Istriku, Asisten Pribadiku

Istriku, Asisten Pribadiku
Episode 26


__ADS_3

Ditengah tidur nya, Luna setengah sadar membuka matanya, ia merasa badannya sangat berat seperti ditimpa sesuatu, namun bukannya melihat apa benda yang menindihnya itu, justru Luna membiarkannya karena ia merasa sangat hangat dan nyaman seperti dipeluk seseorang. Dan Luna kembali memejamkan matanya dan melanjutkan mimpinya.


Tak terasa terik sang mentari mulai menampakkan cahaya terangnya, sinar yang menembus jendela mobil camping member membuat penghuninya menyipitkan matanya, dan mulai terbangun.


Sedangkan di dalam tenda, suhu yang sangat dingin sebelumnya kini sudah kembali normal dan hangat. Para tim yang berjaga sampai tengah malam kini bergantian dengan tim yang sebelumnya sudah beristirahat di tenda untuk tidur.


Satu persatu para penguni mobil camp dan tenda mulai menjalankan aktivitas paginya, ada yang meregangkan otot ototnya karena pegal tidur berdempetan, ada juga yang disiplin, bangun tidur langsung membereskan tempat tidurnya dan langsung sikat gigi.


Sedangkan penghuni mobil Van belum menampakkan diri.


"Ahhhh, nyenyak sekali aku tidur." Ucapnya sambil meregangkan tangannya, namun masih dengan keadaan tiduran.


Eh, kok kakiku seperti menindihi sesuatu ya?....


Luna menoleh kearah kakinya karena merasa dibawahnya bukan seperti tekstur tempat tidurnya.


"Haaa!! Tuan!." Betapa terkejutnya ia ketika melihat kakinya sedang menimpai bagian dada atas Ran yang masih terlelap.


Kenapa dia ada disini!!, dia semalam tidur denganku?!.


Menutup mulutnya tak percaya, dan pelan pelan memindahkan kakinya, yang posisi nya saat itu seperti huruf T, dimana badan Ran lurus dan Luna menyamping, sampai sampai kakinya hampir mengenai muka Tuannya itu.


Mati aku! untung kakiku tidak sampai ke mukanya.


"Lagian kenapa tidur disini sih, kenapa tidak tidur di tenda saja." Gumamnya lirih, sambil merangkak pergi dari tempat tidur itu.


..


Disaat malam hari sebelumnya.


"Tuan, anda tidak tidur?." Tanya Zeka yang kebetulan melihat Tuannya mondar mandir seperti setrika di depan tenda tim.


"Ah, aku memang mau tidur, hanya saja aku bingung, ukuran ranjang lipat di tenda tim lebih pendek dari panjang tubuhku, kalau sampai kakiku di pegangi hantu bagaimana?." Ujarnya sambil menunjuk kedalam tenda.


"Buahahahaha, kenapa Tuan sampai berfikir seperti itu, disini tidak ada hantu Tuan." Jawabnya enteng sambil melambaikan tangannya, Zeka merasa Tuannya malam ini benar benar aneh.


Ran merasa malu sendiri menyadari ucapannya yang aneh itu, wajahnya nampak pias, ia hanya ragu untuk tidur di tenda tim, karena ukuran ranjangnya yang kecil dan lebih pendek dari tubuhnya itu, ia merasa tak yakin bisa terlelap disitu.


"Bagaimana Tuan tidur sama saya saja?."


Zeka menawarkan Ran untuk tidur dengannya.


"Kau tidur dimana?." Sambil mengangkat alisnya.


Zeka menunjuk kearah pohon besar di belakang tenda tim.


Ran melotot tak percaya. "Kau tidur dibawah pohon?." Tanya nya sambil menunjuk pohon yang berukuran besar, tinggi, dan lebat itu.


Zeka menganggukkan kepalanya cepat.


"Kau tidak takut diculik wewe gombel disitu?." Sambil merinding sendiri merapatkan lengannya.


"Buahahahaha." Lagi lagi Zeka tak kuasa menahan tawanya mendengar ucapan pimpinannya itu.


