
Fika dan Fiko tiba di rumah itu dengan kabar gembira. Setelah periksa ke rumah sakit di dokter spesialis kandungan, Fika dinyatakan telah mengandung dan kehamilannya berusia dua bulan. Betapa kabar ini membuat Fiko dan juga kedua orang tua Fika sangat bahagia. Fiko semakin perhatikan dengan Fika. Seperti malam ini tiba-tiba Fika menginginkan mie kuah yang super pedes tapi harus Fiko sendiri yang membuatnya.
Fiko terlihat sudah sibuk di dapur. Sedangkan Fika sendiri duduk menyaksikan suaminya heboh memasak mie kuah yang ia inginkan. Sedangkan pak Taufik dan juga bu Salamah yang melihat kehebohan pasangan suami istri itu hanya menahan tawanya di ruang tengah.
"Kamu lihat, bu! Anak kita saat ini sedang mengerjai suaminya. Ini benar-benar keterlaluan. Masak malam-malam begini minta mie kuah yang super pedes tapi harus Fiko sendiri yang memasakkan nya. Padahal kamu tahu sendiri kan, Fiko anak orang kaya. Mana mungkin bisa masak, yah kan bu?" ucap Pak Taufik sambil cekikikan menatap dari kejauhan kehebohan Fiko yang saat ini sedang sibuk memasakkan mie kuah untuk istri kesayangannya.
Dapur yang awalnya rapi, kini berubah seperti kapal pecah. Dapur rumah mereka menjadi berantakan karena kerjaan Fiko.
"Sayang, apa sudah jadi mie kuah nya?" tanya Fika dengan manja. Fiko masih sibuk di depan kompor nya.
"Sebentar lagi yah, sayang! Aku pastikan kalau mie kuah buatan suami mu ini lezat bahkan mengalahkan koki ternama di dunia," sahut Fiko. Fika tersenyum sambil menjulurkan lidahnya ke arah suaminya.
"Oke deh, aku tunggu! Tapi jangan lupa yang super pedes loh sayang! Sayur-sayuran nya jangan terlalu lembek, setengah mateng saja!" ucap Fika.
Tiba-tiba Fika menjadi sangat bawel. Fiko menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. Dia harus sabar mengahadapi istrinya. Fika saat ini sedang hamil dan pasti akan banyak maunya. Sesuai nasihat dokter, suami harus ekstra sabar menghadapi istrinya yang saat ini sedang hamil. Emosi ibu hamil kadang bisa berubah sewaktu-waktu. Kadang sangat baper dalam setiap hal, tiba-tiba sedih, tiba-tiba gembira, tiba-tiba ceria, tiba-tiba murung.
Fiko kini sudah menumis bumbu-bumbu untuk mie kuahnya. Setelah nya beberapa sayuran yang akan dimasak bersama dengan mie, lalu dimasukkan nya. Sayuran itu layu baru, Fiko memberikan air beberapa gelas. Hingga mendidih baru mie nya di masukan.
__ADS_1
"Nah, sebentar lagi siap sayang!" ucap Fiko dengan percaya dirinya. Fika melihat hasil sementara masakan Fiko yang masing di wajan. Fika menyipitkan matanya melihat hasil masakan sementara dari tangan Fiko.
"Sayang, mana telornya? Kok belum di masuk kan sih?" tanya Fika. Fiko menepuk jidat nya sendiri.
"Haduh, lupa deh! Baiklah, bagaimana kalau telornya aku ceplok sendiri yah, sayang!" ucap Fiko berusaha merayu Fika supaya tidak menyuruhnya mengulang memasak dari awal lagi.
"Enggak mau! Pokoknya telor dengan cabe rawit nya di jadikan satu dalam mie kuah itu, mas!" sahut Fika. Fiko menarik nafasnya dalam-dalam dan mencoba sabar.
Dari kejauhan Pak Taufik dan Bu Salamah mendengar kehebohan Fika dan Fiko di dapur. Kedua nya kembali cekikikan melihat Fiko dikerjain oleh Fika yang sedang ngidam itu.
"Lihat anak kamu! Untung saja, Fiko adalah suami yang sabar dan sangat menyayangi Fika. Kalau tidak? Waduh, gak tahu lah apa jadinya kalau keadaan ngidam nya Fika seperti ini," ucap Pak Taufik.
"Sayang, ini sudah aku bikinkan telor dadar super pedes. Nanti di makan bersama mie kuahnya yah, sayang! Kamu tahu kan, sayang! Nanti kalau sudah masuk ke dalam perut ini, semua nya akan bersatu dan bercampur. Yang awalnya mie kuahnya tadi belum diberi telor, dengan memakan telor ini, nanti akan bersatu dan bercampur," ucap Fiko berusaha membujuk Fika supaya tidak cemberut. Fika tiba-tiba tertawa cekikikan. Fiko yang melihat istrinya kembali tertawa, dia ikut lega dan menarik nafasnya lega.
"Nah, gitu dong! Sekarang ayo dicicipi mie kuah buatan suami kamu ini, sayang! Istriku yang cantik sendiri sedunia," kata Fiko penuh rayuan.
"Ayah! Bunda! Mau mie kuah buatan mas Fiko tidak!" teriak Fika. Bu Salamah dan juga Pak Taufik saling pandang lalu tersenyum.
__ADS_1
"Buat kamu semuanya saja, nak!" sahut Pak Taufik. Fika mulai memakan mie kuah buatan suami tercinta nya. Namun baru beberapa sendok akhirnya Fika menyudahi makan mie kuah buatan Fiko tersebut.
"Sudah kenyang, mas! Kamu saja yang habiskan!" ucap Fika sambil menyodorkan mangkok yang masih berisi banyak mie kuah itu. Fiko mengerucut bibir nya.
"Tidak enak yah?" sahut nya lalu mulai memakan mie kuah buatan nya sendiri.
"Hem, enak kok! Ayo dimakan lagi dong sayang!" kata Fiko. Fika menggeleng cepat.
"Sudah kenyang mas!" sahut Fika. Akhirnya mie kuah itu dihabiskan sendiri oleh Fiko. Fika yang melihat suami nya sangat lahap memakan mie kuah di mangkok tersebut tersenyum senang.
"Mas Fiko hebat! Mie kuah nya benar-benar sangat enak!" puji Fika. Fiko tersenyum kecil.
"Kamu bilang enak, tapi makan mie kuah nya hanya tiga sendok saja," sahut Fiko dengan cemberut.
"Maaf, sayang! Sudah kenyang soalnya," alasan Fika.
"Pokoknya setelah ini, aku mau minta bayaran," bisik Fiko. Fika mengerutkan dahinya. Fiko tersenyum melihat ekspresi Fika yang kini berubah cemberut.
__ADS_1
"Tiba-tiba jadi mengantuk yah, mas!"sahut Fika sambil menguap. Fika tahu kalau Fiko akan mengunjungi adik bayi yang masih berada di dalam perut nya. Makanya, Fiko bilang ingin minta bayaran kepada nya malam ini sebelum tidur. Fika segera naik ke atas dan menaiki tangga menuju kamar utama. Di susul Fiko yang tidak akan membiarkan istrinya berjalan sendiri menaiki anak tangga menuju ke kamar utama mereka.
Fiko mulai mematikan lampu kamarnya setelah masuk ke kamarnya. Di saat bersamaan segera mengeksekusi Fika yang kini sudah di atas tempat tidur nya, Pura-pura tidur dan memejamkan matanya. Selanjutnya kini keduanya mulai melaksanakan penyatuan dan mengikis jarak di malam yang semakin diujung waktu.