Istriku, Asisten Pribadiku

Istriku, Asisten Pribadiku
Episode 37


__ADS_3

2 Minggu sudah berlalu, pernikahan Ran dan Luna semakin dekat. Berbagai persiapan sudah dilakukan sedetail mungkin, dari mulai gedung, catering, undangan dan segala persiapan lainnya. Tak lupa juga beberapa artis yang ada di agency itu pun turut serta meramaikan acara pernikahan pimpinannya. Semua orang antusias menyambut kabar bahagia ini. Berbagai elemen masyarakat berlomba lomba untuk mendoakan pasangan ini. Apalagi para pegawai dan karyawan di perusahaannya, kini mereka masih tak menyangka bosnya yang dingin dan kaku itu akan menikah. Tak lama setelah Ran mempublikasikan kabar pernikahannya, media pun ramai membuat tagar.


#CeoRawnEntertaimentMenikah


#TuanZhuranMenikah


#ZhuranMerried


"Tuan tampan itu akan menikah! aku jadi cemburu!"


"Siapapun wanita yang menjadi istrinya bilang pada suamimu itu, dia adalah semangatku!"


"Hari patah hati massal nih!"


"Wah beruntung sekali istrinya itu!"


"Aku iri, aku bilang!😭"


"Yah gak bisa halu lagi deh, sekarang udah punya pawang😣"


Beragam komentar pun ramai bercuit di tagar yang sedang hangat itu bahkan tak sedikit banyak cuitan yang cukup menggelitik yang dituliskan para penggemar CEO tampan itu. Kebanyakan para wanita yang melampiaskan kecemburuannya karena pria yang di idam idamkan itu akan segera memiliki istri. Tak heran banyak pula orang orang yang ingin melihat secara langsung prosesi sakral itu. Namun pihak keluarga Ran membatasi akses di gedung mewah yang ada dipusat kota. Karena tidak sembarang orang bisa hadir di pesta yang diselenggarakan sangat megah itu nantinya.


Saat ini pihak perusahaan memberi bocoran mengenai calon istri CEO Rawn Entertaiment itu hanya sebatas nama saja. Para penggemar dan masyarakat pun bertanya tanya siapa sosok Luna yang beruntung mendapatkan hati Ran.


..


Di apartemen.


Sabrina tak henti hentinya menangis dan memegang sebuah bingkai foto dimana ia tengah berfoto dengan Ran disaat mereka menghadiri sebuah ajang penghargaan. Ia mengelus dan memeluk erat foto itu dengan suara isak tangis yang terus terdengar.


"Kau tega sekali Ran, aku fikir selama ini kau bisa membuka hati sedikit demi sedikit untukku, tapi apa? kau malah dengan mudahnya menikah dengan perempuan lain? kau kenapa? bukannya kau benci dengan pacaran? tapi kenapa sekarang kau malah akan menikah ha?" Gumaman terus terdengar dari mulut Sabrina yang sudah mulai bengkak.


"Aku sudah mengorbankan waktuku demi bersamamu Ran, aku sudah lama menyukaimu, bahkan semenjak pertama kali bertemu aku sudah menyukaimu." Kembali menunduk dengan posisi lutut yang tersingkap.


..


Di sebuah koridor kampus.


Seorang laki laki tampan berjalan santai dengan gagahnya, menggunakan pakaian serba hitam. Yang terlihat beda hanyalah kaos dalaman berwarna putih yang ada dibalik hoodienya. laki laki itu menenteng tas ranselnya dengan satu tangan, yang membuat aura nya semakin terlihat keren.


Semua mata tertuju padanya, apalagi para wanita wanita yang sebelumnya hanya fokus didepan laptop sekarang ikut ikutan membulatkan matanya melihat pemandangan seorang laki laki yang berjalan didepan mereka.


"Ampun deh tuh cowok ganteng banget gila!!"


"Dia mahasiswa transferan kan? kayaknya baru pertama kali lihat deh!"


"OMG helloo!! wahai mas mas ganteng, lihatlah suatu saat aku akan menjadi kekasihmu." Sambil mengangkat tangannya menunjuk punggung pria yang baru saja melewatinya.


