ISTRI YANG KE DUA

ISTRI YANG KE DUA
Bab 43


__ADS_3

"Baiklah! Kalau begitu aku akan mengantarkan Sasa pulang ke rumah. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Sasa. Dia masih remaja dan polos," ucap Lukit kepada Salsabila.


"Ayo Sasa! Aku akan mengantarkan kamu pulang ke rumah," ajak Lukit sambil menarik tangan Sasa keluar dari kafe itu.


"Kak Lukit! Aku malas pulang! Aku mau di sini saja kak," protes Sasa yang sebenarnya enggan diantar pulang ke rumah nya.


"Sasa, di kafe itu tidak cocok bagi anak seumuran kamu," ucap Lukit masih memaksa Sasa untuk pulang. Dengan cemberut akhirnya Sasa membonceng motor Lukit. Lukit memberikan helm kepada Sasa. Sasa tanpa protes lagi menerimanya dan menuruti Lukit untuk kembali ke rumah.


"Seharusnya kamu kuliah bukan? Kenapa kamu malas sekali kuliah sih? Mau jadi apa negeri ini kalau orang-orang nya seperti kamu malas belajar," kata Lukit. Sasa yang berada di boncengan hanya menjulurkan lidahnya karena Lukit ngomel-ngomel saja.


"Kak Lukit lama kelamaan seperti mama ku yang suka ngomel saja," sahut Sasa. Lukit diam dan akhirnya fokus mengendarai motor nya.

__ADS_1


Sasa memeluk pinggang Lukit dengan erat saat di boncengan itu. Lukit hanya bisa tersenyum saja mendapati anak kecil yang merupakan putri dari pacarnya menjadi nempel dengan dirinya.


🍀🍀🍀🍀🍀


Motor itu berhenti di lampu merah. Sasa masih saja menempel di belakang Lukit dan memeluknya erat. Namun tiba-tiba saja Sasa sedikit merenggangkan boncengan nya ketika melihat mobil papa nya juga berhenti di lampu merah tersebut. Sasa tentu saja hapal dengan plat nomor mobil itu. Sasa berusaha menyapa papa nya namun kaca mobilnya masih tertutup. Namun tiba-tiba saja kaca jendela mobil di sebelah kemudi terbuka. Betapa terkejut nya Sasa saat melihat ada seorang wanita dewasa yang wajahnya sudah pernah tidak asing lagi dan wanita itu sudah dikenal oleh Sasa.


"Tante Fika! Kenapa tante Fika bersama dengan papa dan mereka satu mobil di sana," ucap Sasa. Lukit menengok ke arah mobil yang ditunjuk oleh Sasa.


"Tante Fika? Dosen cantik itu?" sahut Lukit yang membuat Sasa menyipitkan matanya.


"Iya cantikan kamu Sasa!" sahut Lukit meralat ucapan nya. Sasa hanya nyengir kuda.

__ADS_1


"Kak Lukit! Kita ikuti mobil papa yah! Aku ingin tahu kenapa papa bersama tante Fika bahkan mereka satu mobil dan terlihat sangat dekat sekali," ajak Sasa. Lukit hanya diam dan tidak ingin menuruti kemauan Sasa.


"Tidak bisa, Sasa! Aku harus cepat mengantarkan kamu ke rumah dan aku harus segera balik ke kafe itu untuk bekerja kembali. Oke?" ucap Lukit menolak keinginan Sasa yang keingintahuan nya sudah besar karena melihat papanya Fika saat ini bersama dengan tante Fika.


"Ah tidak asyik banget kamu kak Lukit!" umpat Sasa sambil melingkarkan kembali ke pinggang Lukit untuk berpegangan di boncengan nya.


Saat lampu hijau sudah menyala mobil Papa Sasa itu sudah melaju dengan kencang. Demikian juga dengan motor Lukit yang saat ini memboncengkan Sasa untuk diantar kembali ke rumahnya.


"Sebenarnya ada hubungan apa antara papaku dengan tante Fika yah? Aku sangat penasaran soal ini. Mereka sangat dekat, kak Lukit," kata Sasa yang masih di belakang di bonceng Lukit.


"Mungkin saja ada hubungan kerja sama dalam urusan bisnis. Kamu jangan menyampaikan masalah ini kepada mama kamu," kata Lukit akhirnya.

__ADS_1


"Tidak bisa dong kak! Mama harus mengetahui masalah ini. Siapa tahu papa diam-diam memiliki seorang selingkuhan atau wanita itu adalah pelakor atau perebut laki orang yang saat ini lagi marak terjadi," kata Sasa. Lukit hanya diam sambil tersenyum lebar.


"Pebinor atau perebut bini orang juga sedang merambah sekarang ini," sahut Lukit akhirnya.


__ADS_2