
"Ada apa dengan hidung kamu, Lukit?" tanya Mariana. Lukit mengusap darah yang keluar dari hidung nya. Mariana tentu saja sangat panik dengan berondong mudanya itu.
"Semua ini adalah perbuatan Fiko. Dialah yang memukul wajahku. Aku tidak tahu menahu ditarik oleh Sasa ke belakang rumah ini. Minuman yang tadi telah diminum oleh Sasa bereaksi. Dia mencoba mengajak aku gituan," terang Lukit dengan polosnya. Mariana menjewer telinga Lukit. Mata Mariana melebar dengan sempurna dan seakan hendak copot dari sana.
"Apa? Dan kamu sudah melakukannya dengan Sasa, putriku?" tuduh Mariana.
"Eh tidak tidak! Aku tidak mungkin melakukan itu. Aku hanya mencoba membantu Sasa karena Sasa sangat tersiksa dengan reaksi obat itu. Baru menempel bibirnya saja kok. Cius!" ucap Lukit. Mariana kini mulai panik dan teringat anak perempuan nya.
__ADS_1
"Lalu di mana Sasa?" tanya Mariana.
"Dia tadi dibawa oleh suami kamu, Fiko! Aku rasa Fiko akan membawa ke dokter," jawab Lukit. Kini Mariana dan Lukit mencari keberadaan Fika dengan teman dekatnya, Adel. Namun mereka sudah tidak berada di taman rumah itu.
"Kamu mencari madu kamu? Dia sudah pergi setelah Fiko membawa Sasa ke mobilnya. Sudahlah, kamu tenang saja! Suami kamu sudah membawa Sasa ke dokter. Tidak akan terjadi apa-apa dengan Sasa. Dia butuh obat untuk menetralisir obat yang telah diminum nya," terang Lukit. Lukit menempelkan tubuh nya ke tubuh Mariana. Mata Mariana melebar sempurna dengan kemarahan nya.
"Tante sayang! Ayolah! Ini semua gara-gara Sasa putri kamu yang tadi sudah menggoda aku. Bagaimana nasib adik kecilku di bawah sana? Dia. sedari tadi sudah memberontak dan ingin segera dituntaskan!" ucap Lukit mengiba.
__ADS_1
"Jepit kan di pintu saja!" sahut Mariana sambil melangkah meninggalkan Lukit yang masih berdiri di taman itu.
"Eh, tante! Tante, jangan pergi dong!" panggil Lukit kini dengan berani mengejar Mariana yang masuk ke dalam kamarnya. Lukit mengejar Mariana hingga masuk ke dalam kamar itu. Mariana terkejut karena aksi nekat Lukit yang sudah ketagihan dengan dirinya. Serta merta pintu kamar itupun ditutup nya dengan keras. Lukit meraih tangan Mariana dan mendorong nya dengan kasar hingga tersudut di dinding kamar. Serta merta Lukit mulai menghujani ciuman liar di bagian wajah tante Mariana.
"Lukit! Aku sedang tidak ingin! Enyah dan keluarlah dari kamar ku!" ucap Mariana dengan meronta ingin melepaskan cengkraman Lukit.
"Tante, aku mohon kali ini saja! Aku sudah diujung. Ini semuanya lantaran putri kamu yang sudah membangunkan adik kecilku. Kasihan dia!" ucap Lukit yang kini mulai menurunkan gaun malam yang dikenakan oleh Mariana. Kini terpampang sudah bagian indah dua bukit yang putih mempesona. Lukit menenggelamkan kepalanya memainkan di area kedua gunung kembar yang tentu saja lebih besar daripada milik Sasa. Mariana mulai menikmati segala perbukitan Lukit. Awalnya dalam ketidakmauan pada akhirnya pasrah dengan segala sensasi yang semakin luar biasa. Keduanya mulai berguling-guling di bawah lantai kamar itu. Lukit dengan Mariana saling bantu mengikis jarak dan melepaskan pembatas. Hingga pada akhirnya mereka sama-sama polos dengan penyatuan keringat walaupun AC di ruangan itu sudah menyala.
__ADS_1