Disaat itu bersamaan pula dengan gadis cantik yang ada dibelakang pria tampan itu, berjalan menuju kelas yang sama. Gadis itu duduk disebelah mahasiswa transferan yang tadi sempat membuat heboh koridor kampus.


Melirik sekilas kedatangan gadis disampingnya.


"Hai? Kamu mahasiswa transferan dari kampus B itu ya?" Tanyanya sambil memberikan senyum tipis.


"Hemm" Hanya menjawab singkat

__ADS_1


"Oh kenalin nama aku Sabrina, nama kamu siapa?" Sambil menyodorkan tangannya.


Namun pria itu tidak menjawab, ia asyik dengan ponselnya. Sabrina mengeryitkan dahinya, karena tangannya yang tak terbalas dan perlahan menarik tangannya kembali.


"Zhuran." Tiba tiba saja laki laki itu menyebutkan namanya. Sabrina menoleh lagi. "Oh, nama kamu Zhuran?". Laki laki itu diam lagi.


Nyebelin banget sih, untung ganteng.


"Oh ya, semoga kamu betah ya disini, kita bisa sharing dan mengerjakan tugas bersama, aku akan membantumu."


"Hemm."


Sabrina mengelus dadanya sendiri setiap mendengar tanggapan cuek laki laki disampingnya itu.


Setelah mata kuliah selesai, Ran segera beranjak keluar kelas, dengan cepat ia memasukan buku bukunya kedalam tas. Melihat Ran yang meninggalkan kelas, Sabrina dengan terburu buru membereskan barang barangnya dan menyusul Ran.


"Eh Zhuran! tunggu aku!" Sambil tergopoh memegang bukunya yang belum sempat ia masukan kedalam tas.


Ran hanya menoleh sekilas gadis disebelahnya yang terengah engah karena mengejarnya.


"Lain kali panggil aku Ran saja, jangan Zhuran." Sambil terus berjalan.


"Memangnya nama lengkap kamu siapa?"


Ran hanya menatapnya dingin. Sabrina langsung tertunduk diam. "Jangan terlalu kepo!" . Sabrina langsung memanyunkan bibirnya.


Dari parkiran, mereka dikejutkan dengan gerombolan para mahasiswi yang ada di depan samping kanan kiri mobil milik Ran. Ran terhenti dan mengerutkan dahinya bingung. "Ada apa ini?"


Sabrina juga tak kalah bingungnya. "Kenapa dia berhenti dan memasang muka seperti itu." Melihat Ran menatap mobil didepannya. "Oh apa mungkin itu mobilnya?".


Para gadis gadis itu langsung menghentikan langkahnya. "Eh lo ngapain sih! minggir!". Ucap salah seorang gadis cantik yang sedikit lebih pendek dari Sabrina.


"Eh lo semua yang minggir! Ran risih ngeliat kalian!" Celetuk Sabrina dengan nada kesal.


"Apaan sih, orang mau kenalan juga!"


"Oh jadi namanya Ran??" Ujar salah satu dari mereka.


"Hai Ran, boleh kenalan gak?"


Lagi lagi Sabrina menoleh ke wajah Ran yang menunjukkan ekspresi kurang nyaman. "Eh kalo mau kenalan jangan rusuh gini dong! ganggu tauk."


Mendengar Sabrina terus mengoceh dan menghalanginya, Celine, salah satu mahasiswi disitu pun maju dan hendak mendorong Sabrina.


"Banyak bacot lo, minggir!". Namun ketika Celine hendak mendorong tubuh Sabrina, tangannya di cegah oleh Ran. Dan malah mendorong Celine dan hampir mengenai mobil disebelahnya.


"Aww sakit!"


"Kalian semua yang minggir! jangan menghalangi jalanku!" Ran mendengus kesal dan berjalan menuju mobilnya dan mengacuhkan gadis gadis di depannya.


"Ran tunggu!" Ucap Sabrina sambil berlari menyusul Ran.


"Ih aura badboy banget"


"Iya, semakin tertantang buat deketin dia."

__ADS_1


"hhh gadis sialan!" Menatap tajam punggung Sabrina.


