ISTRI YANG KE DUA

ISTRI YANG KE DUA
Bab 21


__ADS_3

Fika menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kampus tempat nya mengajar. Benar! Fika memang saat ini telah menjadi dosen di perguruan ternama di kota besar itu. Menjadi seorang dosen tentu saja membuat Fika menjadi orang yang dihormati serta disegani banyak orang terutama mahasiswa-mahasiswi yang telah diajarnya. Dengan penampilan sederhana serta sopan menunjukkan bahwasanya Fika adalah wanita yang berpendidikan dan berintelektual. Bahkan banyak Mahasiswa-mahasiswinya ingin dekat dengan dosennya seperti Fika. Ditambah lagi Fika sendiri memang membuka tangannya bagi mahasiswanya jika mengalami segala kesulitan baik materi kuliahnya maupun permasalahan yang di hadapi mereka ketika di masa remaja yang sedang tumbuh menginjak kedewasaan.


Setiba nya di kampus tempat mengajarnya, Fika segera ke ruangan nya. Di mejanya itulah dilihatnya ada seikat bunga mawar putih disertai boneka kecil. Ada kotak kecil berpita merah dan itu dipastikan adalah coklat atau makanan manis sejenisnya. Mata Fika melebar melihat semuanya itu sudah berada di atas meja kerja nya. Fika mencari tahu siapa yang telah mengirimkan nya. Namun belum ada nama yang menunjukkan siapa yang telah meletakkan benda-benda yang bikin orang baper.


Fika mencoba menghubungi Fiko berharap buket bunga mawar putih yang indah disertai beberapa bingkisan kecil serta boneka itu adalah pemberian dari Fiko. Namun Fiko bukan tipe laki-laki yang suka membikin kejutan seperti itu. Fiko tipe laki-laki yang apa adanya dan tidak suka menunjukkan hal-hal konyol seperti itu.


Fika mencoba menghubungi Fiko namun belum juga terhubung.


"Fiko pasti sedang ada meeting atau bertemu klien-klien nya. Siapa juga yang memberikan ini semua atau jangan-jangan punya Rara yang sengaja di letakkan di atas mejaku," gumam Fika.


Tidak berselang lama Rara masuk ke ruangan kerja Fika.


"Halo Fika sayang! Wah semakin hari semakin cantik dan segar saja kamu, sayang!" ucap Rara seraya mendekati Fika lalu mencium pipi kanan dan kiri milik Fika. Fika berdiri dan menyambut hangat kedatangan rekan sesama dosennya.


"Halo Rara! Kamu pun juga terlihat semakin cantik saja! Kebetulan kamu datang, aku mau bertanya kepada kamu," ucap Fika kini keduanya duduk saling berhadapan. Mata Rara kini melebar lalu mulai siap menyimak apa yang akan ditanyakan oleh Fika.


"Ini, lihatlah ini! Siapa yang meletakkan buket bunga mawar putih dan juga bingkisan ini? Tadi ketika aku masuk ke ruangan aku, aku sudah melihat ini semua. Kamu tahu punya siapa ini?" kata Fika sambil membulat matanya ketika menceritakan hal yang membuatnya ingin tahu dan penasaran.


"Wah, aku juga baru datang sayang! Nanti kita tanyakan pak Tomas. Tadi dia yang pagi-pagi lebih duluan datang di ruangan dosen ini. Mungkin saja Pak Tomas tahu siapa pengirim buket ini. Lagi pula, kamu jangan heran dan panik begitu dong! Ini sudah biasa kan kalau seseorang diam-diam mengagumi kamu. Kamu kan salah satu dosen yang tercantik dan ramah. Tentu saja banyak mahasiswa yang mengidolakan kamu, Fika. Atau jangan-jangan pak Tomas sendiri yang meletakkan buket ini di meja kamu. Bukankah pak Tomas dari dulu menyukai kamu. Namun kamu nya saja tetap cuek dan selalu menolaknya," kata Rara panjang lebar. Fika melongo dengan ucapan Rara.

__ADS_1


"Pak Tomas sekarang ini sudah dekat dengan bumi Cici! Jadi sudah tidak mungkin lagi mendekati aku, sayang! Lagi pula pak Tomas kan sudah tahu kalau aku sudah tidak mungkin digapainya. Lantaran aku sudah menikah dengan orang lain," ucap Fika. Rara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tapi segala kemungkinan itu selalu terjadi sayang! Kamu selalu cantik walaupun sudah bersuami. Bahkan saat ini laki-laki sekarang suka wanita yang bersuami loh! Katanya lebih menggoda dan auranya semakin terpancar keluar," ucap Rara. Fika yang mendengarnya spontan saja menepuk jidatnya Rara dengan telunjuk nya. Rara meringis saja.


"Ya sudah, kamu tumben kok ke ruangan ku? Ada apa? Pasti ada yang penting yah?" tuduh Fika.


"Penting sih tidak, Fika sayang! Cuma hanya curhat saja kok," kata Rara. Fika mengerutkan dahinya.


