Istriku, Asisten Pribadiku

Istriku, Asisten Pribadiku
Episode 11


__ADS_3

Didepan gedung, Luna memakirkan motor kesayangannya dengan tergesa gesa, dan berlari menuju lift, di dalam lift Luna berpapasan dengan Rama. Luna nampak risih dengan tatapan genit pria didepannya itu, mengingat dia juga sudah 2 kali mempermainkannya.


"Eh, kamu. Ketemu lagi kita."


Menyapa dengan sapaan yang membuat bulukuduk Luna seketika merinding.


"Hemm"


Luna menjawabnya singkat karena ia malas meladeni pria di sampingnya itu. Luna memencet lift dan pintu lift pun ditutup, terjadi keheningan di dalam lift yang berisikan 2 orang itu. Luna memainkan ponselnya untuk menghilangkan kecanggungan dirinya.


"Diem diem bae, ngomong kek." Rama berbicara tanpa melihat Luna sambil melirik ponsel Luna penasaran.


Luna yang merasa dirinya diintip langsung menjauhkan ponselnya. "Apaan sih." Kesal dengan tindakan laki laki yang kepo dengannya itu.


"Tadi sarapan apa sih kok cuek gitu, jangan gitu dong kamu tambah terlihat cantik tau." Luna tidak menggubris perkataan orang yang sedang cengegesan yang terus merapat padanya itu.


Apaan sih basa basi nya basi banget.


Seketika pintu lift terbuka dan Luna tanpa menunggu lama meninggalkan Rama dengan langkah cepat. "Heii, tunggu!!." Rama meneriaki Luna namun gadis itu tidak menggubrisnya dan tetap melangkahkan kakinya lebar lebar menjauh dari pandangan Rama.


Rama yang melihat Luna menghindarinya tidak mengejar pergerakan Luna, ia membiarkan Luna meninggalkannya.


"Tunggu saja kau!." Batin Rama seolah olah ingin merencanakan sesuatu terhadap Luna.


Sesampainya diruangan Ran, Luna mengedarkan pandangannya mencari keberadaannya, Luna memastikan bahwa kedatangannya harus lebih cepat dibanding Tuannya itu.


Dari luar Luna melihat staf wanita dengan membawa baju ganti dari salah satu artis yang akan shooting hari ini, Luna berniat memastikan bahwa Tuannya itu belum datang.


"Ehm permisi mbak, apa Tuan Ran sudah datang ya?." Luna bertanya dengan sopan dengan senyuman yang manis yang membuat semua orang senang melihatnya.


"Kakak asisten baru Tuan Ran ya ?." Staff wanita itu bertanya balik.


"Iya mbak"


Yatuhan asisten baru Tuan Ran cantik sekali, pantes Ruan Ran memilihnya daripada si Vera.


"Halo." Luna melambaikan tangannya didepan wajah wanita itu yang sedang bengong menatap wajahnya.


Ni orang kenapa sih, malah bengong begitu, mana balik nanyak lagi.


"Eh iya kak Tuan Ran tadi sudah datang namun saya lihat beliau barusan ke ruang casting." Staff wanita itu gelagapan menjawab Luna yang mengagetkannya karena dia terlalu kagum dengan kecantikan Luna.

__ADS_1


Mati aku ,ternyata dia sudah datang. Lagian inikan masih pagi juga, di peraturan itu tertulis kalau dia biasa datang ke kantor jam 08.00 pagi, tapi inikan masih jam 07.15.


"Kalau boleh tau, ruangan castingnya dimana ya mbak."


"Kakak lurus aja nanti kakak lihat ke sebelah kiri, ketemu lorong kakak masuk aja, ruang casting ada di ruang nomor 306." Staff wanita itu menjawab dengan mengangkat tangannya memberi instruksi namun tatapannya masih menatap lekat wajah Luna.


Luna yang mendengar kata lorong justru teringat pada Rama yang sudah mempermainkannya, mengingatkan dengan apa yang tidak sengaja diliatnya di ruang ganti karyawan pria.


"Kau tidak membohongiku kan?."


Staff wanita itu menggeleng cepat dan kebingungan.


Kenapa dia bisa berfikir bahwa aku membohonginya.


"Baiklah, makasih ya." Luna menepuk bahu staff wanita itu dan segera berlari menuju ruang casting.


Luna menuju lorong yang sudah diberitahu staff wanita tadi, kemudian Luna menunjuk satu satu pintu yang berjejer di dalam lorong itu, dan Luna menemukan pintu dengan papan nama kecil bertuliskan, " ruang casting 306".


"Oh benar ini ruangannya, ternyata mbak mbak tadi tidak mengerjaiku hihi." Luna membuka handle pintu dan segera mengedarkan pandangannya, Luna menemukan Ran sedang berbicara kepada seorang sutradara yang ada diruangan itu. Tanpa basa basi Luna segera berlari kecil menghampiri Ran.


