
Mariana sudah di kediamannya. Di rumahnya saat ini telah berkumpul ketiga anaknya. Sisi dan Sasa duduk di ruang makan bersama kakaknya Dafa. Anak pertama Mariana bernama Dafa, saat ini duduk di bangku kuliah semester akhir. Sedangkan Sisi dan Sasa baru masuk kuliah semester awal. Sewaktu menikah dengan Fiko, Mariana berumur dua puluh tahun. Umur yang cukup belia untuk melepaskan masa lajangnya. Sedangkan saat ini Mariana berumur empat puluh tiga tahun.
Dafa, Sisi dan Sasa sedang menikmati makan siang bersama. Kebetulan saat ini mereka bisa berkumpul di rumah. Mariana pun juga demikian.
"Sasa, Sisi Ayo makan yang banyak sayang! Jangan diet-diet segala," ucap Mariana yang penuh perhatian selayaknya seorang ibu muda yang menyayangi Anak-anak nya yang kini menginjak usia dewasa.
"Mama! Kalau kami gendut, kita kagak dilirik oleh cowok keren dan tajir dong ma! Sekarang ini cowok tampan dan juga kaya tentu saja melihat kecantikan dan penampilan dulu," protes Sasa. Sisi menjulurkan lidahnya saja. Sedangkan Dafa memonyongkan bibirnya saat adik-adiknya membahas soal pacar.
"Ma! Sasa itu di kampus lagi ngincer anak kampus yang diidolakan gadis-gadis di sana," adu Sisi. Sasa memonyongkan bibirnya saat Sisi mengadukan hal tersebut kepada mama nya. Mariana menyipitkan matanya melihat Sasa dan Sisi secara bergantian.
"Halah daripada kamu Sisi! Kamu dengan terang terangan malah nembak cowok satu angkatan. Padahal cowok itu tidak kaya dan tajir melintir. Apa yang disukai cowok macam itu," adu Sasa. Sisi kini terlihat manyun bibirnya mendengar Sasa mengadukan hal itu kepada mama dan juga kakaknya Dafa ikut mendengar nya.
"Hai! Kamu anak kecil sudah mau pacaran. Kakak saja belum satupun dapat pacar," sahut Dafa sambil meminum jus mangga nya.
"Apa? Kak Dafa bukannya saat ini sudah berpacaran dengan mbak Rita? Kemarin kami berdua ketemu kak Dafa menggandeng mbak Rita di pusat perbelanjaan di kota. Pasti mau nonton di studio XXI yah?" kata Sasa. Dafa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mariana kini melihat Anak-anak nya silih berganti.
"Kalian boleh saja berpacaran! Namun harus tahu batasan kalian sayang! Jangan melakukan sesuatu yang belum harus kalian lakukan. Kalian harus ingat, masa depan kalian masih panjang. Jika terjadi sesuatu di luar nikah itu akan berbahaya. Apakah kalian mau menikah muda dan mengurus anak sedangkan kalian masih ingin bersenang-senang," kata Mariana.
__ADS_1
"Teman aku sudah melakukan hubungan seperti itu, ma! Dia makai pengaman jika melakukan itu dengan pacar nya," ucap Sisi vulgar. Sasa dan Dafa menepuk jidatnya sendiri mendengar ucapan Sisi yang polos tanpa malu menyampaikan semuanya pada mama.
"Hai, kalian jangan sekali-kali melakukan perbuatan seperti itu yah, sayang! Dan kamu Dafa! Kamu walaupun sudah dewasa namun kamu belum boleh melaksanakan perbuatan seperti itu diluar nikah. Kalau setelah lulus wisuda kamu ingin menikah dan sudah kebelet ingin menikah dengan kekasih kamu itu, sampaikan kepada mama papa. Dan kamu Sisi dan Sasa, jangan berpacaran melebihi batasan. Kalian boleh pacaran tapi hanya saling mengenal saja. Jangan untuk melakukan perbuatan seperti itu yah, sayang!" ucap Mariana panjang lebar.
Sisi, Sasa dan Dafa menyimak ucapan Mariana.
"Baik, mama!" sahut Sisi, Sasa dan Dafa serentak.
"Jika kalian sudah tidak tahan dan mau menikah muda, sampai kan kepada mama papa juga. Awas saja kalau mama papa mendengar kalau kalian melakukan perbuatan yang belum boleh kalian lakukan sebelum menikah," kata Mariana serius. Bila mata Mariana membulat sempurna ketika mengatakan nasihat kepada anak-anak nya.
"Oh iya, ma! Apakah papa malam nanti akan pulang?" tanya Dafa.
"Em, belum tahu! Papa terkadang tiba-tiba ada urusan bisnis di luar kota," sahut Mariana menutupi kalau papa nya, Fiko memiliki istri kedua.
"Hati-hati loh, ma! Selalu waspada dengan pelakor! Takutnya papa diluar sana ada wanita idaman lain. Nanti kalau ada wanita lain selain mama, keluarga kita akan kacau dan mama pasti akan sakit. Indikasi nya kalau papa jarang pulang, itu artinya papa bisa jadi memiliki kekasih atau wanita simpanan di luar sana," ucap Dafa tanpa filter. Sisi dan Sasa menatap kakaknya dengan mata membulat.
"Kakak! Apakah kakak ini ngomong nya tidak pakai otak? Kalau kakak bicara seperti itu, ini akan membuat mama menjadi mencurigai papa," sahut Sisi.
__ADS_1
"Sudah! Sudah! Weekend nanti kita kumpul di sini semuanya yah! Mama akan buat pesta barbeque an dan sekaligus merayakan ulah tahun papa," kata Mariana.
"Oh benar! Sabtu papa ulang tahun! Aku mau kasih hadiah jam tangan ah!" sahut Sasa.
"Aku mau kasih papa, topi saja!" sahut Sisi.
"Aku mau belikan celana jeans untuk papa saja, supaya papa lebih keren dan tambah muda," kata Difa.
"Mama mau kasih hadiah papa apa ma?" tanya Sisi.
"Em, mama kasih apaan yah? Kue ulang tahun saja deh!" sahut Mariana.
"Mama! Itu bukan hadiah ma!" sahut Sasa.
"Ya sudah! Mama kasih parfum saja untuk papa," kata Mariana akhirnya.
"Hadiah untuk Fiko, aku akan kasih dia sesuatu yang mengejutkan. Aku akan tunjukkan kalau Fika adalah wanita yang tidak layak untuk menjadi istri nya," batin Mariana sambil tersenyum.
__ADS_1