"Eh Ran tunggu dulu!" Menahan pintu mobil Ran. Ran menatap dingin. "Eum makasih ya tadi udah nyelametin aku?" Sambil memberi senyum simpul.


"Jangan lebay, aku tidak menyelamatkanmu, aku hanya ingin jalanku tidak dihalangi."


//Jleb


Muka memerah. "Ah, gitu ya. eum Ran apa boleh aku numpang padamu? mobilku tadi ada di bengkel karena ban belakangku ada masalah👉👈"


Lagi lagi Ran tidak menjawab, dan mendorong pelan tubuh Sabrina, dan masuk kedalam mobilnya.


Ihh nyebelin banget si,


kalau gak boleh ya bilang dong,


jangan dicuekkin mulu napa!


"Masuklah!" Ran membuka kaca mobilnya dan menyuruh gadis itu masuk.


"Boleh ni?" Dengan wajah berbinar.


"Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran."


"Baiklah". Sabrina langsung berlari kecil dan masuk kedalam mobil.


..


Sebulan, dua bulan, tiga bulan, telah berlalu. Akhirnya Ran sudah mulai sedikit melunak dan mulai terbiasa dengan kehadiran Sabrina. Karena disatu sisi ia juga tidak mempunyai teman sama sekali, karena kemampuan bersosialisasinya kurang dan akibat trauma masa lalunya yang membuat ia malas untuk mencari teman baru. Selama ini Sabrina dengan telaten membantu Ran, dari mengajak kerja kelompok, membeli alat penelitian dan sering pulang bareng, bahkan mereka dianggap mempunyai hubungan special dengan para mahasiswi lainnya. Hal itu tentu saja membuat Sabrina merasa puas, dan menang karena berhasil merebut perhatian pria dingin dan cuek itu. Bahkan cenderung sangat dekat.


Tiba saatnya diwaktu kelulusan mereka. Ran dan Sabrina berhasil lulus dengan nilai tinggi alias Cumlaude. Hal itu membuat pak Roy, Papa Ran semakin yakin akan menyerahkan perusahaannya itu ke tangan anak bungsunya. Sesuai dengan janji Papanya dulu yang mengatakan kalau disaat Ran lulus dengan nilai terbaik, maka perusaan label Rawn Entertaiment akan diserahkan padanya. Karena Papanya sedikit ragu untuk menyerahkannya pada Rama, karena Rama dari dulu tidak pernah tertarik dalam dunia bisnis, ia lebih suka bersenang senang dengan profesinya sebagai model diluar negeri.


Saat itu Ran memikirkan bagaimana ia akan mengurus semua ini sendiri, ia butuh seseorang yang membantunya. Namun orang yang ada dipikirannya saat itu masih belum menyelesaikan studinya diluar negeri.


"Ya bagaimana lagi, tugas akhirku saja belum selesai Ran, aku tidak bisa pulang ka tanah air sebelum aku wisuda" Ujar seseorang yang ada di ujung telfon.


"Payah kau Yao! Lantas siapa yang akan membantuku mengurus perusahaan Papa? kau taukan kalau Papa sudah menyerahkan sesuatu, dia tidak akan ikut campur lagi?"


"Bukannya kau pernah cerita padaku kalau kau mempunyai teman perempuan? dan kelihatannya dia pintar dan cukup cekatan Ran."


"Maksudmu Sabrina?"


"Ya, bukannya dia juga lulus dengan predikat cumlaude sama denganmu?."


"Iya sih. Tapi Yao, aku risih kalau selalu berurusan dengan wanita itu ribet Yao, apalagi dia orangnya sedikit heboh." Ucapnya ketus.


"Sudahlah, sampai kapan kau terus seperti ini, anggaplah kau berbalas budi karena selama ini dialah yang membantumu."


Mendengar penuturan Yao, Ran terdiam sejenak. Ada benarnya juga, selama ini juga prestasi dan kemampuan Sabrina tidak usah diragukan lagi.


Sejak saat itu Sabrina menjadi Asisten pribadi seorang Tuan Ran saat memulai awal karirnya menjadi CEO Rawn Entertaiment.


..


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa vote, komen dan like nya ya temen temen🤗❤️


__ADS_2