan nafas Fiko membuat Fika bergidik geli.
"Maaf, sayang! Tadi ayah ngajak aku main catur. Jadi lupa waktu deh! Hem, sekarang mau gituan apa bobok?" bisik Fiko vulgar. Kini Fika membalikkan tubuh nya hingga mereka kini saling berhadapan. Fiko tersenyum kini istrinya tidak lagi membelakangi dirinya.
"Aku kangen kamu, mas!" ucap Fika. Kini Fiko meraih tubuh Fika dan menenggelamkan kepalanya ke dada bidangnya.
"Iya, aku tahu sayang! Aku juga sangat kangen dengan kamu," sahut Fiko lembut.
__ADS_1
"Jadi? Mau bobok sekarang atau buat cucu untuk ayah dan bunda?" goda Fiko. Fika mencubit perut Fiko. Tangan Fika dicium nya dengan lembut. Keduanya mulai melakukan penyatuan dengan saling cium. Setelah nya keduanya sama-sama berangkat ke dunia yang penuh kenikmatan dalam peluh keringat karena kegiatan intens yang saling memberi dan menerima.