ISTRI YANG KE DUA

ISTRI YANG KE DUA
Bab 41


__ADS_3

"Jadi, bagaimana keadaan Sasa tadi malam, mas? Dan bagaimana mas menyampaikan persoalan dengan Mbak Mariana masalah semalam," tanya Fika.


"Tidak perlu diperpanjang masalah ini sayang! Selama aku masih di sini dan terus mengawasi kamu, aku pastikan kalau Mariana tidak lagi berbuat onar dan gegabah lagi. Dia tidak akan berani lagi mencelakai dirimu karena aku sudah memegang kartu As Mariana," ucap Fiko. Fika mengerutkan dahinya.


Fika terdiam menatap jalanan di depan. Hari ini Fiko ingin mengantar Fika ke kampus untuk mengajar. Fiko tetap fokus dengan kemudinya membelah jalanan raya yang pagi ini sangat padat.


🍀🍀🍀🍀🍀


Di kamar, Sasa sudah membuka matanya. Menatap sekelilingnya. Dirinya sudah sadar saat ini berada di dalam kamarnya. Kejadian tadi malam Sasa sudah lupa. Hanya sepenggal yang Sasa ingat adalah dirinya bersama dengan Lukit, laki-laki yang membuat Sasa tertarik untuk lebih mengetahui lebih dekat.


Sasa turun dari tempat tidur nya dan mulai membersihkan badannya di kamar mandi. Sasa teringat kalau dirinya sempat berciuman dengan Lukit. Itu adalah ciuman yang pertama kali dia rasakan dan lakukan dengan seorang pria. Sasa menyentuh bibir nya yang basah lantara air shower. Saat ini Sasa berdiri mandi dibawah pancuran shower di kamar mandi.


"Kak Lukit sudah mendapatkan ciuman pertama ku," gumam Sasa sambil tersenyum mengingat wajah tampan milik Lukit.

__ADS_1


"Aku belum sempat bertanya di mana rumah tempat tinggalnya dan apa pekerjaannya. Hem, nanti aku akan menghubungi kak Lukit. Untung saja semalam aku sudah bertukar nomer WA dengan kak Lukit," gumam Sasa.


Setelah mandi, Sasa mulai mengenakan pakaian dan berdandan rapi.


"Tumben Sisi tidak sibuk membangunkan aku. Biasa dia suka ke kamarku dan menggangu aku. Kok rasanya mager banget mau berangkat ke kampus," gumam Sasa.


Sasa segera mengambil ponselnya lalu mencari nama Lukit yang sudah disimpannya.


📱📲 "Halo! Kak Lukit! Kakak di mana?" tanya Sasa.


📱📲 "Kerja apaan sih? Aku ingin ketemu dengan kak Lukit! Bisa kan kak?" rengek Sasa.


📱📲 "Mau ngapain dek? Kakak masih kerja di kafe," terang Lukit.

__ADS_1


📱📲 "Kafe? Kafe mana kak? Boleh tidak kalau aku ke kafe tempat kerja kakak?" tanya Sasa.


📱📲 "Boleh saja! Tapi kamu tidak boleh mengganggu kakak saat bekerja ya Sasa!" kata Lukit mengingatkan.


📱📲 "Tidak dong kakak! Aku hanya ingin bertemu dengan Kak Lukit sambil minum dan makan di kafe itu. Boleh kan kak?" ucap Sasa manja.


📱📲 "Boleh saja!" kata Lukit di seberang sana di mana saat ini Lukit sedang bekerja di kafe seperti dulu. Lukit tetap bekerja di sana, di kafe itu walaupun Mariana sudah memberikan banyak fasilitas dan uang. Namun Lukit tetap ingin bekerja dan rasanya sangat sayang jika meninggalkan pekerjaan di tempat itu. Terutama di sana ada Salsabila yang juga menahan Lukit untuk berhenti bekerja di kafe itu.


📱📲 "Oke, kalau begitu aku akan segera ke kafe tempat kerja kak Lukit yah," ucap Sasa.


📱📲 "Memangnya kamu tidak kuliah, Sasa?" tanya Lukit.


📱📲 "Sebenarnya ada kuliah pagi ini kak! Tapi aku sudah malas. Aku kangen dengan kak Lukit," ucap Sasa jujur. Lukit di seberang sana hanya mengerutkan dahinya lantaran terkejut mendengar kata kangen dari Sasa.

__ADS_1


📲📱"Ya sudah, kakak tunggu!" sahut Lukit akhirnya.


__ADS_2