ISTRI YANG KE DUA

ISTRI YANG KE DUA
BAB 49


__ADS_3

SATU TAHUN KEMUDIAN.


Setelah resmi bercerai dengan Mariana istri pertama nya, Fiko akhirnya berani mengumumkan bahwa dirinya sudah menikah bersama Fika. Bahkan saat ini pernikahannya dengan Fika dianugerahi seorang putra. Betapa kebahagiaan itu telah lengkap sudah. Cinta pertama mereka yang dimulai sejak di bangku sekolah menengah pertama itu akhirnya berlanjut dan mereka berjodoh.


Fika sekarang menjadi satu-satunya wanita yang mendampingi hidup Fiko. Fika pun sudah diterima baik di keluarga besar Fiko. Apalagi pernikahan antara Fiko dengan Fika dianugerahi seorang putra yang akan menjadi penerus keturunan keluarga Fiko. Perusahaan milik Fiko pun semakin hari semakin berjaya dan memiliki anak cabang di luar kota. Sehingga semakin hari Fiko semakin sibuk mengurus bisnisnya. Namun saat ini Fiko menyampaikan waktu nya untuk bisa bersama istrinya, Fika.


Sengaja Fiko mengajak Fika ke puncak untuk menikmati udara sejuk dan dingin di sana. Putra nya pun ikut serta. Di bantu dengan baby sitter nya, Fika tidak kerepotan membawa buah hatinya. Seperti sekarang, setelah memastikan putra nya tertidur, Fika kembali ke kamar nya. Di sana duduk menunggu Fiko yang masih terlihat fokus dengan laptop nya.


"Katanya liburan, tapi tetap saja bekerja," ucap Fika seraya melingkarkan tangannya ke leher Fiko namun dari arah belakang. Fiko segera menutup laptop nya.


"Maaf, sayang! Tadi ada email masuk! Aku harus segera melihat nya," ucap Fiko sambil mendudukkan Fika di atas pangkuannya.


"Kamu sudah siap sayang?" tanya Fiko. Fika mengejutkan dahinya.


"Siap apaan sih, mas?" tanya Fika.


"Siap kasih adik buat Yayang!" jawab Fiko.


"Yayang saja masih kecil, masa sudah harus ada adiknya sih?" protes Fika.

__ADS_1


"Tidak apa-apa dong, sayang!" ucap Fiko. Tanpa banyak bicara lagi, Fiko segera menggiring Fika di atas peraduan. Fika hanya pasrah dengan semua yang dilakukan Fiko.


"Aku mencintai kamu, Fika!" ucap Fiko.


"Aku juga, mas!" sahut Fika.


"Semoga kita selalu bersama sampai nenek dan kakek. Aku ingin menyaksikan anak-anak kita tumbuh dewasa dan menikah," ucap Fiko.


"Aku bahagia, mas! Bahagia menjadi istri kamu," kata Fika.


"Demikian juga aku, sayang!" sahut Fiko.


"Aku ingin menulisnya, mas!" kata Fiko. Fika mengerutkan dahinya.


"Benarkah? Aku akan mendukung kamu kalau kamu akan menuliskan nya dalam bentuk novel Romansa. Aku punya kenalan seorang produser film dan sutradara film. Kalau kamu mau, cerita kita dari awal bertemu sewaktu sekolah sampai akhirnya kita bertemu lagi, bisa diangkat menjadi sebuah film," kata Fiko.


"Mas, kamu serius?" sahut Fika.


"Serius dong! Kisah kita ini tidak kalah hebohnya dan penuh lika-liku nya juga loh," kata Fiko.

__ADS_1


"Tapi aku akan buat karya novel dulu, mas!" ucap Fika.


"Kamu jangan capek-capek dong sayang! Nanti waktu kamu jadi habis gara-gara bikin novel saja. Lagi pula, kamu seharian juga sudah mengajar di kampus dan sibuk dengan mahasiswa anak didik kamu," ucap Fiko.


"Tidak, mas! Aku tetap bisa bagi waktu untuk kamu, mas! Karena aku juga butuh kamu!" kata Fika.


"Hehehe, betul? Kalau begitu ayo kita mulai!" ucap Fiko. Fika mengerutkan dahinya mendengar kata-kata Fiko.


Tanpa banyak bicara akhir dari percakapan keduanya adalah kegiatan malam di atas peraduan dengan menghasilkan suara yang saling bersahutan.


TAMAT


T


A


M


A

__ADS_1


T


__ADS_2