"Selamat pagi Tuan." Luna menundukkan kepalanya sopan begitu juga kepada sutradara disamping Ran.


Ran yang tersadar akan kehadiran Luna disampingnya seketika melirik sekilas dan melanjutkan obrolan seriusnya dengan sutradara.


"jam berapa ini?." Ran melihat Luna dengan tatapan mengintimidasi.


Mendengar suara Ran, Luna juga sigap mengambil ponsel disakunya dan dengan santainya melihat jam yang tertera di layar beranda ponselnya. "Ehm jam 07.30 Tuan." Jawab Luna enteng karena dirinya merasa datang sesuai yang ada diperaturan yang sudah diberikan.


"Lelet".


Singkat ,padat dan juga menusuk.


Luna kaget dengan ucapan Ran yang seenaknya mengatainya lelet.


Apa?! dia bilang aku apa? lelet?! Hei Tuan galak! anda saja yang datangnya kecepetan!.


"Kenapa Tuan?, kan saya datang sesuai jadwal yang ada diperaturan itu." Luna mencoba membela diri dengan fakta yang ada.


"Kenapa kau tidak berusaha lebih pagi, karena di peraturan tertulis jam segitu apa kau juga datang jam itu juga?, tidak ada inisiatif lebih pagi?."


Ini kenapa sih? kenapa jadi serba salah begini, kau juga tidak konsisten terhadap peraturanmu.

__ADS_1


"Sebenarnya saya juga sudah datang sebelum jadwal saya, dan saya lihat diruangan anda tidak ada anda jadi saya fikir anda belum datang, tapi waktu saya tanya pada staff wanita ternyata anda sudah datang, hehe." di akhir Luna menunjukkan senyum lebar yang dipikirnya bisa membuat Ran luluh agar tidak memarahinya.


"Ah sudahlah, besok besok kau harus datang sebelum aku datang, gamau tau" Ran meninggalkan Luna yang masih cengegesan.


Sabar Luna, tetap tersenyum itu kuncinya.


Luna mengikuti Ran yang sedang menuju kursi, yang didepannya berjuntai sebuah background warna hijau untuk shooting sebuah MV. Ran menyuruh Luna untuk mengambilkan minum dengan lambaian tangannya, Luna yang langsung mengerti langsung menuju lemari pendingin yang ada di pojok ruangan itu.


"Ini tuan airnya." Ran melirik tangan Luna yang memegang sebotol air mineral dingin, ia menghembuskan kasar nafasnya melihat itu.


"Aku tidak suka minuman dingin, kau tidak membaca peraturanku ya!." Ran mendengus kesal.


"Maaf tuan, saya akan mengambil yang tidak dingin." Luna cepat melangkahkan kakinya namun ditahan oleh Ran.


"Tunggu!, buatkan aku kopi saja."


"Kopi apa tuan?". Ran melirikuna dengan tatapan yang mengintimidasi.


Apalagi sih ini aku kan cuma nanyak, daripada nanti sudah terlanjur kubuatkan, tapi dimuntahkan gimana, jadi salah lagikan.


"Kopi luwak hitam, gulanya satu seperempat sendok, awas kalau kemanisan!." Ran berbicara tanpa melihat Luna, membuat Luna memonyongkan bibirnya karena kesal.


"Dan botol air itu taruh didepan meja sini." sambil menunjuk meja disampingnya.


"Aku akan meminumnya dulu sambil menunggu kopiku."


Lah gimana sih, tadi katanya gasuka minuman dingin, tapi mau meminumnya?, ah sudahlah stress lama lama aku memikirkan laki laki gila ini. Makiannya dalam hati.


"Baik tuan."


Luna segera menuju pantry yang tidak jauh dari lorong itu, Luna pun segera mencari mesin kopi dan sendok takar.


"Ini dia kopi luwaknya, ahh pantas saja dia nyebelin, orang sukanya sama kotoran luwak bhahaha."


Luna tertawa sendiri dengan perkataannya.


Ditengah Luna menunggu kopinya di mesin kopi, ia mencari sendok takar di dalam rak sendok namun tak juga menemukannya. Tiba tiba seseorang dari belakang menepuk bahu Luna.


"Kau mencari ini?." Ucap seorang wanita sambil mengangkat sebuah sendok takar yang Luna cari sedari tadi, wanita itu memakai setelan jas dengan merk ternama berwarna abu abu, berkalungkan sebuah idcard agency rawn entertaiment yang disitu tertulis nama Nia, Tim Kreatif.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like,komen dan vote yah, biar semangat terus buat up nihh!!🤗


__ADS_2