
Motor Lukit berhenti di depan rumah Mariana. Sasa turun dari motornya dan melepaskan helm milik Lukit.
"Sudah masuk sana, Sasa! Aku akan kembali ke kafe dan bekerja dulu. Salam buat mama kamu, tante Mariana," kata Lukit dan motor nya masih dalam keadaan nyala.
"Kak Lukit, ayo masuk dulu dong! Aku butuh kak Lukit sekarang ini!" ajak Sasa sambil memegang lengan Lukit yang kelar untuk di ajaknya masuk dulu ke dalam rumah.
"Tidak bisa Sasa! Aku harus bekerja. Bagaimana kalau aku dipecat dan menjadi laki-laki pengangguran?" sahut Lukit.
"Walaupun kak Lukit menjadi laki-laki pengangguran, di mataku kak Lukit tetap laki-laki istimewa. Aku akan meminta mama atau papa ku untuk memberikan kak Lukit pekerjaan. Itu sangat mudah sekali kak Lukit. Mengingat keluarga papa dan mama memiliki beberapa usaha dan bisnis. Keluarga besar kami memiliki banyak perusahaan di kota ini. Ayolah kak Lukit! Kak Lukit masuk dulu," rengek Sasa. Lukit menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya dengan pelan.
__ADS_1
Motor Lukit akhirnya dibawa masuk ke halaman rumah depan. Sasa lalu menarik tangan Lukit dan mengajaknya masuk ke dalam rumah tinggal orang tuanya. Lukit celingak- celinguk melihat ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang.
"Di mana mama kamu, Sasa?" tanya Lukit.
"Tadi mama kirim pesan chat ke WA ku, kalau mama saat ini sedang di kantor kakek. Jadi di rumah tidak ada mama. Ayo kak Lukit! Aku akan menunjukkan sesuatu dengan kak Lukit," kata Sasa kembali Sasa menarik tangan Lukit dan mengajaknya masuk ke dalam kamar pribadinya. Kembali Lukit kagum dengan dekorasi kamar Sasa. Benar-benar anak Sultan yang memiliki berlimpah harta dan kekayaan.
Di dalam kamar ada televisi datar dengan ukuran jumbo seperti layar tanjab. Kini Sasa menghidupkan benda elektronik itu dan kini terlihat Sasa sudah memutar tayangan film. Sasa menutup pintu kamarnya bahkan kini telah mengunci pintu kamarnya itu. Lukit hanya menatap aneh sikap Sasa. Sasa mengajak Lukit duduk di sofa panjang di depan televisi dengan ukuran jumbo itu.
"Aku sangat penasaran dengan film seperti ini. Makanya aku ingin melihat nya bersama dengan kak Lukit," sahut Sasa.
__ADS_1
"Memangnya Sisi, saudara kembar kamu ada di mana sekarang?" tanya Lukit. Kini jantung Lukit sudah berdetak kencang karena Sasa sudah duduk di dekatnya lebih dekat dan menempel memegang lengannya yang kekar. Bahkan benda empuk milik Sasa menempel di lengan Lukit.
"Sisi tentu saja masih kuliah, kak Lukit. Bukannya aku telah bolos kuliah," ucap Sasa. Kini keduanya mulai menatap televisi plat dengan ukuran yang memenuhi salah satu sisi dinding kamar itu. Sasa semakin menempel ke lengan Lukit. Benda yang bergelantungan di daerah dada Sasa kini sengaja ditempelkan di lengan Lukit. Lukit menelan saliva nya. Jantungnya bergemuruh dengan kencang. Detak jantung itu berpacu seperti sedang berlari-lari dengan gejolak nya yang semakin terpacu.
Pandangan mata Lukit dan Sasa kini menatap adegan-adegan yang muncul dalam film tersebut. Keduanya menatap serius ke depan. Kembali Lukit menelan saliva nya. Sesuatu yang aneh sudah dirasakan oleh Lukit di area pribadinya. Lukit menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menetralisir keadaan nya.
"Aku keluar dulu, Sasa! Seharusnya aku kembali ke kafe dan bekerja lagi," ucap Lukit sambil berdiri dari tempat duduknya. Sasa kembali menahan tangannya.
"Kemana sih? Film nya saja belum selesai?" Sasa mencoba menahan Lukit.
__ADS_1
"Sebentar aku mau ke kamar mandi dulu," kata Lukit dan segera masuk ke kamar mandi. Sasa tersenyum menyeringai melihat perubahan pada Lukit yang terlihat sangat gelisah.
Hingga sampai setengah jam, Lukit tidak juga keluar dari dalam kamar mandi. Sasa menggedor pintu kamar mandi dan memanggil nama Lukit.