"Ada apa?" tanya Fika penasaran.


"Aku diajak menikah dengan Rido," jawab Rara singkat. Fika mengerutkan dahinya.


"Aku belum menjawabnya. Kamu kan tahu, orang tua Rido sudah menyiapkan calon istri buat Rido. Aku tidak ingin pernikahan kami tidak direstui oleh orang tua kami. Pernikahan tidak hanya menyatukan dan mewujudkan keinginan diantara dua hati. Namun pernikahan itu sendiri menyatukan dua keluarga yang berbeda menjadi satu keluarga besar. Jika keluarga Rido tidak menyetujui aku sebagai calon istri Rido, itu artinya keluarga Rido pun tidak menginginkan keluarga ku masuk dalam lingkup keluarga besarnya. Aku tidak mau hubungan rumah tangga rumit seperti ini. Lebih baik aku putus dan mencari laki-laki sebagai calon imam ku yang mau menerima aku dan keluarga ku dengan tulus," cerita Rara panjang lebar. Fika menyimak nya dengan serius.


"Jika kamu putus dengan Rido itu artinya kamu menyakiti hati kamu sendiri dan juga hati Rido. Kenapa tidak kamu perjuangkan saja cinta kalian saja!" sahut Fika.


"Aku tidak bisa seperti kamu, Fika! Kamu bisa menjadi istri kedua dan selalu siap menghadapi konflik batin dan juga permasalahan rumit," kata Rara spontan. Fika menarik nafasnya dalam-dalam.


"Sebenarnya aku juga tidak menghendaki menjadi istri kedua, Rara. Namun keadaan dan waktu yang salah lah yang sudah mempertemukan aku dengan Fiko. Aku ketemu Fiko ketika dia sudah berumah tangga. Kami dari dulu saling menyayangi, namun karena perjodohan Fiko dengan wanita pilihan kedua orang tua Fiko akhirnya kami terpisah jarak dan tidak ada lagi komunikasi. Hingga akhirnya kami bertemu kembali di waktu dan situasi yang sudah tidak tepat. Namun Fiko tidak mau melepaskan aku. Akhirnya aku dibawa nya ke rumah istrinya dan meminta ijin untuk menikah kembali dengan aku," cerita Fika panjang lebar. Rara hanya menyimak saja.

__ADS_1


"Aku seperti wanita perebut laki-laki orang saat itu. Namun karena Fiko menyakinkan aku kalau dia tidak akan melepaskan aku dan karena aku juga masih menyukai Fiko, akhirnya pernikahan itu terjadi. Semua juga atas ijin istri pertama Fiko, walaupun aku tahu istri Fiko sangat terpaksa memberikan ijin nya terhadap Fiko untuk menikah kembali. Orang tua Fiko pun akhirnya merelakan Fiko menikah kembali. Ini lebih baik daripada Fiko bermain wanita di luar sana. Lantaran Fiko sudah memiliki banyak harta dan cukup berlebihan dalam kehidupan ekonomi nya. Untuk menghidupi dua istrinya, aku rasa sudah sangat cukup," jelas Fika panjang lebar.


"Namun dalam hal nafkah batin bagaimana?" sahut Rara dengan senyum yang mengembang. Mata Fika mendelik mendengar ucapan dan pertanyaan dari Rara.


"Maaf!" tambah Rara lagi. Fika tersenyum saja.


"Kalau nafkah batin, aku sendiri tidak masalah dan cukup terpenuhi. Bahkan mungkin sudah lebih dari cukup," jawab Fika sambil terkekeh dengan jawabannya.


"Kalau itu aku sangat yakin! Fiko masih muda dan juga sehat. Kamu pun sangat cantik dan seksi. Aku rasa Fiko akan selalu meminta kamu setiap hari jika pulang ke rumah kamu. Benarkan?" kata Rara. Fika tertawa kecil.


"Yah, begitu lah! Tapi soal nafkah batin dengan istri pertamanya aku tidak berani bertanya kepada Fiko. Itu sudah ranah dari istri pertama Fiko," kata Fika.


"Tetapi sesekali kamu tanya saja, sambil menggoda Fiko. Jangan sampai Fiko melupakan istrinya yang pertama," sahut Rara dengan tertawa.


"Tidak ah! Aku tidak akan melakukan itu!" kata Fika.


"Ternyata rumit juga yah berbagi suami itu," ujar Rara.


"Baiklah, aku harus masuk kelas dulu! Aku harus menyampaikan materi kuliah pagi ini. Oh iya Rara, nanti tolong tanyakan soal buket ini yah. Siapa yang meletakkan buket ini di mejaku dan dari siapa?" kata Fika sambil berdiri dan mengambil laptopnya. Fika harus memberikan materi kuliah pagi ini. Rara segera keluar dari ruangan itu dan seperti Fika juga akan masuk ke kelas untuk menyampaikan materi kuliah pagi ini.

__ADS_1


__ADS_2