"Ngapain takut Tuan, mana mungkin di Hawaii ada wewe gombel, kalau gembel mungkin ada, hahahaha." Ujarnya sambil terpingkal pingkal.


Kenapa dia malah tertawa begitu, tengah malam gini lagi, jangan jangan dia kesurupan.


"Kau saja kalau begitu, aku tidur di tenda saja." Ucapnya cepat sambil lari kedalam tenda.


Manusia aneh, padahal pohon besar seperti itu kata mama bisa jadi sarang genderuwo, kenapa dia malah ingin tidur dibawahnya, dasar tidak waras.


Ia tak berhenti bergumam dalan hatinya, mengingat kelakuan Zeka yang begitu berani tidur dibawah pohon besar yang terlihat horor itu.


Ran merebahkan tubuhnya perlahan ke ranjang sempit itu, dibandingkan tempat tidurnya yang di mobil Van tentu tidak sebanding, bahkan ukuran kasur di mobilnya itu 3 kali ukuran ranjang lipat ini.


Ran memejamkan matanya pelan.

__ADS_1


*Plakkk


Plakkk*


Ran tak henti henti nya menampar pipinya sendiri karena gigitan dan suara nyamuk yang tiada henti.


Ran pun duduk dari tidurnya.


Sialan!, kenapa jadi banyak nyamuk begini?, aku tidak pilihan lain!.


Ran beranjak dari ranjang itu dan keluar dari tenda menuju mobil Van, ia pelan pelan merebahkan tubuhnya disamping Luna, dan sedikit menggeser tubuh kecil Luna.


Enak sekali kau, aku yang membersihkan ini sendiri malah kau yang menikmatinya, sedangkan aku sampai bentol bentol gara gara digigit nyamuk.


Posisi Ran membelakangi Luna, dan ia mulai memejamkan matanya. Tak lama ia memejamkan matanya, badannya ditendang oleh Luna yang masih dengan santainya bergumam lirih.


"Hoammn ck ck."


Ran menoleh kebelakang, Melihat Luna yang hanya sedikit bergumam dan matanya masih terpejam.


Huhh!, tingkahnya seperti main bola saja, bisa bisa badanku remuk ditendangnya.


Ran pun akhirnya terlelap dan mereka tidur berdua didalam mobil Van itu.


..


Luna pun turun dari mobil itu, Luna berjalan sedikit pincang karena jempol kakinya masih terasa nyeri akibat sengatan kelabang semalam.


Kemudian ia segera sikat gigi dan berjalan menuju tenda, berniat untuk membangunkan Wina.


Apa jangan jangan yang semalam itu bukan mimpi?, tapi aku benar benar dipeluk oleh Tuan sialan itu?.


Luna diam membeku sambil memegang sikat gigi yang ada ditangannya.


Ah sudahlah, yang penting aku bangun lebih dulu darinya, gak kebayang kalau ia mengetahui kalau kakiku nemplok didadanya, haisshh!.


Luna menggelangkan kepalanya geli sendiri.


"Mbak Luna?, bagaimana kondisi kakinya?, kata Tuan, anda habis disengat kelabang tadi malam?." Tanya salah satu tim yang bernama Lucas.


"Ah, sudah mendingan kok, tapi masih sedikit nyeri." Ucap Luna sambil melontarkan senyum manisnya.


Tim itu juga membalas senyuman Luna.


Asisten Tuan sekarang benar benar ramah, tidak seperti yang dulu, sepet aku melihat sifat songongnya. Gumam Lucas.


"Mbak sedang mencari apa?, biar saya bantu." Ucapnya menawarkan bantuan, karena ia melihat Luna yang clingak clinguk seperti mencari sesuatu.


"Eh tidak apa apa kok, aku sedang mencari Wina, dia dimana ya?."


"Oh mbak Wina, tadi sih sudah bangun, terus membawa ember, mungkin sedang mencari air." Jelasnya.


"Mencari air?."


"Iya mbak, tidak jauh dari sini ada sungai, yang kebetulan airnya bisa buat untuk memasak dan yang lain."


"Oh baiklah, saya akan menyusulnya, terimakasih ya." Luna membalikkan badannya dan berjalan kearah pohon besar yang ditunjuk Lucas tadi tentang keberadaan sungai.


