ISTRI YANG KE DUA

ISTRI YANG KE DUA
Bab 40


__ADS_3

Fika dan Fiko sudah bersiap-siap berangkat bekerja. Fika juga ada materi perkuliahan yang hendak ia ajarkan kepada mahasiswanya. Sedangkan Fiko kembali beraktivitas di dunia bisnisnya.


Di ruang makan keduanya sedang menikmati sarapan bersama. Ibu hamil itu terlihat kurang bersemangat menikmati sarapan paginya. Fiko tentu saja memperhatikan gerak-gerik istrinya itu yang terlihat malas dalam menyantap makanan nya.


"Ada apa sayang? Mau makan yang lain?" tawar Fiko yang perhatian.


"Heem! Mau nasi kuning," jawab Fika dengan manja. Fiko tersenyum menatap istrinya yang bibirnya sedikit manyun itu.


"Ayo kalau begitu, kita mencari di luar sekarang!" ajak Fiko. Fika menyipitkan mata nya.

__ADS_1


"Hem, nanti aku beli sendiri saja di jalan. Lagi pula kita kan naik mobil sendiri-sendiri," sahut Fika.


"Kali ini biar aku yang mengantarkan kamu ke kampus, yah sayang!?" kata Fika.


"Jangan! Nanti banyak orang yang melihat. Aku gak mau masalah muncul kembali. Sedangkan kita memang belum mempublikasikan kalau kita sudah menikah," ucap Fika. Fiko mendekati istrinya lalu mengangkat kedua pundak nya. Keduanya kini berdiri dan saling berhadapan.


"Maafkan! Aku sudah sangat menyulitkan kamu, sayang! Aku janji setelah semua beres dan aku bercerai dengan Mariana kita akan membuat pesta pernikahan kita yang meriah dan besar-besaran," ucap Fiko.


"Sayang! Nanti ketika kamu lahir di dunia ini. Jaga mama kamu yah, nak! Jangan buat ibu kamu menangis seperti papa. Papa sudah bikin repot bagi mama kamu," ucap Fiko. Fika menyipitkan matanya mendengar ucapan Fiko.

__ADS_1


"Siapa bilang kamu membuat aku menangis mas? Kamu adalah laki-laki yang dari dulu aku suka dan cintai. Mana mungkin kamu membuat aku repot dan bersedih. Justru setelah kamu hadir, membuat aku semakin bersemangat dalam menjalani aktivitas hidup ini. Kamu suamiku yang selalu memberikan kebahagiaan terindah bagiku," ungkap Fika. Fiko merangkum kembali kedua pipi Fika.


"Sayang! Maaf jika terkadang aku tidak pulang ke rumah ini. Aku masih terbagi dengan anak-anak Mariana di rumah itu. Aku pikir kamu pasti bersedih ketika menunggu ku di setiap malam ketika aku tidak kembali pulang ke rumah ini," ujar Fiko. Fika melebarkan senyuman nya.


"Tidak! Justru aku bahagia kamu suami dan juga ayah yang bertanggungjawab bagi anak-anak nya. Aku akan bersedia jika kamu menjadi tidak memperhatikan mereka. Apalagi kamu tidak mau membagi nafkah batin mu kepada Mbak Mariana," ucap Fika.


"Sayang! Kalau untuk itu aku sudah tidak bisa lagi. Aku hanya milik kamu sepenuhnya. Aku tidak mau berbagi dalam cinta dan kasih. Setelah aku berjumpa dengan kamu dan kita memutuskan menikah. Aku sudah tidak menyentuh Mariana lagi," jujur Fiko.


"Tapi kenapa? Aku kasihan dengan mbak Mariana, mas! Dia juga wanita. Mbak Mariana butuh rasa nyaman dan tenang dan semua itu akan diperolehnya dari kamu, mas! Aku takut mbak Mariana menganggap akulah yang memonopoli kamu mas. Mbak Mariana menjadi sakit hati dengan aku. Akulah yang merebut kamu dari mbak Mariana," jelas Fika.

__ADS_1


"Sayang! Sudahlah! Jangan dipikirkan soal itu. Mariana sudah bahagia tanpa aku," sahut Fiko yang masih enggan menjelaskan kalau Mariana selama ini sudah memiliki partner ranjangnya.


__ADS_2