"Tapi mbak, sebaiknya tunggu saja disini, kaki mbak juga masih sakit." Ujarnya khawatir.


"Enggak kok, kaki saya bisa diajak kompromi, sekalian juga saya ingin berolahraga sebentar."


"Baiklah kalau begitu, hati hati mbak Luna."


Luna membalas dengan senyuman.


..

__ADS_1


Luna berjalan menyusuri jalan setapak yang ada di sisi pohon besar itu. Ditengah perjalanan ia bertemu dengan seekor kelinci, mengingat Luna suka dengan hewan lucu itu. Ia pun menghampiri kelinci itu, namun kelinci itu malah kabur.


"Ehh kelincii, mau kemana?, tunggu aku!." Teriak Luna pada kelinci kecil berwarna putih itu.


Ia mengejar kelinci itu yang semakin menuju ke tengah hutan, Luna berlari dengan langkah yang tertatih tatih, ia terlalu senang menemukan binatang kesukaannya itu. Sampai tak lama kemudian kelinci itu menghilang dari pandangannya. Ia baru tersadar langkahnya yang kini sudah menjauh dari jalur yang menuju ke tempat perkemahan, karena terlalu fokus mengejar kelinci itu.


"Oh tidak!, aku sudah semakin jauh dari jalur setapak tadi, sekarang aku ada dimana?." Luna mengedarkan pandangannya, yang didepannya hanyalah pohon pohon tinggi dan rerumputan liar dan tidak ada akses jalan keluar dari sana.


Gawat, aku harus bagaimana sekarang.


..


Disisi lain, Ran sudah bangun dari tidurnya, terlihat titik titik merah dipipinya karena gigitan nyamuk semalam. Ia keluar mobil untuk mencari keberadaan Luna yang sudah menghilang dari tempat tidurnya.


"Dimana gadis itu, dia harus meminta maaf padaku karena dia sudah menendangku." Ia berjalan menuju tenda, ia berfikir Luna ada disana.


Dimana dia?.


Ia pun keluar tenda dan mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dicarinya itu.


"Selamat pagi Tuan." Ucap Lucas yang melihat Ran berdiri didepan tenda tim.


Ran hanya menganggukkan kepalanya.


"Tuan mencari siapa?."


"Ah, kau lihat asisten perempuanku tidak? ."


" Oh, mbak Luna."


Ran mengangguk cepat.


"Tadi katanya mau nyusulin mbak Wina kesungai Tuan?."


Ran mengerutkan dahinya. "Ke sungai?."


Tak lama muncul Wina, dari belakang tenda sambil membawa ember berisi air.


"Ini mbak Wina!." Ujar Lucas sambil menujuk Wina.


Wina yang merasa kedatangannya sepertu tengah dinanti itu pun hanya bengong.


"Ada apa Tuan?. Anda mencari saya?." Menurunkan ember airnya.


"Dimana Luna?."


"Kak Luna?." Sambil dengan wajah kebingungan.


Ran heran kenapa Wina menunjukkan ekspresi seperti itu.


"Loh bukannya kamu tadi disusulin sama mbak Luna?." Tanya Lucas panik.


"Enggak tuh, saya gak lihat kak Luna menyusul saya Tuan." Ran sedikit cemas.


Ran memijat dahinya. "Dimana sungai itu?." Sambil menunjuk Wina.


"Disana Tuan." Wina sambil menunjuk kearah jalan yang di sisi pohon besar itu.


Pohon itu.


"Trus siapa yang tau kalau Luna kesana?." Mulai dengan nada dingin.


"Saya Tuan, tadi saya sudah memperingatinya tapi mbak Luna kekeh mau nyusulin mbak Wina." Lucas sudah mulai ketar ketir karena melihat Wina yang pulang tanpa Luna.


"Haisshh!!!" Ucapnya dengan menghela nafas kasar.


Pergi kemana dia?.

__ADS_1


..


Jangan Lupa komen, vote, dan like ya... Biar semangat terus buat update nya nih❤️🤗


__ADS_2